Berpihak pada yang Benar

Analis: “Moskow tak Berikan ‘Cek Kosong’ kepada Basyar Asad”

Basyar Asad dan Vladimir Putin (kanan, berdiri)-2-peg.image
Basyar Asad dan Vladimir Putin (kanan, berdiri)

WASHINGTON (SALAM-ONLINE): Dukungan Pemimpin Rusia Vladimir Putin kepada Presiden Suriah Basyar Asad adalah dukungan yang jelas, tapi bukan sebuah dukungan yang tidak terbatas, analis mengatakan kantor berita Anadolu, Rabu (16/3).

Keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menarik sebagian kekuatan militernya dari Suriah adalah kejutan bagi banyak pihak. Tetapi menurut para ahli di Washington, itu menunjukkan Moskow tidak memberikan “cek kosong” kepada Basyar Asad.

“Ini menunjukkan bahwa komitmen Rusia untuk mendukung rezim Suriah, sementara sangat jelas, tetapi bukannya tanpa batas,” kata James F. Collins, mantan duta besar AS untuk Rusia dan sekarang bekerja di Carnegie Endowment for International Peace.

Collins, duta besar AS untuk Rusia (1997-2001), mengatakan kepada Anadolu bahwa Asad sekarang “memahami bahwa ia tidak memiliki cek kosong dari Moskow”.

Collins menyatakan bahwa aksi Rusia tersebut dipastikan akan mengurangi intensitas pertempuran dan pengeboman, tetapi pada saat yang sama juga mungkin menyebabkan rezim dan oposisi “lebih serius untuk penyelesaian dengan negosiasi”.

Pada Selasa (15/3) lalu beberapa pesawat pengebom dan jet Rusia dilaporkan meninggalkan Suriah menyusul pengumuman Putin.

Putin mengatakan bahwa ia akan menarik sekitar setengah militernya dari Suriah, sementara pasukan di pangkalan udara Hmeimim dan pelabuhan Tartus akan tetap tinggal. Rudal pertahanan udara canggih S-400 generasi keempat Rusia yang ditempatkan di bagian timur Laut Mediterania juga akan tetap di tempat.

Jeffry Mankoff, ahli senior Rusia di Pusat yang berbasis di Washington untuk Strategic International Studies juga setuju Putin ingin menunjukkan kepada rezim Asad bahwa Rusia tak akan memasok bantuan yang tidak terbatas.

Menurut Mankoff, Moskow menilai Asad “terlalu keras kepala” dan membuat “terlalu banyak tuntutan”, mengambil keuntungan atas dukungan yang diberikan Rusia.

Namun, ia mencatat, intervensi Rusia hanya bertujuan “lebih banyak untuk mengejar kepentingan sendiri dan bukan untuk menjaga Asad tetap berkuasa”.

Rusia tidak pernah percaya bahwa Asad akan mampu merebut kembali kontrol dari negara yang dilanda perang itu, Mankoff menambahkan. “Mereka menggunakan intervensi militer untuk merancang dicapainya penyelesaian politik yang akan sejalan dengan kepentingan mreka.”

Menurut Mankoff, langkah Rusia pada Selasa lalu bukanlah penarikan total, tetapi akan meningkatkan tekanan pada Asad dalam pembicaraan damai di Jenewa.

Rusia telah merintis seri terbaru dari pembicaran yang dipimpin oleh utusan khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura, sementara jet mereka menyerang kelompok oposisi di bagian barat Suriah untuk membantu pasukan Asad merebut lebih banyak wilayah.

Daniel Serwer, seorang profesor dan ahli manajemen konflik Timur Tengah di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, juga menyampaikan analisisnya bahwa Moskow ingin mendorong Asad untuk membuat beberapa konsesi pada negosiasi di Jenewa.

“Saya kira Putin memberikan sinyal untuk Basar Asad bahwa ‘cek Rusia’ bukanlah cek kosong dan Basyar perlu memberikan sesuatu di meja perundingan untuk mencapai kesepakatan politik,” kata Serwer kepada Anadolu.

Dia menyatakan bahwa Rusia juga khawatir dan berusaha “tidak terjebak di Suriah”. Ia mencatat bahwa tujuan utama Moskow adalah untuk menjaga pelabuhan dan pangkalan udaranya di Suriah.

