Lahir bukan dari Rahim Tarbiyah, Inilah ‘Aktivis Islam Sosialita’

Aktivis Islam Sosialita-2-jpeg.image–Catatan ABU MARYAM–

SALAM-ONLINE: Ada fenomena unik yang terjadi di zaman sekarang. Fenomena ini boleh jadi sudah terjadi pada masa lalu dan gejala saat ini hanyalah pengulangan dengan bentuk baru dan terjadi di waktu yang berbeda.

Fenomena itu adalah munculnya “aktivis-aktivis” Islam baru di jejaring sosial. Pada satu sisi ini adalah kabar baik, namun ternyata munculnya “aktivis” Islam baru ini menelurkan banyak catatan, yaitu fenomena munculnya “Aktivis Islam Sosialita”.

Jenis aktivis ini unik. Kesadaran mereka biasanya muncul dari aksi-aksi perlawanan terhadap musuh-musuh Islam khususnya di jejaring sosial. Pada awalnya, jenis aktivis yang tidak bisa jauh-jauh dari gadget ini cukup baik karena terkadang bisa menjadi amunisi perlawanan umat.

Namun di kemudian hari, cukup menimbulkan masalah-masalah yang serius. Jika dibiarkan akan menimbulkan masalah besar ke depan terhadap perlawanan umat itu sendiri.

“Aktivis Islam Sosialita” ini mayoritas lahir bukan dari rahim majelis ta’lim dan tarbiyah Islamiyah. Mereka cenderung belum teruji keseriusannya dalam berjuang untuk Islam. Mereka menjadi semangat karena larut dalam hingar bingar aksi jejaring sosial, pertemanan di dunia maya dan siaran pesan yang menggugah.

Masalah pun akhirnya muncul. Kebanyakan aktivis model ini kurang betah jika diajak mendalami kajian ke-Islaman yang serius. Mereka mungkin merasa cukup mendapat pengetahuan Islam dari google dan jejaring sosial. Mereka lebih betah bertahan di depan gadget ketimbang mengaji di majelis ta’lim, yang akhirnya berakibat pada ketimpangan ilmu dan amal fardiyah mereka terbuka lebar. Pengajian-pengajian yang mereka adakan tidak jauh dari sekadar seremonial kopi darat sesama pengguna jejaring sosial. Hampir tidak ada isi yang berarti.

Hal yang paling menonjol dari permasalahan yang muncul pada “Aktivis Islam Sosialita” adalah dari sisi akhlak dan tazkiyatun nufus (kebersihan jiwa) di samping pengamalan Islam secara kaffah yang menjadi pokok masalah. Kebanyakan dari mereka masih kurang dalam akhlak dan adab, serta lemah dalam pengamalan sunnah-sunnah yang utama, terlebih lagi yang furu’iyyah.

Akibatnya apa? Konsistensi (istiqomah) mereka dalam Dien ini mudah luntur, dan akhirnya di tengah jalan muncul masalah-masalah, baik perselisihan pribadi, kurangnya salamatus shodr (kebersihan hati dan lapang dada), perubahan orientasi dari perjuangan menjadi pencarian hal-hal duniawi, termasuk penyakit cinta ketenaran dan ingin dibilang pahlawan.

“Aktivis Islam Sosialita” yang semula menjadi penyokong perjuangan kini berubah menjadi pemberat beban perjuangan. Ketimpangan terjadi di sana-sini. Tidak sedikit yang kemudian “bubar jalan…” Atau minimal sekadar tinggal namanya dan kosong amalnya.

Kunci dari semua ini adalah tekunnya seorang aktivis dalam tholabul ilmi, bermajlis ta’lim dan program tarbiyah Islamiyah yang sayangnya tidak diikuti dengan baik oleh mereka. Ikatan yang terbentuk baru sekadar ikatan semangat, bukan ikatan ideologis.

Baca Juga

Sulitnya mereka diajak menuntut ilmu serius dan ditarbiyah serius di antaranya disebabkan bahwa mereka merasa sudah merasa menjadi aktivis Islam tulen, mengingat mereka memang bergaul dengan aktivis tulen produk ideologis dan bahkan bergaul dengan tokoh-tokoh Islam. Mereka merasa sudah selevel dengan aktivis Islam ideologis karena sering rapat bareng, nongkrong bareng dan aksi bareng.

Padahal hakikatnya bagai langit dan bumi. Aktivis Islam tulen sudah melalui fase pembinaan dan mereka pun tetap terus menuntut ilmu walau kadang tidak pernah terlihat, karena intensitasnya yang tidak sesering awal-awal di fase pembinaan, sementara aktivis Islam sosialita, aktif dan intensitasnya lebih sering di dunia maya, bukan di majelis-majelis ilmu.

Kita tidak mengenyampingkan sisi manfaat aksi jejaring sosial dan aksi-aksi perlawanan spontan lain yang bnyak menjaring anak-anak muda untuk ikut kegiatan perjuangan Islam, namun itu hanya tahap pra-aktivis, tahap paling awal penjaringan.

Anak-anak muda ini harus diolah lagi dan dimasukkan ke mesin produksi kaderisasi berupa pembinaan intensif ideologis secara kaffah. Sebab, mereka belum banyak tahu tentang Islam, mereka baru bangun dari tidur mereka, maka masih perlu sikat gigi, mandi, dikasih sarapan dan olahraga pagi agar segar dan siap bekerja.

Hal ini kadang luput dari kita semua. Dan bahkan ketika masalah muncul kita masih belum sadar bahwa kunci solusinya ada di ilmu, mengaji, pembinaan, Tarbiyah Islamiyah.

Sekarang kita harus sadar hal ini. Setelah mereka tersadar dan semangat membela Islam, ayo kita “seret” mereka untuk menjadi aktivis Islam tulen. Ini juga bermanfaat sebagai proses seleksi. Jika mereka memang tidak serius dan mundur, maka biarkan saja, mereka berarti memang tidak cocok jadi pejuang yang terpilih. Mereka bukan orang yang tepat menjadi tulang punggung umat guna meraih Kemerdekaan Islam.

Mari kita sadari posisi kita, apakah kita masih menjadi “Aktivis Islam Sosialita” atau sudah menjadi aktivis tulen?? Kalau sudah sadar, silakan memilih jalan dan arah yang tepat?? Islam tidak memerlukan orang yang hanya bisa jadi pemandu sorak. Islam memerlukan pemuda Robbani yang siap menanggung beban perjuangan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Semoga ulasan singkat ini bermanfaat dan menyadarkan kita semua untuk kembali meniti jalan salafussholih dalam mencetak pejuang-pejuang Islam. Wallahu a’lam.

-Penulis Adalah Pengamat Pergerakan Islam, tinggal di Jakarta

Baca Juga