Musibah, Teguran Allah


Beginilah Cara Allah Menegur Kita-1-jpeg.imageSALAM-ONLINE: Musibah dan bencana datang secara beruntun silih berganti melanda negeri ini. Kapal tenggelam, pesawat jatuh atau hilang, gempa, gunung meletus, banjir, longsor, kebakaran, tabrakan kereta, kecelakaan bus/mobil/motor, dan sebagainya, tiada henti melanda negeri. Mengapa bencana demi bencana terus menimpa? Sebagai orang beriman, sudah sepatutnya mengambil pelajaran berharga dari kejadian-kejadian ini.

Di zaman Khalifah Umar bin Khaththab,  pernah terjadi bencana berupa gempa yang menimpa salah satu daerah yang dipimpinnya.

Khalifah Umar pun mengunjungi daerah yang tertimpa gempa tersebut. Tetapi yang sangat berbeda dengan para pemimpin sekarang adalah perkataan yang dilontarkan oleh beliau.

Khalifah Umar berkata, “Wahai rakyatku, dosa besar apakah yang kalian lakukan sehingga Allah menimpakan azab seperti ini?!”

Sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa perkataan seperti itu sangatlah kasar dan kurang berkenan, apalagi kepada orang yang sedang tertimpa musibah. Tetapi, Khalifah Umar berkata demikian bukanlah tanpa sebab. Umar bin Khaththab lebih mengajak rakyatnya agar mengintrospeksi diri, dan inilah yang seharusnya kita lakukan.

Dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 109, Allah berfirman: “Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat KEBAIKAN.”

Kemudian dalam Surat Al-Qashash ayat 59: “… dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan KEZALIMAN.”

Lalu dosa besar apa yang telah dilakukan, sehingga Allah menimpakan bencana beruntun ini? Yang paling kelihatan dan mencolok adalah dosa syirik (menyekutukan Allah).

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’,” (QS Luqman: 13). Jadi, perilaku syirik adalah sebuah kezaliman.

“… Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi,” (QS Az-Zumar: 65).

Orang yang melakukan dosa syirik, selain amalannya dihapus semua oleh Allah, juga tidak diampuni oleh Allah. Dalilnya bisa kita lihat dalam surat An-Nisa ayat 48:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah membuat dosa yang besar.”

Dan perbuatan syirik merupakan suatu KEZALIMAN yang besar. Hal ini disebutkan dalam QS Luqman ayat 13 : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah nyata-nyata kezaliman yang besar’.”

Dan ini sangatlah sesuai jika kita kembali ke surat Al-Qashash ayat 59:
“… dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan KEZALIMAN.”

Jadi jangan heran jika Allah menimpakan azab pada penduduk yang telah berbuat kezaliman, yakni, salah satunya dengan  melakukan perbuatan syirik (menyekutukan Allah).

Selain dosa syirik, petaka dan bencana melanda, lantaran kemaksiatan yang makin merajalela dan menggila! Korupsi, suap menyuap, jual beli hukum, narkoba, minuman keras, judi, perzinaan, hura-hura, foya-foya, dan perbuatan sia-sia lainnya—yang menyebabkan lalai dari mengingat Allah.

Apalagi di pengujung tahun, biasanya banyak orang yang lalai dan larut menggelar pesta semalam suntuk, meniup terompet, menyalakan kembang api yang menghabiskan (membuang/memubazirkan) uang yang tak sedikit, hingga ramai-ramai melakukan maksiat seperti menenggak miras, berzina, dan sebagainya.

Sarana-sarana di pengujung tahun untuk melalaikan manusia kepada Allah telah dipersiapkan. Konser musik, Festival Night, Gebyar Akhir Tahun, dan lainnya sengaja dipersiapkan untuk hura-hura meninggalkan tahun lama, menyambut tahun baru. Sejumlah stasiun televisi tayangannya makin tak bermutu, hura-hura, meramal ini itu, menampilkan para dukun, untuk melengkapi dosa-dosa besar sebelumnya.

Orang-orang yang suka hura-hura, foya-foya, adalah mereka yang lalai dan lupa kepada Allah, sekaligus mereka tak memikirkan atau melupakan masa depan mereka…Meskipun, katanya, mereka yang merayakan akhir tahun itu berharap kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya, namun nyatanya mereka menyimpan suatu kemurkaan Allah.

Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman agar memperhatikan hal ini demi masa depan mereka yang lebih baik. Jangan seperti orang-orang yang lalai itu, orang-orang yang melupakan Allah, yang gemar melakukan perbuatan syirik dan maksiat. Mereka adalah yang tidak memperhatikan masa depan mereka, tidak pernah berinvestasi untuk hari akhir mereka. Sebaliknya mereka lebih gemar mendefisitkan bahkan menghapus amal kebaikan mereka dengan menumpuk dosa—baik dosa-dosa besar maupun dosa yang tak diampuni (perbuatan syirik).

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengatahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik,” (QS Al-Hasyr: 18-19).

Karenanya, untuk muhasabah (introspeksi) mari kita cermati saja kesalahan apa yang kita lakukan sehingga banyak terjadi bencana di Nusantara ini. Beginilah cara Allah menegur dan mengingatkan kita yang banyak bergelimang dosa. Ini juga sebagai wujud kasih sayang Allah untuk mengingatkan kita agar kembali ke Jalan-Nya.

Marilah kita renungi bersama dosa-dosa yang telah kita lakukan, dari dosa (maksiat) sampai syirik kepada Allah. Jangan sampai Allah menimpakan azab-Nya yang lebih keras lagi. Dan semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang amat berharga dari setiap bencana dan musibah yang tengah menimpa negeri ini.

Musibah harus kita pahami sebagai bentuk teguran Allah kepada Hamba-hamba-Nya, agar mereka sadar dan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya. Musibah terjadi lantaran ulah manusia itu sendiri.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” (QS Asy-Syuura: 30).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam memiliki kesalahan (dosa). Dan sebaik-baik orang yang bersalah, adalah mereka  yang bertaubat (kembali ke Jalan Allah),” (HR Tirmidzi).

Dan, jangan salah, musibah bagi orang-orang beriman juga adalah sebagai bukti bahwa Allah masih sayang kepada hamba-hamba-Nya tersebut. Maka, agar jangan berlarut-larut dan menumpuk dengan kesalahan dan dosa, Allah menegur kita, dengan memberi hukuman (sanksi) di dunia ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia dan jika Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya niscaya Allah akan mengakhirkan hukuman atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak,” (HR Imam Tirmidzi). (ISA)