Pengumuman Kremlin disambut penuh tanda tanya di Washington. Tapi Putin mengatakan bahwa intervensi telah mencapai tujuannya dan misi itu selesai.

Pada kenyatannya, Rusia tidak pernah menentukan dengan jelas tujuan utama dari intervensi yang diluncurkan akhir September lalu itu. Tapi banyak pihak menilai, itu adalah untuk menopang rezim Asad dan mencegah rezim jatuh di tengah negosiasi.

Menurut para analis AS bahkan misi rahasia Rusia sesungguhnya belum diselesaikan.

Mankoff mengatakan bahwa misi ini jauh dari selesai karena masih belum ada solusi politik yang memungkinkan Asad untuk tetap berada di kekuasaan.

“Tujuan dari intervensi adalah solusi politik, sehingga bisa dilihat bahwa hal tersebut belum tercapai,” katanya.

Direktur Dinu Patriciu Eurasia Center di Dewan Atlantik yang berbasis di Washington, John Herbet mengatakan kepada Anadolu, masih dini untuk menilai apa yang akan terjadi selanjutnya karena Putin tidak memberikan gambaran yang jelas.

“Jika mungkin gencatan senjata mulai berlaku dan tetap berlaku, Asad bisa mempertahankan posisinya tanpa intervensi militer Rusia. Tapi saya percaya bahwa tidak akan berlangsung lama,”ungkap John. “Sulit untuk membayangkan bahwa intervensi akan mampu menjaga posisi Asad selama beberapa bulan.”

Dia menyatakan bahwa Putin mungkin membuat dasar keberhasilan militernya pada saat kampanye melawan oposisi yang berada dalam kondisi lemah.

“Rusia tidak benar-benar menyerang kelompok jihad yang kuat di Suriah dan taktik mereka tidak mungkin berhasil melawan kelompok-kelompok tersebut. Jadi sebuah keputusan pintar bagi Kremlin untuk pergi sekarang,“ katanya seraya menilai bahwa Moskow telah meninggalkan Asad di bawah belas kasihan kelompok-kelompok jihad di Suriah.

Rusia telah mendapat sanksi dari AS dan Uni Eropa atas dukungannya terhadap separatis pro-Moskow di Ukraina. Dikombinasikan dengan penurunan harga minyak, sanksi itu mungkin telah mengguncang ekonomi Rusia. Namun para ahli menyatakan ini mungkin tidak memainkan peran utama dalam langkah terbaru Rusia.

“Ekonomi Rusia berada di bawah tekanan sekarang sebagai akibat dari harga minyak yang lebih rendah dan embargo, tapi jujur ​​biaya intervensi di Suriah relatif telah dipersiapkan,” ujar Mankoff.

Menurut laporan U.K. Royal United Services Institute pada Desember lalu, Rusia telah menghabiskan sekitar $ 4 juta per hari pada kampanye milter di Suriah sampai akhir November ketika F-16 Turki menembak jatuh sebuah pesawat Rusia.

Tapi setelah insiden di Turki, laporan lembaga mengatakan, biaya harian naik sampai $ 8 juta per hari karena Rusia mengintensifkan serangan udara terhadap kelompok-kelompok oposisi yang didukung oleh Turki.

Direktur Yayasan Politik Ekonomi dan Penelitian Sosial (SETA) Turki, cabang Washington, Kadir Ustun, mengatakan bahwa intervensi Rusia mungkin memiliki dampak pada situasi ekonomi internal, tetapi bukan penyebab utama terguncangnya ekonomi Rusia.

“Jika Rusia merasa bahwa kepentingan strategis mereka terancam di Suriah, mungkin mereka akan kembali, terlepas dari kondisi ekonomi,” kata Ustun.

Rusia tak Berikan Cek Kosong kepada Basyar Asad-1-jpeg.image“Secara ekonomi, Rusia tidak kehilangan terlalu banyak karena intervensi ini. Sebaliknya intervensi di Ukraina menyebabkan mereka kehilangan banyak. Dengan demikian, menarik diri dari Suriah tidak akan memperbaiki kondisi ekonomi mereka.” (EZ/salam-online)

Sumber: Anadolu

Anda mungkin juga berminat