Topeng Kita di Bulan Ramadhan

(fiksi.kompasiana.com)

MUHASABAH (salam-online.com): Setiap Ramadhan tiba, sebagian kita menghadapinya dengan mengubah tampilan, sikap, perilaku. Banyak di antara kita “mengislamkan” diri dan mengubah imej yang semula dipandang buruk, menjadi bagus. Yang tadinya tak mengenakan busana muslimah, di bulan Ramadhan, berjilbab.

Hotel, restoran, televisi dan tempat-tempat yang banyak dikunjungi publik, berubah, menyesuaikan tampilan dan programnya dengan nuansa Ramadhan, yang mereka sebut “islami”.

Islam tampil dalam Ramadhan—terlepas apakah tampilan dimaksud islami atau tidak. Seakan Islam hanya berhak hidup di bulan ini. Setelah itu tak diperlukan. Ia hanya untuk konsumsi Ramadhan. Sejumlah seleb—pemain sinetron, penyanyi, dan lainnya—berterus terang akan mengubah dirinya di bulan suci ini.

Seorang penyanyi dangdut mengumumkan akan perubahan tampilannya. Ia akan mengenakan busana muslimah dan saat membawakan lagu dangdut tak kan bergoyang seperti biasanya. Tapi, ujarnya, setelah Ramadhan ia kembali seperti semula. Artinya, ia hanya “mengislamkan” dirinya di bulan Ramadhan.

Lebih ironis lagi, tak sedikit kaum Muslimin beberapa hari atau sepekan menjelang Ramadhan, justru memuaskan dirinya dengan menghamburkan uang membeli kemaksiatan. Mereka pergi, plesiran ke tempat-tempat hiburan dan tempat maksiat. Daerah-daerah wisata dengan sejumlah sarana maksiatnya seperti Bali, pusat-pusat hiburan di Jakarta, Puncak, dan sebagainya, jadi tujuan.

Kemudian, di bulan Ramadhan kita berubah menjadi manusia “shalih”: berpuasa, bangun sahur, shalat subuh, tarawih, mengenakan kopiah dan berbaju koko. Kopiah dan baju koko dianggap sebagai simbol “pakaian Islam”.

Inilah fenomena yang selalu berulang setiap tahun. Meski di antara kita ada yang mematok hanya punya niat untuk mengubah imej dan perilaku di bulan Ramadhan, tapi kita berharap mendapat hidayah, sehingga  perubahan ke arah yang lebih baik itu berlaku seterusnya, tak hanya di bulan Ramadhan.

Kita ingin momen Ramadhan tak lepas begitu saja. Kita ingin Ramadhan jadi momentum  perubahan dalam segala bidang kehidupan kita ke arah yang lebih baik.

Melihat fenomena dan kecenderungan kita yang hanya ingin “berislam” di bulan Ramadhan, tentu sangat menyedihkan. Artinya, di bulan penuh berkah ini kita hanya sekadar menahan diri (sementara) untuk tak melakukan perbuatan munkarat dan maksiat. Setelah itu kita kembali pada “fitrah” yang tak sebenarnya alias fitrah palsu.

Dengan mematok atau sekadar menahan diri untuk tak bermaksiat di bulan Ramadhan, sesungguhnya kita telah mengenakan topeng di bulan suci ini. Dan memang, bukankah banyak di antara kita selama ini hidup diselimuti topeng? Lalu, di bulan Ramadhan, kita secara utuh mengenakannya, bahkan ironisnya, di antara kita ada yang secara blak-blakan—tanpa malu—mengakui untuk mengenakan topeng itu.

Di kalangan seleb, meskipun topeng yang dipakai terkadang tak bisa juga dibilang islami, toh kesan bahwa yang bersangkutan sudah berubah menjadi “islami” terlanjur jadi konsumsi publik.  Sejumlah tayangan televisi, tak ketinggalan, berlomba-lomba  ingin menampilkan kesan “islami”. Acara menjelang sore dan maghrib menyuguhkan tayangan “bernapaskan” Islam. Menjelang sahur dan subuh sederet artis dan pelawak muncul memandu dan mengisi acara “Islam”.

