Soeripto: BNPT Salah Besar Sebut Solidaritas Palestina Penyebab Terorisme

Ketua KNRP/Pengamat Terorisme Soeripto. (Foto: MNM/Salam-Online)

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Pengamat Terorisme Soeripto menanggapi pernyataan Direktur Pencegahan BNPT Brigjen (Pol) Hamli yang meyebut aksi solidaritas terhadap pihak-pihak yang dizalimi seperti Palestina, Rohingya dan Maluku-Ambon sebagai salah satu pemicu terorisme.

Soeripto menegaskan bahwa apa yang diungkapkan Brigjen (Pol) Hamli itu adalah salah besar. Soeripto menilai Brigjen (Pol) Hamli memiliki pola pikir yang terbalik. Menurut pengamat intelijen ini, mestinya Hamli melihat sesuatu di balik aksi solidaritas itu, yakni sebuah persoalan yang mengakibatkan adanya aksi solidaritas tersebut.

Kok yang dipersoalkan aksi-aksinya, padahal aksi ini ada (karena ada) persoalan, (persoalan) ini yang gak dibahas,” ungkap Soeripto saat ditemui di acara penutupan Safari Ramadhan bersama 39 Ulama Palestina sekaligus pelepasan terhadap para tamu tersebut pada Kamis (31/5/2018) di Aula SMKN 57, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang digelar Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP).

Aksi solidaritas terhadap Palestina, menurut pengamat intelijen ini, adalah sebuah kewajaran, yakni untuk menumbuhkan kesadaran akan penderitaan yang dialami bangsa terjajah lagi dizalimi.

“Jadi wajar jika sebagian masyarakat ingin menunjukkan solidaritasnya itu melalui aksi-aksi bela Palestina,” terang Ketua KNRP ini. Apalagi, kata dia, masalah kemanusiaan yang terjadi di Palestina sampai saat ini belum juga dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi, komunikasi dan berbagai jalur resmi internasional lainnya.

“Karena selama ini nasib bangsa Palestina tidak ada yang memperhatikan. Perjuangan melalui diplomasi mentok. Termasuk jalur mass media digital, semua dikuasai oleh pihak yang tidak pro terhadap Islam,” ujar mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) di era Orde Baru itu.

Sebelumya diberitakan, Direktur Pencegahan BNPT Brigjen (Pol) Hamli mengatakan, penyebab munculnya teroris adalah ideologi, paham yang salah, solidaritas komunal karena melihat saudaranya dizalimi seperti Palestina, Rohingya, Maluku-Ambon.

Hamli mengungkapkan hal ini dalam diskusi bertema ‘Pemberitaan dan Penyiaran tentang Terorisme’ di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (30/5/2018).

Bagi Jenderal Polisi bintang satu ini, penyebab lainnya adalah sikap balas dendam keluarga yang menjadi korban, termasuk aksi balas dendam akibat kekejaman yang dialami oleh suatu kelompok, seperti pembantaian yang dialami etnis Rohingya.

“Apakah kita akan menyiarkan besar-besaran konflik di sana? Karena motivasi balas dendam sering muncul,” ujarnya.

Menurut Hamli, sebagai bentuk balas dendam terhadap apa yang dialami oleh etnis Rohingya, maka teroris di Indonesia bisa menyerang vihara, tempat ibadah umat agama Budha yang merupakan pemeluk mayoritas agama tersebut di Myanmar. “Kalau nggak kedutaan Myanmar, vihara yang diserang,” ujarnya.

Hamli juga menyebut teroris separatisme. Namun, dia menganggap teror yang disebabkan oleh faktor itu tidak terlalu besar persentasenya. (MNM/Salam-Online)

Baca Juga