Belasan Pejuang Suriah dan Warga Sipil Dievakuasi dari Ghouta Timur

Pejuang dari Ghouta Timur yang terkepung diangkut dengan bus menuju Idlib melalui koridor al-Wafeedin.

GHOUTA (SALAM-ONLINE): Belasan pejuang Suriah dan sejumlah warga sipil telah dievakuasi dari Ghouta Timur yang dikuasai oposisi, kata sebuah sumber kepada Aljazeera, Sabtu (10/3/2018).

Menurut media rezim, 13 pejuang Hay’ah Tahrir al-Sham dievakuasi dengan keluarga mereka melalui jalur al-Wafeedin menuju provinsi Idlib.

Evakuasi berlangsung Jumat (9/3) di saat tentara rezim Basyar Asad mengintensifkan operasinya di pinggiran ibu kota Damaskus yang terkepung itu, televisi rezim melaporkan pada Sabtu (10/3).

Jaisyul Islam, salah satu kelompok utama pejuang oposisi di Ghouta Timur, mengumumkan telah menyetujui pengungsian (evakuasi) belasan pejuang Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) yang sebelumnya bernama Jabhah Fath al-Sham (JFS) dan Jabhah Nusra (JN) yang berafiliasi kepada Al-Qaidah.

Kesepakatan untuk evakuasi tersebut dicapai dengan bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan beberapa entitas internasional, selain anggota masyarakat sipil.

Kesepakatan itu terjadi setelah Jaisyul Islam mengirim sebuah surat bulan lalu ke PBB yang berjanji untuk memfasilitasi evakuasi mantan anggota Al-Qaidah tersebut.

Sementara pasukan rezim Suriah maju mendekati Mesraba dan Mudeira, dua kota kecil yang merupakan penghubung terakhir antara bagian utara dan selatan daerah kantong yang terletak di dekat ibu kota Suriah, Damaskus itu.

Jaisyul Islam dan Failaq al-Rahman, kelompok oposisi besar lainnya di Ghouta Timur, mengatakan bahwa mereka telah melancarkan serangan balasan dalam beberapa hari terakhir. Serangan balasan itu berhasil mengambil kembali beberapa posisi wilayah yang hilang.

Serangan tiga pekan yang dahsyat di markas besar oposisi terakhir di dekat Damaskus telah mengambil alih sekitar setengah wilayah dan membunuh 960 orang, kata kelompok pemantau perang.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris juga mengatakan pada Sabtu (10/3) bahwa pesawat dan helikopter tempur, serta artileri rezim membombardir wilayah tersebut dalam semalam.

Rezim Asad dan Rusia, sekutu utamanya, mengatakan bahwa serangan tersebut diperlukan untuk mengakhiri perlawanan kelompok oposisi di daerah tersebut.

Serangan itu mengikuti pola serangan sebelumnya, yang mengerahkan kekuatan udara dan pengepungan ketat yang memaksa kubu oposisi menerima kesepakatan “evakuasi”.

Kesepakatan “evakuasi” ini melibatkan kelompok oposisi yang menyerahkan wilayahnya dengan imbalan jalan yang aman ke daerah-daerah oposisi di barat laut Suriah. Belasan oposan itu hengkang dari Ghouta bersama keluarga mereka dan warga sipil lainnya yang tak ingin berada di dalam rezim Asad.

Namun, baik Jaisyul Islam maupun Failaq al-Rahman mengatakan bahwa mereka tidak menegosiasikan kesepakatan semacam itu untuk diri mereka sendiri.

Kekurangan

Sementara intensitas serangan rezim terhadap daerah kantong yang telah dikepung sejak 2013 dan mengalami kekurangan pasokan makanan serta obat-obatan itu telah menuai kecaman negara-negara Barat. Badan-badan bantuan PBB menutut dihentikannya serangan, mengakibatkan wilayah yang dihuni sekitar 400.000 penduduk tersebut mengalami krisis kemanusiaan luar biasa.

“Kondisi hidup sangat buruk … Pemilik toko dan pedagang mengirim pekerja mereka ke tempat penampungan untuk menjual makanan dengan harga tiga kali lipat sebelum serangan tersebut,” kata seorang pria di Saqba yang mengidentifikasi dirinya sebagai Abu Abdo dalam pesan suara.

Badan-badan bantuan telah mencoba untuk memberikan bantuan ke Ghouta Timur, namun mereka hanya mampu mendatangkan sebagian dari jumlah yang mereka inginkan.

Badan-badan PBB mengatakan bahwa sebagian besar pasokan medis telah dirampas oleh pejabat rezim Suriah.Sementara pasokan makanan yang dibawa masuk tidak mencukupi. (S)

Sumber: Aljazeera

Baca Juga