Parlemen Simpanse, tidak Mewakili Rakyat

Petugas menata lukisan seniman jalanan, Banksy, yang dipajang di ruang lelang Sotheby’s, London, Jumat (27/9/2019). Lukisan dengan objek 100 Simpanse yang duduk di Parlemen Inggris bernilai ratusan miliar itu pernah menghebohkan publik. (Foto: AP/Kirsty Wigglesworth)

Catatan M Rizal Fadillah*

SALAM-ONLINE: Sindiran kepada anggota Parlemen di Inggris menarik. Mereka berpendapat dan berdebat dengan suara keras. Tapi tidak untuk kepentingan rakyat. Melainkan kepentingan sendiri atau untuk kepentingan yang tidak jelas. Sekadar memenuhi nafsu hewani. Teriak teriak seperi suara simpanse.

Kritik atas perilaku anggota Parlemen ini mewakili pendapat umum masyarakat Inggris. Sindiran itu dilukiskan oleh seniman mural jalanan, Banksy, asal Bristol, yang menampilkan anggota House Of Common Inggris sebagai para Simpanse. Dibuat memang pada 2009 yang mungkin menurutnya anggota Parlemen Inggris itu hanya banyak omong dan ribut saja.

Lukisan unik dan nyinyir ini dilelang di rumah lelang Shoteby’s London dengan harga fantastik yang jika dinilai rupiah sebesar 172,9 Miliar! Pelukis misterius ini pernah manjamu anak-anak Palestina di Betlehem dan membuat pesta permintaan maaf Inggris pada warga Palestina. Mengkritik kontribusi PM Inggris Lord Balfour terhadap pembentukan “negara Israel”.

Penggambaran anggota Parlemen dengan hewan tentu merupakan kritik atas perilaku. Meski sering disebut wakil rakyat tetapi biasanya gaya hidup dan pendapatan anggota Parlemen jauh berbeda dengan rakyat. Ia menjadi segmen elitis dalam masyarakat. Kritik keras Banksy dengan lukisan nampaknya lebih menyentuh ketimbang mungkin aksi demonstrasi. Ia gambarkan anggota Parlemen dengan kumpulan kera Simpanse.

Mugkin saja kritik lukisan Banksy dapat menginspirasi seniman di Indonesia untuk menggambarkan kelemahan anggota Parlemen. Siapa tahu ada yang melukis anggota DPR itu sebagai kumpulan Kelelawar yang gemar beraktivitas malam dan tidur di siang hari. Ini untuk menggambarkan banyak anggota dewan yang tertidur saat sidang paripurna Atau gambaran karakter politisi yang tidak berpendirian, cenderung ikut pada “pemenang”. Kelelawar memiliki “double standard” antara faksi binatang buas (moncong dan kuku) dengan faksi burung (sayap dan berkaki dua). Bergeser-geser dukungan.

Atau bisa juga melukis anggota Parlemen dengan komunitas Kodok Serasah (Leptobrachium Haseltii) yang, di samping sama suka tidur di siang hari, juga nyaring suaranya: “Waaak…waak…waak” bersahut-sahutan. Tidak mau kalah suara. Kodok hewan yang kaki depan “menyingkirkan”, kaki belakang “menendang”.

Politisi yang licik dan memikirkan diri sendiri tak peduli kawan yang harus disingkirkan dan ditendang. Kodok suka di tempat yang gelap, di semak semak, banyak sampah, atau air yang kotor. Kodok itu menjijikkan. Kalau masuk rumah pasti dikeluarkan karena jijik. Moga anggota Parlemen di semua tingkat tak suka memilki karakter seperti kodok.

Lukisan Parlemen Simpanse “Devolved Parliament” Banksy bernilai ratusan miliar rupiah. Entah jika dibuat lukisan Parlemen Kelelawar atau Parlemen Kodok bernilai berapa. Yang jelas perlu ada sindiran kuat agar parlemen kita tidak diisi oleh orang-orang yang hanya mengikuti nafsu hewani. Tidak pula yang berorientasi untuk mendapatkan harta ratusan miliar, baik dengan cara suap, memeras, komisi, ataupun korupsi.

Say it with a flower, say with a painting.

*) Pemerhati Politik

Bandung, 6 Oktober 2019

Baca Juga
awefawef95430
%d bloggers like this: