hit tracker

Salam Online

Astaghfirullah, Menkes Baru SBY Ingin Remaja Mudah Mendapatkan Kondom! Memangnya Sekarang Sulit?


JAKARTA (salam-online.com): Menteri Kesehatan SBY yang baru dilantik, Dr Nafsiah Ben Mboi, Kamis (14/6/2012) menggelar jumpa pers. Tak ada program baru yang disampaikan. Tetapi ia berharap dapat melakukan gebrakan. Gebrakannya, agar remaja dipermudah aksesnya untuk mendapat kondom.

Sudah bisa ditebak, maksud Ibu Menkses ini agar para remaja yang melakukan hubungan seks dini, tanpa nikah, aman saat berhubungan seks. Dengan kata lain, aman berzina, tanpa berisiko tertular penyakit HIV/AIDS dan tanpa khawatir pula akan hamil. Parah!

Sangat disayangkan, baru saja menjabat, bukannya bikin gebrakan yang positif supaya bangsa ini sehat jasmani dan jiwanya, eh malah makin menambah peluang orang untuk berzina!

“Kita berharap bisa meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi untuk remaja. Dalam Undang-Undang, yang belum menikah tidak boleh diberi kontrasepsi. Namun kami menganlisis data dan itu ternyata berbahaya jika tidak melihat kenyataan. Sebanyak 2,3 juta remaja melakukan aborsi setiap tahunnya menurut data dari BKKBN,” kata Menkes.

Menkes melihat, angka sebanyak itu menunjukkan bahwa banyak remaja mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Ia menegaskan, Undang-Undang perlindungan anak menyatakan bahwa setiap anak yang dikandung sampai dilahirkan harus diberikan haknya sesuai UU Perlindungan Anak. Maka, mempermudah akses remaja untuk mendapatkan kondom diharapkan dapat menekan angka aborsi dan kehamilan yang tak diinginkan.

Menkes pun menepis kemungkinan pemberian kondom kepada para remaja yang belum menikah akan memicu seks bebas. Alasannya, jika pemahaman mengenai reproduksi sudah cukup baik, maka tidak perlu ada kekhawatiran idenya ini akan memicu seks bebas.

Astaghfirullah… Ini pendapat yang sangat fatal salahnya. Memangnya Ibu Menteri ini tidak tahu, yang namanya manusia, khususnya remaja, jika sudah mabok dan dilanda hawa nafsu, apa sempat mikirin reproduksi, sehingga tak berani melakukan zina karena takut hamil?

Justru dengan mempermudah mendapatkan kondom, apalagi gratis, itu sama saja dengan menyuruh para remaja, “Anak-anakku, jika kalian ingin aman, tak takut hamil, pakai saja kondom!”

Dan, aneh saja, memangnya para remaja sekarang sulit mendapatkan kondom? Kondom kan dijual di mana-mana, sangat mudah kok mendapatkannya. Lihat saja di mini market, toko-toko, apotik, dan lainnya. Mudah mendapatkannya. Jadi, mau “mempermudah” apanya lagi? Atau mau dibagikan gratis, untuk disuruh berzina?

Jika Ibu Menkes berpendapat bahwa tak usah khawatir idenya jadi mendorong seks bebas dengan cara memberikan pemahaman reproduksi sehingga—mungkin maksudnya—para remaja itu akan berpikir ulang untuk melakukan zina (lantaran takut hamil), ini pendapat yang tak mau melihat realitas akan kondisi sesungguhnya masyarakat, khususnya remaja.

Orang mau berzina yang nafsunya sudah diubun-ubun mana kepikiran akan reproduksi segala.

Dalam konteks ini mestinya Ibu Menkes membuat program untuk penyuluhan khusus para remaja agar menjauhi zina (seks bebas), menjelaskan akibat-akibat dan efek negatifnya, terutama bagi kesehatan dan masa depan, supaya ke depannya hidup mereka sehat jasmani dan rohani. Jadi, tak hanya sehat fisik, tapi juga sehat secara psikologis dan rohani. Karena, mereka, para remaja itu adalah aset dan calon pemimpin masa mendatang. Jadi, tak hanya sehat fisik, tapi juga sehat secara psikologis dan rohani.

Sekali lagi, bukannya malah didorong untuk menggunakan kondom karena takut hamil. Jika tak hamil, karena pakai kondom, itukah yang diharapkan? Mau pakai kondom atau tidak, sama saja, itu namanya zina. Itu jelas tak sehat. Tak sehat pikiran, jasmani dan rohani. Justru jasmani, rohani dan otak mesum macam ini perlu “disetrum”!

Karenanya, gebrakan Menkes baru ini perlu “digebrak”! Jika Ibu Menkes pola pikirnya seperti ini, siapa sesungguhnya yang tak sehat? Kita masih berharap, para pengelola negeri ini masih waras! (MS)

 
blog comments powered by Disqus