Dengan tak menafikan niat baik para penyelenggara program tersebut,  sesungguhnya “tanda petik” untuk kata Islam dan islami, tak bisa dihindari. Pasalnya, sulit untuk memungkiri sejumlah tayangan tersebut keluar dari koridor Islam.  Goyang dangdut—rame-rame di akhir acara—dengan penyanyi yang dibalut jilbab, misalnya,  seakan jadi tren, dan tentu saja tak sejalan dengan Islam. Itu sekadar contoh. Content, tampilan dan kemasan lainnya,  juga susah disebut islami.

Alhasil bukan hasil baik yang didapat. Sudah bersusah-payah untuk mengenakan topeng, toh topeng-topeng yang ditampilkan tak bisa disebut islami. Sungguh merugi. Tak ada tempat kehidupan bagi orang-orang yang merugi, selain jahanam.

Allah berfirman, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, keuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling manasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya tetap dalam kesabaran,” (QS. al-‘Ashr).

Orang-orang sukses (beruntung) adalah mereka yang kelak memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, kaum merugi adalah yang ditempatkan di neraka-Nya. Mereka adalah orang-orang yang terperdaya dengan kehidupan dunia. Dikesankan, seolah mereka sukses dalam mengarungi hidup, padahal hakikatnya tidak. Definisi sukses menurut Allah berbeda dengan kita.

Allah berfirman, “… Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sesungguhnya ia telah beruntung (sukses). Kehidupan dunia itu tak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan,” (QS. Ali Imran: 185).

Sehebat dan sebagus apapun tampilan dan produk yang kita buat, tapi jika tidak dalam rangka amal shalih (baik) dan menegakkan yang benar (haq) disertai ridha-Nya, di mata Allah sesungguhnya tak punya nilai apa-apa.

Kita boleh saja mengaku berhasil dalam pekerjaan (profesi) dan bisnis, tapi kalau bukan dalam rangka taat kepada Allah dan menegakkan ajaran-Nya, sungguh tak berarti. Apalagi kemudian, “syi’ar” yang ingin kita tampilkan di bulan mulia ini hanya sekadar “aktivitas penyesuaian” dalam rangka Ramadhan. Setelah Ramadhan berlalu, kita buka kembali topeng kita. Kita sesuaikan kembali tampilan keseharian kita dengan sikap dan perilaku yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Demikianlah, Ramadhan sekadar kita jadikan sebagai “pelabuhan” make up dan topeng kita. Di bulan ini, sebagian kita hanya sekadar transit, sejenak, seakan mengikuti arus Islam.  Ramadhan telah mengubah suasana keseharian kita, sesaat.

Tentu, kita tak ingin putus harapan. Kita berharap, ada “keajaiban” bernama hidayah di Ramadhan tahun ini, sehingga topeng-topeng itu tak lagi membungkus wajah dan tubuh kita.

Karenanya, jadikanlah momentum Ramadhan kali ini untuk mengusir topeng-topeng nifaq (kepura-puraan) itu dari dalam jiwa dan hati kita. Sungguh, sikap dan perilaku munafiq, yang sarat dengan topeng, telah membebani hidup kita yang sudah berat.

Tiga ciri (sifat) kaum munafiq, sebagaimana diungkap Rasulullah saw: pertama, jika diberi amanat, ia khianat. Kedua, jika berjanji, ia ingkar. Ketiga, jika berkata, banyak bohongnya—bahkan kebohongan itu diungkap dan digelar secara kolektif, tanpa malu.

Sinyalemen Rasulullah saw tentang ciri-ciri orang munafiq, yang demikian terkenal ini, semoga saja mampu mengingatkan dan menyiram hati kita, sehingga tak ada lagi topeng-topeng yang membaluti wajah dan tubuh kita. Dan, Ramadhan depan, kita bebas dari topeng. Semoga.

Baca Juga
awefawef5685
%d bloggers like this: