Duh, Buku Rujukan Syiah Ini Jadikan Keledai ‘Perawi Hadits’

–Catatan: TARDJONO ABU MUAS-

Al-Kaafi-4-ushul-jpeg.image
Ushul Kaafi

SALAM-ONLINE: Di antara Lelucon yang menjadi Sub Judul Pertama dari buku berjudul ‘Banyolan Syiah’ adalah ‘Periwayatan Keledai’.

Ditulis oleh Firanda Andirja Abidin, Lc, MA, buku ini terdiri atas 33 Koleksi Dongeng & Lelucon Para Dukun Syiah.

Pada bab Mukadimahnya, meski Firanda mengakui ketidakmampuannya dalam menelaah seluruh buku akidah Syiah, mengingat keterbatasan waktu dan ilmu, namun apa yang penulis kumpulkan dari berbagai makalah dan karya ilmiah para ulama dan da’i yang kemudian ia kemas dalam sebuah buku yang hadir di hadapan sidang pembaca, rasa-rasanya sudah cukup untuk menggambarkan “kebodohan” Syiah.

Pada bab 1 tentang ‘Periwayatan Keledai’ yang dinukil dari buku dongeng Al-Kaafi yang merupakan buku rujukan utama kaum Syiah disebutkan: “Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) menyebutkan bahwa hewan yang pertama kali meninggal saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat adalah ‘Ufair (himar/keledai tunggangan Nabi). Ia memutuskan tali kekangnya, lalu berlari hingga mendatangi sumur bani Khutmah di Quba’. Lalu ia pun melemparkan dirinya dalam sumur tersebut sehingga jadilah sumur tersebut kuburannya.

Konon, diriwayatkan juga oleh Amirul Mukminin (‘Alaihis-salaam), ia berkata: “Sesungguhnya keledai itu berkata kepada Rasulullah: Demi ayah, engkau, dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah meceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya, bahwa ia pernah bersama Nuh di dalam perahu. Maka Nuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda, Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai Keledai itu’,” (Buku Dongeng Ushul Al Kaafi I/293 dengeng ke-9).

Silakan perhatikan dengan seksama tentang dongeng keledai yang tertera dalam periwayatan di atas, seekor keledai telah memerankan diri layaknya seorang perawi hadits dengan menggunakan lafazh haddatsanii abiy dan seterusnya.

Buku Banyolan Syiah-1-jpeg.image
Buku ‘Banyolan Syiah’ ditulis Firanda Andirja Abidin, Lc, MA

Tentu saja riwayat ini tidak akan kita temukan pada kitab-kitab ajaran Islam. Riwayat ini terdapat dalam buku dongeng AlKaafi yang merupakan buku rujukan paling valid menurut kaum Syiah.

Si keledai, bapaknya keledai, sampai kakeknya keledai menjadi mata rantai periwayatan yang menghubungkan pengabaran dari Nabi Nuh ‘alaihissalam sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Konyolnya, dongeng yang aneh ini dianggap sebagai mukjizat oleh Al-Khuu’iy, salah seorang tokoh Syiah kontemporer.

Jika manusia yang notabene makhluk yang dikaruniai akal sehat saja harus ditimbang dalam penyampaian riwayat, lalu bagaimana statusnya jika ia seekor keledai? Bagaimana bisa kabar aneh ini mengagumkan Al-Kuu’iy dan menganggapnya sebagai satu mukjizat?

Selain itu mungkinkah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang terkenal teliti, kritis, dan berilmu menyampaikan kabar ini? Tampaknya ini adalah kebohongan serius yang telah menyisip dalam buku dongeng Al-Kaafi karangan Al-Khulainiy itu.

Hal yang menjadi permasalahan bukanlah keledai yang berbicara. Akan tetapi, pertama, berapa umur keledai tersebut? Bukankah antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi Nuh ‘alaihissalam berjarak ribuan tahun? Padahal sanad silsilah keluarga keledai tersebut hanya empat atau lima keledai. Jadi, masing-masing keledai tersebut berumur ratusan tahun? Padahal, umur keledai biasanya berkisar antara 30 hingga 35 tahun, dan kalau pun panjang umur mungkin hingga 50 tahun.

Kedua, para keledai tersebut bergaya sebagaimana ahlul hadits? Padahal pada zaman Nabi belum ada model periwayatan hadits, belum ada istilah haddasanaa dan juga akhbaranaa. Istilah-istilah tersebut muncul dan masyhur di zaman periwayatan hadits, yaitu setelah berlalunya generasi para sahabat.

Ketiga, selain itu, tentunya jika ada periwayatan dari hewan-hewan maka perlu ada buku yang menjelaskan tentang kedudukan para hewan tersebut, apakah sebagai perawi yang tsiqah, dha’if, ataukah muttaham bi al kadzib, dan sebagainya.

Keempat, tentang keledai ini, serta ayahnya, kakeknya hingga buyutnya yang ada di zaman Nabi Nuh adalah keledai-keledai yang cerdas. Mereka dapat membedakan mana ayah dan mana kakeknya. Akan tetapi saking pintarnya sang keledai, ternyata mati dengan membunuh dirinya, yaitu menenggelamkan dirinya di sebuah sumur? Seharusnya keledai yang ditunggangi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga tahu bahwa bunuh diri adalah dosa besar.

Dongeng ini memang ditolak oleh sebagian kaum Syiah, setelah mengetahui kelucuan dan kekonyolan riwayat silsilah keledai tersebut. Namun, ternyata dongeng ini disebut dalam ajaran sesat Syiah yang paling valid dan autentik, yaitu dalam buku dangeng Ushuul AlKaafi, yang menurut Al Mahdi, seluruh isinya adalah shahih. Karena itu, kita dapati sebagian para dukun Syiah tetap membela keshahihan riwayat keledai tersebut.

al-kaafi-3-jpeg.image
Al-Kaafi

Tak diragukan lagi, Syiah adalah paham yang berisi kekonyolan, kontradiktif, khurafat, dan penuh banyolan. Ini semua menunjukkan Syiah bukan dari Islam, tetapi hasil karya orang-orang yang ingin merusak Islam dari dalam.

-Tardjono Abu Muas  adalah Sekretaris Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS)

Baca Juga