Innaalillaahi… ‘Si Pitung dari Bekasi’ dan Pejuang 45 Itu Telah Tiada

Allahyarham KHM Dachlan

BEKASI (SALAM-ONLINE): Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, KH Muhammad Dachlan, pejuang angkatan 1945 dan pendiri Yayasan Infaq Dakwah Center (IDC) berpulang ke rahmatullah.

Pria Betawi kelahiran Jakarta, 10 Februari 1928 ini wafat pada Selasa (23/1/2018) bertepatan dengan 5 Jumadil Awal 1439 H, pukul 16.47 WIB, dalam usia 90 tahun.

Sebelumnya, pria berjuluk “Si Pitung dari Bekasi” itu sudah lebih dari tiga tahun tergolek lemah di tempat tidur lantaran penyakit stroke yang dideritanya.

Haji Dachlan sempat beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Pada Selasa siang, kondisinya tiba-tiba memburuk dan tak sadarkan diri, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Segenap kru Relawan IDC menyatakan, sangat kehilangan sosok sesepuh KH Muhammad Dachlan. Semoga Allah Ta’ala mengampuni segala dosanya dan menerima segala amal shalihnya.

Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kesabaran atas musibah ini.

Profil Singkat KH Muhammad Dachlan

KH Muhammad Dachlan adalah pejuang Angkatan 1945 dari Bekasi, Jawa Barat. Dia turut membesarkan ormas Islam pejuang seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Gerakan Pemuda Islam (GPI).

Di masa penjajahan, ia aktif berjihad dalam barisan pejuang Islam Hizbullah menghadapi penjajah/kompeni Belanda. Di masa kemerdekaan, Haji Dachlan juga aktif di lingkungan partai Islam legendaris, Masyumi. Ia pun mengikuti jejak Mohammad Natsir, pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), sebagai sesepuh di lembaga pencetak para dai tersebut.

Setelah Indonesia merdeka, teman dekat KH Noer Alie—Pahlawan Nasional dari Bekasi—itu tak pernah mencari manfaat demi kepentingan pribadi. Ia bahkan terus berjuang mengisi kemerdekaan.

Bahkan, sebagai orang yang pernah memperjuangkan kemerdekaan, Haji Dachlan terbilang kritis terhadap rezim yang berkuasa. Karena itu tak heran, jika dirinya kerap menjadi bulan-bulanan Kopkamtib Orde Baru (Orba) dengan berbagai tuduhan makar. Seperti M Natsir dan Buya Hamka, seolah “tidak sah” jika seorang aktivis Islam tak pernah mencicipi “cemeti” siksaan atau dinginnya terali besi.

Namun, seolah tak peduli ujian tersebut. Haji Dachlan tetap meneruskan langkahnya. Ada satu ruang kosong yang dijelajahinya, pasca Indonesia merdeka, yakni dakwah ke berbagai pelosok daerah tertinggal.

Meski fisik tak lagi muda, tubuh pun mulai renta, Haji Dachlan tetap istiqomah di medan juang baru yang digelutinya itu. Ia habiskan waktu, tenaga, pikirannya untuk menembus belantara jahiliyah lagi miskin, yang saat itu menyelimuti pelosok Bekasi Utara seperti Tanjung Air, Kramat Batok, Singkil, Sungai Kramat, Poncol, di wilayah Bekasi dan Sukaresmi, Jonggol, Kabupaten Bogor.

Keterbelakangan warga masyarakat di kawasan Bekasi Utara yang akut, membuatnya tak tinggal diam. Bertahun-tahun ia terjun ke gelanggang, berkeringat dalam dakwah dan menyantuni fakir miskin.

Haji Dachlan begitu prihatin melihat kemiskinan agama yang mengikuti kemiskinan materi. Karena kondisi minimnya pemahaman terhadap Islam, tak sedikit juga orang tak mengenal shalat dan pengetahuan tentang Islam. Saat berdakwah dahulu, ia bahkan sempat dibuat geleng-geleng kepala saat melihat ketidaktahuan warga di Kramat Batok tentang Idul Adha sebagai Hari Raya Islam.

Totalitas Haji Dachlan dalam soal dakwah memang tak bisa dianggap enteng. Dalam tujuh hari yang dimiliki, pria berputra 16 orang dari dua istri ini, menyisihkan setidaknya empat hari dalam sepekan untuk mengisi pengajian di Bekasi Utara.

Lalu dari mana Haji Dachlan yang penampilannya bersahaja ini menghidupi kegiatan dakwahnya? Tak lain, dari koceknya sendiri, melalui usaha yang dimilikinya. Memadukan dakwah dengan bersedekah, dinilainya sebagai metode paling efektif.

Maka tak heran jika Haji Dachlan dijuluki “Si Pitung dari Bekasi” sesuai dengan kisah kepedulian sosial si Pitung yang melegenda karena kerap menolong rakyat miskin dari kantongnya sendiri.

Di belakang Haji Dachlan, telah berdiri kurang lebih 14 yayasan yang bergerak di bidang pendidikan Islam dan panti asuhan. Yayasan itu memberikan pelayanan pendidikan terjangkau bagi kaum lemah di Kota dan Kabupaten Bekasi serta di Jakarta Timur. Selain itu, perjuangan “Si Pitung” dari Bekasi itu juga dilanjutkan dengan mendirikan lembaga yayasan Infaq Dakwah Center dan media Voice of Al Islam.

Dua lembaga tersebut kini berjuang di bidang dakwah dan sosial, serta menyajikan pemberitaan dan mengadvokasi kaum Muslimin dari sisi media. (AW)

Baca Juga