Belajarlah dari Kekeliruan Memilih Presiden Sebelumnya


Jokowi dan Megawati-jpeg.image

Ketua Umum PDIP Megawati dan Jokowi

SALAM-ONLINE: Indonesia tahun ini kembali akan mengadakan pemilu legislatif dan pilpres. Para caleg dan bahkan kandidat capres bermunculan sejak tahun-tahun lalu. Survei politik pun seperti biasanya merilis parpol dan capres dengan tingkat kepopuleran dan elektabilitasnya.

Adalah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang oleh sejumlah lembaga survei digadang-gadang sebagai kandidat capres dengan tingkat elektabilitas paling tinggi, mengalahkan Megawati, Prabowo, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, dan lainnya.

Namun publik sama-sama tahu, bahwa sesungguhnya Jokowi sebelum pilgub DKI telah berjanji akan menuntaskan masa jabatannya sebagai gubernur jika terpilih, jadi warga Jakarta jangan ragu untuk memilih dia bersama pasangannya, Ahok. Publik percaya itu, sehingga banyak yang tergiur dengan janji dan tekad mantan Walikota Solo tersebut.

Namun Janji Jokowi itu dilanggarnya sendiri. Orang nomor satu di DKI yang belum dua tahun menjabat gubernur itu dan menjawab bahwa dia sedang fokus dengan jabatan gubernurnya untuk lima tahun (jika ditanya wartawan soal kemungkinan dia jadi capres), ternyata menerima usungan dari partainya, PDIP, sebagai capres 2014-2019 mendatang. Sumpah serapah warga Jakarta tak pelak menghiasi pemberitaan berkaitan dengan pencapresannya.

Tak dipungkiri, memang kecenderungan publik yang digambarkan oleh lembaga survei, terlepas benar tidaknya hasil survei itu, telah menggiring opini publik untuk secara massif memilih Jokowi sebagai presiden—persis seperti dukungan kepada SBY 10 tahun lalu untuk menjadi presiden.

“Demam” SBY ketika itu benar-benar merasuk, apalagi kaum ibu, yang beranggapan seakan hanya SBY yang dapat membenahi republik ini. Namun, setelah SBY terpilih, sebagian besar pemilihnya harus kecewa, lantaran sosok yang dieluk-elukan ternyata tak sesuai harapan publik.

Periode pertama SBY menjabat masih terbantu oleh sosok sang Wapres Jusuf Kalla, tetapi di periode keduanya, SBY benar-benar terpuruk, karena wapres pendampingnya tak seperti Jusuf Kalla yang mampu menggantikan dan mengisi kelambanan dan kelemahan SBY.

Kini, “demam” Jokowi—terutama oleh para pendukung dan fans fanatiknya—tak beda pada saat SBY diusung sebagai capres.

Begitulah sebagian besar masyarakat kita. Mungkin lantaran harapan yang begitu besar terhadap sosok yang didukungnya, sehingga kerap memberi dukungan yang membabi buta, tanpa mengukur kemampuan figur yang didukung.

Sudah seharusnya masyarakat pendukung Jokowi, belajar dari pengalaman saat memilih SBY sebagai presiden. Kekecewaan besarlah yang didapat akibat terlalu banyak berharap dengan calon yang didukungnya tanpa melihat dan mengukur kemampuan orang yang didukung.

Dalam kasus Jokowi sebenarnya kita sudah sama-sama tahu, bagaimana dia memimpin ibu kota. Konsep dan cara Jokowi menyelesaikan masalah, publik sudah tahulah. Berbeda dengan SBY yang kala itu publik belum banyak yang tahu jika dia memimpin, Jokowi, bukankah kita sudah sama-sama tahu?

Karena itu, jangan ulangi kekeliruan yang sama sebagaimana pengalaman saat memilih SBY jika memang tak ingin kembali menelan pil pahit kekecewaan. Sekali lagi, belajarlah dari kekeliruan memilih presiden sebelumnya. Jangan ulangi kekeliruan serupa dengan memilih figur secara membabi buta tanpa melihat kemampuan sosok yang akan diusung.