Pakar Psikologi UI Ini Pertanyakan Apakah ‘Teroris’ Itu Benar-benar Ada di Indonesia?


Jpeg

Dr Mirra Noor Milla (kanan) dalam Diskusi di Mabes Polri (Foto: EZ)

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Pakar Psikologi UI Dr Mirra Noor Milla menyatakan bahwa aparat keamanan, terutama Densus 88, harus lebih teliti dalam memberikan stigma teroris kepada seseorang yang tidak bersalah atau masih praduga.

“Yang perlu ditekankan di sini adalah apakah ‘teroris’ itu benar-benar ada di Indonesia? Karena saya membaca dan meniliti bahwa ‘teroris’ itu hanya isu yang dibuat,” ungkap Mirra dalam Diskusi Publik tentang Kasus Siyono di Lobi Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (7/4).

Menurutnya, kasus ‘terorisme’ di Indonesia itu tidak sebanyak jumlah warga Indonesia pada umumnya, tetapi gaungnya begitu terasa di tengah masyarakat.

“Setiap kali aparat mengatakan ‘terorisme’, saya itu penasaran apakah benar ada ‘terorisme’ di Indonesia. Masalahnya isu ‘terorisme’ itu tidak sebanyak jumlah penduduk Indonesia, hanya sedikit, tapi gaungnya kemudian menjadi sangat besar,” ujarnya.

Berdasarkan penelitian tentang “terorisme”, kata Mirra, kalaupun benar ada di Indonesia, itu adalah orang-orang yang cenderung memiliki kepribadian tertutup kepada orang lain.

“Kalau pun orang sampai menjadi ‘teroris’, maka orang tersebut dapat dipastikan memiliki kecenderungan individu tertutup kepada orang lain. Walaupun selama meneliti saya belum menemukan ‘teroris’ yang betulan,” terangnya.

Pemerintah dalam hal ini, menurut Mirra, harus berperan aktif untuk mencegah tindakan kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya para pemuda.

“Orang-orang yang dapat terpengaruh dengan mudah adalah anak muda. Banyak anak muda yang memiliki kecenderungan tertutup. Banyak anak muda yang kehilangan kebermaknaan dirinya sehingga merasa dirinya tidak berguna lagi, ini yang rentan. Pemerintah harus mengambil sikap,” tegasnya. (EZ/salam-online)