Standar Ganda Dunia, Mana Solidaritas untuk Somalia?


Sebuah bangunan hancur akibat ledakan di ibu kota Somalia, Mogadishu, Sabtu (14/10/2017) pekan lalu. (Sumber Foto: Aljazeera)

SALAM-ONLINE: Hampir 300 orang meregang nyawa atas serangan bom yang meledak di ibu kota Somalia, Mogadishu, Sabtu (14/10/2017) kemarin. Ledakan itu merupakan serangan bom paling mematikan yang pernah terjadi di Somalia. Pemerintah segera mengumumkan tiga hari berkabung atas peristiwa tersebut.

Lebih dari 300 orang juga dilaporkan menderita luka-luka. Sementara belasan lainnya belum ditemukan hingga saat ini. Kondisi darurat ini diperparah dengan terbatasnya stok darah di rumah sakit.

Peristiwa ini, selain menimbulkan ratusan korban jiwa juga memunculkan pertanyaan mengenai solidaritas kolektif komunitas internasional yang selama ini menggelora ketika kejadian yang serupa terjadi di belahan bumi bagian Barat.

Beberapa waktu sebelumnya, dunia dan pemberitaan digemparkan oleh aksi penembakan brutal di Las Vegas yang menghabisi nyawa 58 orang dan melukai lebih 500 lainnya yang dilakukan seorang diri! Namun, tidak ada ‘euphoria’ terorisme yang biasanya diglorifikasikan oleh media-media Barat “jika” aksi penembakan dilakukan oleh seorang kaukasian (kulit putih) dan berkewarganegaraan AS.

Kenyataan ini seakan menunjukkan sikap standar ganda komunitas internasional terkait pelaku dan korban dari aksi terorisme tersebut.

Di media sosial, sejumlah warganet menyikapi kritis respons dunia yang menanggapi jatuhnya ratusan korban jiwa di Somalia dengan ‘ala kadar’nya.

“Harusnya Anda merasakan kepedihan yang sama atas banyaknya nyawa yang hilang di Somalia dengan pembunuhan kejam di Vegas,” tulis seorang penyiar televisi di Inggris dalam cuitannya.

Seorang profesor asal AS, Khaled Beydoun, juga mengungkapkan kritiknya terhadap media-media Barat yang begitu tertarik untuk menyoroti kasus penyerangan yang identik dengan ‘Islam’, namun hilang selera dengan kasus terorisme dengan korban jiwa orang-orang Islam.

“Jumlah orang yang menjadi korban jiwa di Somalia 10 kali lebih besar dibanding yang terbunuh di Manchester pada Mei lalu (230 [Somalia] dibanding 22 [Manchester]),” tulis Profesor Khaled seperti dilansir Aljazeera, Senin (16/10).

Senada dengan Profesor asal AS itu, juru bicara Organisasi untuk Migrasi, Italy Viriri bersikap mempertanyakan solidaritas warganet dunia yang pada aksi-aksi penyerangan sebelumnya dengan cepat membentuk dukungan kolektif seperti #Prayfor Paris, #PrayforManchester dan dukungan-dukungan spontan lainnya.

“Mengapa kita tidak bersama Somalia saat ini? @Facebook? @Twitter, #Selebritis? Dan lainnya?” tanya Viriri dalam akun Twitter-nya.

Sementara itu, kandidat doktoral Univertsitas Harvard juga mencuitkan pendapatnya dengan mengilustrasikan jika jumlah korban jiwa di Somalia terjadi di negara-negara Barat, maka respons dunia akan berbeda.

“Bayangkan jika 250 orang menjadi korban jiwa di AS, UK, atau Prancis akibat serangan bom truk. Itulah yang baru saja terjadi di Somalia. Kita juga harus berbelasungkawa atas mereka,” ungkapnya.

Keheningan di media sosial atas tragedi yang menimpa penduduk Mogadishu juga menyita perhatian artis Pakistan Hamza Ali Abbas. Dengan nada sinis ia mengungkapkan pandangannya mengenai sistem dunia yang dikuasai oleh kekuatan politik tertentu.

“Lebih dari 200 orang menjadi korban jiwa dalam serangan di Somalia, tidak ada trending topic atau berita utama di Twitter. Hal itu menunjukkan bahwa dunia digerakkan sepenuhnya oleh kekuasaan politik, bukan atas dasar kemanusiaan,” cuit Hamza yang mendapat ribuan retweet dan like.

Sejumlah warganet lainnya secara lugas mengungkapkan pandangannya mengenai keberpihakan rasial yang ditunjukkan oleh dunia terkait isu terorisme. Mereka menilai, mata dunia hanya akan tersorot jika pelaku penyerangan memiliki identifikasi ‘Islam’, dan yang menjadi korban adalah orang kulit putih.

“Kalian semua hanya akan memberi tagar (dukungan) jika yang menjadi korban adalah orang kaya berkulit putih,” cuit akun Lucas R.

“Contoh yang sempurna (standar ganda) bahwa solidaritas global hanya akan muncul jika yang menjadi korban jiwa adalah kulit putih,” ungkap akun @lex_looper.

“500+ lebih menjadi korban. Dunia Barat hanya peduli terhadap terorisme ketika non-kulit putih menyerang kulit putih, namun hening ketika yang menjadi korban adalah orang non kulit putih. #Mogadishu #Somalia,” cuit akun @InvictaVis. (al-Fath/Salam-Online)

Sumber: Aljazeera