Musibah Haji dan Pertanyaan-pertanyaan Bernada Konspiratif


Jamaah Haji yang meninggal saat berdesak-desakan di Mina-Kamis (10 Zulhijjah 1436 H-24 September 2015)-jpeg.imageSALAM-ONLINE: Musibah kembali menimpa jamaah haji. Setelah crane yang jatuh di Masjidil Haram dan kebakaran di hotel tempat jamaah haji Indonesia menginap, kini tragedi Mina yang merenggut nyawa (setidaknya sampai berita ini dibuat) 453 orang, kembali terjadi.

Ada suara-suara yang mempertanyakan, misalnya jatuhnya crane, apakah ini murni musibah atau ada sabotase? Kemudian serentetan musibah berikutnya, termasuk yang terjadi saat ini di Mina saat jamaah haji mau melempar jumroh pada pagi waktu Saudi (siang WIB).

Seperti diberitakan hari ini, Kamis (24/9), ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, menyebabkan terjadinya penumpukan dan berdesak-desakannya jamaah di belakangnya.

Dari Kementerian Luar Negeri RI diperoleh informasi, peristiwa di Mina terjadi di jalan menuju tempat lontar jumroh di antara tenda-tenda.

“Awal kejadian, karena ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, sehingga terjadi penumpukan dan desak-desakan,” rilis dari Kemenlu RI, Kamis (24/9).

Dilaporkan, kejadian berlangsung pada pukul 7 pagi waktu setempat (sekitar pukul 11 siang WIB). Sebagian korban meninggal berasal dari jamaah Mesir dan beberapa negara Afrika.

Menurut Kemenlu RI, ini bukan merupakan jalur yang digunakan oleh jamaah asal Indonesia untuk menuju lontar jumroh tersebut. Jamaah Indonesia sendiri memang sudah diwanti-wanti untuk tidak melontar jumroh di pagi hari atau di waktu-waktu membludaknya jamaah.

Untuk sementara, selain 453 korban meninggal, lebih 719 lainnya mengalami luka-luka akibat saling dorong dan berdesak-desakannya jamaah. Korban ini diperkirakan masih terus bertambah.

Dari musibah berturut-turut ini, tentu saja yang paling baik adalah mengevaluasi pelaksanaan jamaah haji dan mengintrospeksi setiap kejadian sebagai ujian atau teguran dari Allah agar kita berbenah.

Namun pertanyaan-pertanyaan bernada konspiratif, terkadang sulit kita hindarkan. Sebut misalnya, sudah tahu musim haji sudah tiba dan jamaah sudah memadati Masjidil Haram, mengapa crane masih dipasang? Lantas, mengapa jamaah haji asal Indonesia dibiarkan membawa kompor ke dalam kamar hotel? Disebut-sebut asal sumber kebakaran lantaran jamaah haji asal Indonesia lupa mematikan kompor sebelum berangkat ke Masjidil Haram.

Terkait tragedi Mina yang terbaru, dari laporan Kemenlu di atas, ada kelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, yang menyebabkan terjadi penumpukan jamaah di belakangnya sehingga berdesak-desakan.

Kenapa ada sekelompok jamaah yang berhenti tiba-tiba? Pertanyaan ini senada dengan pertanyaan konspiratif terkait musibah jatuhnya crane dan lupanya jamaah asal Indonesia mematikan kompor listrik yang menyebabkan kebakaran di hotel tempat jamaah menginap tersebut—meski kebakaran ini tak menimbulkan korban jiwa.

Pertanyaan-pertanyaan yang juga ada yang mencoba mengaitkannya dengan perang Yaman dan upaya-upaya untuk membuat citra buruk pelaksanaan ibadah haji yang tentu saja sasaranya adalah Saudi. Benarkah? Sesuatu yang sulit dijawab, karena, bagaimanapun, hal-hal konspiratif biasanya dikaitkan dengan intelijen. Padahal operasi intelijen itu seperti orang buang angin ketika mengeluarkannya tanpa terdengar orang lain. Baunya terasa, sementara siapa yang buang angin itu, hanya bisa diduga-duga, tidak bisa diketahui secara pasti.

Di Indonesia, ada pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan tragedi Mina ini, dengan menyebar informasi hoax, lansir detik.com, Kamis (24/9). Di tengah belum adanya kepastian berapa jumlah korban meninggal dari Indonesia, info hoax berisi daftar jamaah haji asal Indonesia yang jadi korban di Mina, sebanyak 52 orang, menyebar. Padahal, setelah ditelusuri, jumlah korban 52 dari Indonesia itu adalah berita tragedi Mina tahun 2004.