Ketika Massa Gema 212 Mendemo Kedubes Iran Tuntut Pertanggungjawaban Pembantaian di Aleppo


Massa Gema 212 di depan Kedutaan Iran, Jl HOS Cokroaminoto 110, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (19/12). (Foto: salam-online)

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Lima delegasi aksi massa solidaritas untuk Aleppo diterima memasuki Kedutaan Iran di Jl HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (19/12).

Lima perwakilan Gerakan Kemanusiaan (Gema) 212 itu adalah Ustadz Abu Harits (Sekjen Forum Indonesia Peduli Syam/FIPS), Ustadz Muhammad Ismed (SAPA Islam), Mashuri Masyhuda (GN-KOKAMM), Haikal (Jurnalis) dan M. Syakuri (Jamaatul Musimin), diterima oleh Staf Diplomatik Kedubes Iran, Ramin.

Pemeriksaan pun dilakukan oleh pihak kedubes Iran bersama aparat kepolisian yang berjaga di dalam Kedubes. Sempat terjadi komunikasi yang alot.

Pihak Kedubes Iran melarang seorang jurnalis masuk ke dalam delegasi tersebut dengan membawa alat seperti Hp, perekam, kamera, bahkan sampai kertas pun tak diperbolehkan.

Usai pemeriksaan, lima perwakilan tersebut hanya diterima dan dipersilakan duduk di halaman gedung Kedubes. Hal itu membuat keadaan yang semula kondusif berubah memanas.

Dengan nada geram, salah seorang anggota perwakilan dari GN-KOKAMM, Mashuri, menegaskan kepada Staf Kedubes Iran, Ramin, bahwa kedatangannya adalah sebagai tamu yang mestinya dihormati.

“Kami datang ke sini sebagai tamu, kami datang baik-baik ingin berdiplomasi, hormati kami, tidak sepantasnya kami diterima seperti ini,” ujar Mashuri dengan geram di depan pekarangan Kedubes Iran.

Sekjen FIPS, Abu Harits pun menyatakan, kedatangan ke Kedubes Iran ini merupakan upaya diplomasi yang baik dengan tidak menggunakan kekerasan. “Hanya ingin meminta pertanggungjawaban pemerintah Iran melalui Kedubesnya di Indonesia atas pembunuhan yang terjadi terhadap warga Aleppo,” kata Abu Harits.

“Tolong hormati kami, kami datang ke sini hanya ingin meminta pertanggungjawaban, masak kita diterima di pekarangan? ini tidak pantas!” tegasnya.

Staf Kedubes Iran, Ramin, mengatakan bahwa lima delegasi aksi Gema 212 tidak diperkenankan untuk memasuki ruangan lantaran itu adalah hak bagi kedutaan mereka.

“Saya berbicara diplomatis, dan ini adalah hak saya untuk tidak mengizinkan kalian masuk ke dalam. Jika ingin diplomasi silakan kami persilakan duduk di sini,” kata Ramin sambal menunjuk kursi yang ada di halaman kedutaan.

Keadaan makin memanas, apalagi dari luar pagar ribuan massa sudah bersiap-siap menunggu komando untuk mendorong dan mendobrak gerbang kedutaan. Dari mobil komando, para pemimpin aksi dapat dengan jelas melihat situasi di halaman kedutaan yang tengah alot bernegosiasi karena pihak Kedubes tetap bertahan tak memperkenankan perwakilan massa masuk.

Mashuri mengajukan pertanyaan kepada Ramin, “Apakah Anda seorang Muslim?” Ramin menjawab, “Iya, insya Allah saya Muslim.” Kata Mashuri dengan nada keras, “Jika Anda seorang Muslim, Anda seharusnya tahu adab-adab menerima tamu yang baik dan benar sesuai dengan ajaran agama Anda.”

Setelah mendapat tekanan dari lima delegasi tersebut, ditambah lagi dari luar, aksi untuk mendobrak gerbang tinggal menunggu instruksi dari mobil komando, akhirnya Staf Dubes Iran itu meminta waktu untuk mendiskusikannya dengan staf lainnya. Cukup lama. Hasilnya mereka mengizinkan lima delegasi tersebut masuk.

Di dalam, lima delegasi mengungkapkan perihal pembantaian yang dilakukan rezim Asad beserta sekutunya, Iran dan Rusia, terhadap warga sipil Aleppo. Abu Harits menyampaikan pernyataan sikap Gerakan Kemanusiaan 212.

Sementara Muhammad Ismed dari SAPA Islam, menegaskan bahwa Dubes Iran di Indonesia seharusnya turut serta mencegah dukungan yang diberikan oleh pemerintah Iran kepada rezim Asad dalam membantai warga sipil Aleppo.

“(Pemerintah) Anda harus bertanggungjawab atas pembunuhan yang terjadi di Suriah. Dubes Iran di Indonesia harus turut (mendorong) untuk menghentikan pembantaian itu,” desak Ismed kepada Ramin.

Mashuri mendesak, agar Dubes Iran di Indonesia bersikap tegas meminta pemerintahnya menghentikan tindakan keji yang mereka lakukan bersama rezim Asad dan Rusia terhadap rakyat sipil Aleppo.

“Kami meminta anda bertindak tegas, hentikan pembunuhan itu, atau kemarahan umat Islam akan muncul bersama Gerakan Kemanusiaan 212. Kami tidak akan diam melihat saudara-saudara kami dibunuhi, mereka Muslim, maka kami wajib jaga kehormatan mereka,” ungkap Mashuri.

Staf Dubes Iran, Ramin, menanggapi pernyataan-pernyataan tersebut dengan mengatakan, “Kami akan memproses usulan-usulan itu menyampaikannya kepada Duta Besar. Tetapi kami tidak bisa memberikan janji kapan akan diproses. Yang pasti nanti akan kami salin laporan ini dengan menggunakan bahasa Parsi, lalu kami sampaikan kepada kedutaan,” kata Ramin.

Setelah pertemuan selesai, lima delegasi tersebut memberikan bukti-bukti kebiadaban rezim Asad beserta sekutunya, Iran dan Rusia, di antaranya foto-foto seorang bayi yang mengalami gegar otak dan lainnya untuk diserahkan kepada Dubes. (EZ/salam-online)