‘Menaksir’ Jenderal Gatot Nurmantyo di Pilpres 2019


SALAM-ONLINE: Isu pergantian Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kembali mengemuka. Padahal Gatot baru memasuki masa pensiun pada Maret 2018. Artinya, sang Jenderal baru akan bebas dari masa tugas yang telah diembannya pada Maret tahun depan.

Karena itu, seandainya jenderal bintang empat itu diberhentikan sebagai panglima sebelum masa pensiunnya datang, hal ini tentu akan memunculkan opini di masyarakat, bahwa Presiden Joko Widodo takut dengan elektabilitas Gatot.

“Tidak ada jaminan elektabilitas Gatot meredup usai tak menjabat panglima TNI. Dugaan saya justru makin bersinar serta mengalir dukungan empati,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Sarwi Chaniago, Ahad (9/7/2017) seperti dikutip Jawapos.com.

Setelah lepas dari kedinasan militer, Gatot pun sah untuk dicalonkan oleh sejumlah parpol di pemilihan presiden (pilpres) 2019. Salah satu parpol yang dikabarkan ‘naksir’ kepada Gatot adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Menanggapi hal itu, Pangi Sarwi Chaniago menilai PKS pastinya sudah melakukan penilaian track record terhadap prajurit TNI AD angkatan 82 itu.

PKS, menurut Pangi, sudah melakukan hal yang tepat dengan lebih dulu menggadang Jenderal Gatot sebagi salah satu capresnya.

“Meskipun masih dua tahun lagi, PKS setidaknya sudah bisa menilai mana figur yang tepat untuk bisa memimpin negeri ini,” papar Pangi.

Pangi juga meyakini, sekelas PKS tidak mungkin asal menetapkan salah satu capresnya jika tidak ada komunikasi atau penilaian di akar rumputnya.

“Artinya sudah jelas, di akar rumput Gatot memiliki elektabilitas yang sangat potensial dan PKS tentu punya pertimbangan tersendiri,” tuturnya.

Pangi bahkan memprediksi, elektabilitas Gatot bukan sangat tidak mungkin akan mengganggu Jokowi yang bisa pastikan akan berlaga kembali di pilpres 2019.

“Wajar jika ada yang menyebut Gatot adalah anak macan. Saat kecil jinak, tapi saat besar bisa menerkam,” ujar Pangi.

Jenderal Gatot saat bersafari Ramadhan

Sementara itu, Analis Politik Faunding Fathers House (FFH) Dian Permata, menilai posisi Gatot yang positif dikenal publik karena faktor track recordnya juga.

Misalnya, Gatot dikenal sebagai jenderal yang bukan karbitan dan dia bukan tipikal Jenderal di belakang meja.

“Jenjang karirnya jelas, prestasinya ada dari KSAD lalu ke Panglima TNI. Sebelumnya pernah menjadi Komandan Kodiklat TNI-AD, Pangdam V/Brawijaya dan Gubernur Akmil,” terang Dian.

Pengalaman Gatot di infanteri baret hijau Kostrad juga tak perlu diragukan. Begitupun dengan kedekatannya pada prajurit di bawahnya.

“Biasanya kalau mendapat julukan bukan Jenderal belakang meja itu, berarti dia akrab dengan prajurit di lapangan. Bahkan banyak yang bilang Gatot sangat dekat dengan kalangan ulama dan pesantren,” jelas Dian.

Karena itu, wajar jika Gatot memiliki modal dan track record yang positif terkait dengan popularitas dan elektabilitasnya.

“Dan ingat Gatot tidak memiliki catatan pelanggaran HAM ditambah gaya komunikasinya yang santun dan tegas,” ulasnya.

Artinya, lanjut Dian, bukan tidak mungkin Gatot berpeluang untuk diusung di pilpres 2019, di tengah situasi yang bisa dikatakan kurang figur.

“Kita tinggal tunggu saja, apa beliau bersedia atau seperti apa. Ini kan ranahnya politik, dan dalam politik semuanya mungkin terjadi,” pungkas Dian.

Sumber: Jawapos.com