Ditolak Penjajah Zionis, Aktivis Swedia Ini Dapat Kewarganegaraan Palestina

Benjamin Ladraa melakukan perjalanan (dengan berjalan kaki) selama 11 bulan dari Swedia ke Palestina untuk meningkatkan kesadaran kepada dunia akan pendudukan/penjajahan Zionis “Israel” yang sedang berlangsung terhadap bangsa Palestina. Sesampainya di Palestina, dia ditolak masuk oleh penjajah Zionis. Namun Presiden Palestina Mahmoud Abbas akan memberinya kewarganegaraan Palestina.

Aktivis Swedia, Benjamin Ladraa, berjalan kaki selama 11 bulan lebih menuju Palestina

SALAM-ONLINE: Upaya seorang aktivis Swedia untuk mencapai Palestina yang diduduki, setelah menghabiskan lebih dari 11 bulan berjalan kaki melalui dataran tinggi, hutan dan jalur yang berlumpur, telah berakhir. Dia tiba di Palestina, tetapi penjajah Zionis “Israel” mengusirnya dari perbatasan.

Benjamin Ladraa (25), memulai perjalanannya pada 5 Agustus 2017 menuju Palestina. Tujuan perjalanannya adalah untuk meningkatkan kesadaran kepada dunia akan pendudukan/penjajahan Zionis “Israel” terhadap Palestina yang sudah berlangsung selama 70 tahun lebih.

Namun pada Jumat (6/7/2018) pagi, para pejabat penjajah menolaknya masuk di persimpangan Allenby yang menghubungkan Yordania dengan Tepi Barat yang diduduki.

“Saya menghabiskan waktu 11 bulan melakukan perjalanan ini untuk meningkatkan kesadaran akan pendudukan/penjajahan (yang dilakukan Zionis ‘Israel’). Meskipun diinterogasi dan ditolak masuk, saya akan melakukannya lagi,” kata Ladraa, pemuda asal Swedia itu seperti dikutip Aljazeera, Ahad (8/7).

Berjalan selama antara delapan hingga 10 jam sehari, Ladraa melintasi total 13 negara dengan berjalan kaki di rute yang sama sebagaimana digunakan oleh para pengungsi dan migran.

Dipaksa untuk tidur di bangunan yang ditinggalkan dengan kondisi cuaca musim dingin yang ekstrem, perjalanannya dilihat dan berhasil mengumpulkan lebih dari 18.000 pengikut di Instagram dan lebih dari 20.000 di Facebook.

“Saya berhasil mengumpulkan ribuan orang (di media sosial) melalui kampanye ini dan semoga meningkatkan kesadaran lebih lanjut tentang penderitaan rakyat Palestina,” katanya.

Penjajah “Israel” sendiri, kata Ladraa, memiliki sejarah panjang menolak orang Palestina dan aktivis di perbatasan. “Jadi saya tidak terkejut mereka menolak saya masuk,” terangnya.

Ladraa mengatakan, para petugas penjajah menginterogasi dia selama enam jam. Mereka menyatakan, tidak akan mengizinkan Ladraa masuk karena menganggap aktivis asal Swedia keturunan Yahudi itu “berbohong”.

“Mereka memberi dua alasan untuk menolak masuknya saya. Pertama, mereka menuduh saya berbohong. Kedua, mereka mengklaim saya datang untuk mengatur unjuk rasa di desa Nabi Saleh (dekat Ramallah), sesuatu yang sama sekali tidak benar,” ungkap Ladraa.

Benjamin Ladraa, saat memasuki sebuah negara, kerap disambut warga dan menemaninya beberapa waktu

Selama beberapa tahun, penjajah Zionis berusaha membendung aktivis yang mendukung gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS) yang memimpin kampanye non-kekerasan dengan tujuan menekan penjajah “Israel” untuk mematuhi hukum internasional.

Tahun 2017 lalu, Perdana Menteri penjajah, Benjamin Netanyahu, mengamandemen undang-undang yang memungkinkan penjajah “Israel” menolak visa masuknya aktivis yang mendukung BDS atau menentang permukiman ilegal.

“Israel memiliki sejarah panjang untuk menolak warga Palestina dan aktivis di perbatasan, jadi saya tidak terkejut mereka menolak saya masuk,” kata Ladraa.

“Mereka memiliki banyak hal untuk disembunyikan dan tahu apa dampak yang (pengetahuan) yang dimiliki oleh aktivis HAM. Pekan lalu mereka mencegah (aktivis BDS) Ariel Gold datang … Mereka takut dengan peran yang kita mainkan dalam mengekspos ‘Israel’ dan bekerja menuju kebebasan Palestina.”

Penyalahgunaan dan kekerasan

Ladraa mengatakan ketika diinterogasi di perbatasan (Yordania), dia menjadi sasaran penyiksaan yang dilakukan oleh pejabat keamanan penjajah yang mempertanyakan alasannya untuk melakukan perjalanan tersebut.

“Mereka akan mengubah nada mereka selama interogasi. Satu menit mereka akan sopan, selanjutnya mereka akan menjadi kasar dan agresif,” terang Daraa.

Musisi Swedia itu mengatakan pengalaman tersebut mengingatkannya pada perjalanannya melalui Eropa Timur saat penduduk setempat salah melaporkannya ke polisi.

Salah satu yang menarik dari perjalanannya adalah penahanannya di Austria. Ladraa mengatakan dia dijemput oleh penjaga di kedutaan penjajah “Israel” di Wina karena bendera (Palestina) dan trolinya.

Mendengar ujian berat yang dialaminya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas akan memberikan kewarganegaraan kepada Ladraa pada Jumat (6/7) dan menganugerahkan Medal of Merit kepadanya.

Aktivis perdamaian asal Swedia, Benjamin Ladraa (25), melintasi total 13 negara menuju Palestina dengan berjalan kaki selama 11 bulan lebih di rute yang sama seperti digunakan oleh pengungsi dan migran (Aljazeera)

Anggota Komite Eksekutif Pembebasan Organisasi Palestina (PLO) Hanan Ashrawi mengatakan dukungan Ladraa untuk Palestina “mewakili hati nurani kemanusiaan”.

“Atas nama pimpinan dan rakyat Palestina, kami menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada Ladraa,

“Dia telah menunjukkan keberanian dan integritas yang luar biasa dengan mengadvokasi atas nama rakyat Palestina dan mendidik komunitas internasional tentang pelanggaran terus-menerus ‘Israel’ dan tindakan agresi terhadap kehidupan, tanah, dan sumber daya Palestina,” kata Hanan Ashrawi. (S)

Sumber: Aljazeera

Baca Juga