“Serangan Susulan Berpeluang Diarahkan ke Negara-negara yang Terlibat Konflik Suriah”


Harits Abu Ulya-9-jpeg.image

Harits Abu Ulya

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Dari peristiwa di Paris, Jumat (13/11) malam yang lalu, kita melihat benang merah bahwa serangan itu adalah analog kecil dari peristiwa runtuhnya WTC. Peristiwa WTC bisa dianggap sebagai artikulasi penting dari akumulasi perlawanan sporadis oleh kelompok Islam terhadap imperialisme Barat dan AS yang menjadi representasi utamanya.

Begitu juga serangan di Paris, bisa dianggap sebagai representasi perlawanan di kandang musuh atas pilihannya terlibat konflik berdarah di Suriah. Dan serangan yang terjadi tidak bisa dinegasikan korelasinya dengan konteks perang, dan bukan semata-mata “terorisme”.

Demikian diungkapkan Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada redaksi, Ahad (15/11).

“Meski di sisi lain, target besar di balik serangan itu sangat mungkin bukan sekadar ‘dendam’ atau perlawanan atas Prancis, tapi menebar serangan secara meluas untuk semua negara Barat yang tangan mereka dianggap berdarah-darah di bumi Suriah,” ujarnya.

Hal ini juga sekaligus sebagai sinyal jawaban atas apa yang terjadi di Suriah dan sekitarnya, berikut memancing semua negara-negara Barat masuk terseret jauh dalam kubangan konflik Suriah khususnya.

Bagaimana Indonesia harusnya bersikap atas peristiwa serangan di Paris kali ini? Apakah serangan susulan akan muncul di tempat yang berbeda? Bagaimana potensi serangan tersebut terjadi di Indonesia?

Jika cermat melihat pola dan spirit di balik itu, kata Harits, maka serangan susulan sangat berpeluang terjadi, khususnya konsisten diarahkan ke negara-negara yang dianggap terlibat dalam konflik Suriah khususnya.

“Respon pemerintah Indonesia harus proporsional, khususnya instansi terkait, tidak perlu berlebihan yang justru terkesan bisa menjadi sumber kepanikan baru di Indonesia,” imbuhnya.

Menurut Harits, secara rasional yang perlu siaga dan mengantisipasi kemungkinan serangan susulan adalah negara tetangga Prancis seperti Inggris atau negara koalisi yang terlibat perang di Suriah. Tereksposnya serangan di Paris secara global risikonya melahirkan beragam sikap dan akibat, ini tergantung sudut pandang masing-masing pihak.

Ia menyebut bagi elemen yang pro dengan aksi itu, maka peristiwa di Paris jadi inspirasi dan spirit baru di mana pun mereka berada. Tapi dalam konsteks Indonesia, level ancaman seperti serangan di Paris resonansinya sangat rendah (minor). Kenapa?

“Karena kemampuan untuk melakukan serangan terbuka secara terkoordinasi dan tidak kehendus oleh pihak aparat keamanan itu tidak dimiliki atau belum dimiliki sel-sel kelompok yang selama ini dianggap terkait jaringan tersebut,” terangnya.

Meski pernah ada eksperimen kecil-kecilan dan sangat amatiran untuk melakukan serangan bom, prediksinya, Indonesia relatif kondusif dan aman dari gangguan sejenis serangan di Paris.

Para pengikut dan simpatisan IS-ISIS dari Indonesia lebih berhasrat untuk hijrah (pindah) ke Suriah wilayah IS daripada bertahan. Andaikan muncul ganguan, kata Harits, itu potensial bisa jadi rembesan dari wilayah timur Indonesia. Di sana ada kelompok Santoso yang selama ini dijadikan “icon” kelompok “terorisme” oleh Polri dan BNPT.

“Atau muncul dari ‘lonewolf’ (orang yang bergerak sendiri, red) yang terkondisikan oleh ‘siluman’ untuk melakukan serangan dengan target di balik itu mengais keuntungan opurtunis dari proyek war on terrorism,” demikian analisis dan prediksi pemerhati Kontra-Terorisme ini. (mus)