Prof KH Ali Mustafa Yaqub: “Koteka Itu Budaya Nusantara, tapi Bertentangan dengan Islam”

KH-Ali-Mustafa-Yaqub-300x200-jpeg.image
Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Istilah ‘Islam Nusantara’ belakangan ini jadi perbincangan. Entah apa maksudnya, Islam dibagi-bagi seperti itu. Sampai-sampai ada yang setengah protes mengatakan, nanti ada ‘Islam Bandung’, ‘Islam Surabaya’, ‘Islam Solo’, ‘Islam A’, ‘Islam B’, dan seterusnya.

Sesungguhnya upaya meng-kotak-kotak-kan Islam tak hanya terjadi sekarang. Jauh sebelumnya di Indonesia khususnya, penjajah Belanda berupaya memecah kaum Muslimin. Sebab, perintang dan penghalang kaum penjajah di negeri ini adalah Islam dan kaum Muslimin. Semangat jihad umat Islam terbukti telah merontokkan upaya kaum penjajah untuk terus mengangkangi negeri ini.

Rais Syuriah Bidang Fatwa PBNU 2010-2015 Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub menjelaskan perihal topik yang sedang hangat jadi perbincangan di rezim Jokowi ini. Pegiat ‘Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)’ Andi Ryansyah dari jejakislam.net, berkesempatan berbincang dengan Imam Besar Majid Istiqlal ini pada Jumat (19/6) lalu di Jakarta, terkait ‘Islam Nusantara’.

“Kami hendak melihat kaitan antara Islam dan Nusantara, dan persoalan hangat lainnya, dari sudut pandang seorang ulama di Indonesia. Meski beberapa pembicaraan, sedikit keluar dari topik sejarah, namun besar manfaat yang dapat diperoleh sebagai cermin untuk menapak di masa kini,” kata Andi. Berikut petikan percakapannya:

Bagaimana pandangan Pak Kiai tentang istilah “Islam Nusantara”?

Kalau “Islam Nusantara” itu Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan: selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat. Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber ajaran Islam itu Al-Qur’an dan Hadits. Apa yang datang dari Nabi Muhammad itu ada dua hal yaitu agama dan budaya. Yang wajib kita ikuti adalah agama: akidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi.

Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti. Demikian pula budaya Nusantara. Selama budaya Nusantara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka boleh diikuti. Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka. Koteka juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya.

Tadi Pak Kiai menyatakan Islam yang bercorak budaya Nusantara itu tepat, padahal Pak Kiai tadi juga menyatakan sumber ajaran Islam bukan dari apa yang ada di Nusantara, jadi maksudnya apa Pak Kiai?

Maksud saya, Islam yang bercorak budaya Nusantara itu boleh saja sepanjang tidak bertentangan dengan Islam. Tapi kalau Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, baik akidah maupun ibadah harus asli dari Nusantara, maka itu tidak tepat. Tapi saya katakan Islam itu bukan Arab sentris. Islam itu apa kata Al-Qur’an dan Hadits, bukan Arab sentris. Tidak semua budaya Arab harus kita ambil. Sebab ada budaya Arab yang bertentangan dengan ajaran Islam. Contohnya, orang-orang minum khamr di zaman Nabi dan beristri lebih dari empat.

Tadi saya katakan, Nabi pakai sorban, apa kita wajib pakai sorban? Tidak ada hadits yang menunjukkan keutamaan memakai sorban. Tidak ada hadits yang mengatakan memakai sorban itu mendapat pahala. Para ulama mengatakan sorban itu budaya Nabi, budaya kaum Nabi pada zamannya.

Pak Kiai bagaimana sebaiknya umat Islam memandang budaya?

Sepanjang budaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka kita boleh mengambilnya. Ini masuk wilayah muamalah. Silakan ikuti budaya Arab, silakan pakai sorban. Tapi jangan mengatakan orang yang tidak pakai sorban, tidak mengikuti Nabi. Saya pukul kalau ada orang yang mengatakan seperti itu. Silakan makan roti karena mengikuti budaya Nabi. Tapi jangan mengatakan orang yang makan nasi, tidak mengikuti Nabi.

Demikian juga budaya Nusantara. Sepanjang budaya Nusantara tidak bertentangan dengan Islam, silakan ambil. Islam sangat memberikan peluang bagi budaya, selama budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, boleh kita ambil. Silakan berkreasi dan ambil budaya apapun, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Kemunculan “Islam Nusantara” ini membuat sebagian orang membandingkan dengan “Islam Arab”, bagaimana menurut Pak Kiai?

Saya tidak sependapat dengan bandingan-bandingan seperti itu. Islam itu Islam saja.

Jadi istilah “Islam Nusantara” itu tidak ada ya Pak Kiai?

Ya, Islam itu Agama. Nusantara itu budaya. Tidak bisa disatukan antara Agama dan budaya.

Sumber: jejakislam.net

Baca Juga