Demonstrasi ‘Mesir Melawan Kudeta’ Terus Bertahan

Mesir-Demonstran-jpeg.imageKAIRO (SALAM-ONLINE): Demonstrasi besar-besaran yang digelar massa pendukung Presiden Mursi dengan tema “Mesir Melawan Kudeta” terus bertahan.

Demonstran bergerak usai shalat Jum’at dari 32 kantong massa dan masjid-masjid yang ada di Ibukota (Kairo) menuju beberapa titik demonstrasi, di antaranya lokasi Rab’ah el Adawiyah, Nahda Square, Ramsis dan beberapa titik lainnya.

Selain itu di berbagai provinsi luar Kairo aksi serupa juga berlangsung, rakyat turun ke jalan mengutuk kudeta berdarah yang dilakukan oleh militer.

Sementara itu Dewan Kementerian Mesir masa transisi pada Rabu (31/7/2013) lalu telah menurunkan mandat kepada Kemendagri—yang membawahi kepolisian—untuk membubarkan demonstran di Rab’ah al Adawiyah dan Nahdah Square serta di beberapa tempat lainnya. Rezim palsu menganggap aksi demonstrasi sudah menjadi ancaman “terorisme”.

Namun pihak demonstran sepertinya tidak gentar dengan ancaman ini. Sebagaimana pernyataan Aliansi Nasional Pro Legitimasi dan Anti Kudeta kemarin bahwa demonstran tidak akan meninggalkan lapangan sebelum tuntutan mereka dipenuhi, kembalinya legitimasi Presiden Mursi dan diaktifkan kembali UUD 2012 serta Parlemen yang dibubarkan beberapa waktu lalu.

Terlihat kali ini demonstran lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Mereka sudah menyiapkan topeng darurat yang dibuat dari botol kemasan air mineral dan gelas-gelas plastik untuk mengantisipasi serangan gas air mata oleh aparat kepolisian. Bahkan mereka juga telah memagari wilayah sekitar demonstrasi dengan tumpukan karung berisi pasir sebagai benteng perlindungan dari tembakan peluru aparat dan preman, belajar dari insiden pambantaian pekan lalu.

Sementara itu Grand Syaikh Al Azhar, Prof Dr Ahmed Tayeb kembali menekankan penolakannya terhadap penggunaan kekerasan sebagai solusi konflik. Grand Syaikh menyatakan bahwa pemerintah berkewajiban menjaga keamanan seluruh kekuatan politik dan rakyat Mesir.

Baca Juga

Grand Syaikh menekankan bahwa seluruh rakyat Mesir berhak melakukan unjuk rasa secara damai. Maka solusi untuk keluar dari konflik ini, menurut Grand Syaikh, adalah duduk bersama, musyawarah mencarikan solusi, bukan kekerasan.

Di lain sisi perseteruan yang kian meruncing antara dua kekuatan Pro Legitimasi dan Pro Kudeta menimbulkan munculnya kekuatan baru poros tengah yang menamai dirinya “Massa Ketiga”.

Massa ini digagas oleh sekelompok liberal, golongan kiri dan beberapa kalangan yang mengklaim dirinya sebagai “Islam moderat”. Mereka berupaya memunculkan suara baru menentang dua kubu yang sedang bertikai dan berupaya menjauh dari dua kekuatan ini.

Namun kekuatan “Massa Ketiga” ini menurut beberapa pengamat tidak akan mendapat banyak dukungan karena  wujud dan arah pro-kontra yang ada saat ini sangat jelas.

Adapun pihak Pro Mursi tidak mempermasalahkan jika ada kelompok lain yang juga menentang Mursi, yang penting selama mereka tidak mengkhianati revolusi dengan menyerahkan kekuasaan pada militer. Menurut mereka keberadaan kelompok ini akan semakin memperbanyak barisan penentang kebijakan militer. (chan/har/sinai online)

salam-online

Baca Juga