Dari Masjid, Lombok Bangkit

“Bagaimana pun keadaannya, orang yang tangannya di atas selalu lebih unggul dari orang yang tangannya di bawah.”

Warga Dusun Jorong , Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Shalat Jum’at pertama di ‘Masjid Istimewa Ramah Gempa’, Jumat (10/8/2018). Sebelum ‘masjid darurat’ itu didirikan, warga Shalat Jum’at di petak sawah yang dibabat menjadi lapangan. (Foto: Aghniya/INA News Agency)

LOMBOK (SALAM-ONLINE): “Saya sungguh bahagia!” Ada rasa bergemuruh dalam dada Aji Wira, pengungsi asal Dusun Jorong Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur.

Apa gerangan yang membuat seorang pengungsi korban gempa Lombok ini begitu bahagia?

“Saya bahagia karena bisa berbagi,” kata pria paruh baya itu kepada INA News Agency, Sabtu (18/8/2018). Matanya berkaca-kaca ketika membopong sekarung wortel hasil panennya untuk dibagikan kepada para pengungsi di daerah Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Sudah beberapa hari ini—seminggu pasca gempa 7 magnitudo melanda Lombok 5 Agustus 2018—para pengungsi di Desa Sembalun Bumbung Lombok Timur justru tergerak hatinya untuk turut membantu para pengungsi korban gempa lainnya di Lombok Utara.

“Rumah saya rata dengan tanah Pak,” Aji Wira mengenang. Para pengungsi di hadapan Pak Aji, sapaan karibnya, tak kuasa mengucapkan apa pun.

Mereka berdecak kagum. Bagaimana mungkin seorang yang rumahnya luluh lantak malah turut membantu para korban lainnya?

Para pengungsi ini saling berpelukan dan saling berbisik untuk saling mendoakan. “Terima kasih, kami terharu,” kata pria bersarung datang memeluk Aji Wira.

Aji Wira. (Foto: Aghniya/INA)

Setelah menempuh perjalanan lebih dari empat jam, seakan ‘penderitaan’ Pak Aji sirna saat melihat wajah saudaranya yang juga senasib.

Senyum sumringah tak hanya merekah dari wajah Pak Aji. Masih ada ribuan pengungsi di Desa Sembalun Lombok Timur, yang justru kini merasakan kebahagiaan seperti dirasakan Pak Aji. Padahal, seluruh penduduk Sembalun Bumbung kini mengungsi.

Pak Oza, tokoh masyarakat Sembalun mengatakan gerakan berbagi ini berawal dari masjid. Masjid sederhana yang dibangun seminggu usai gempa besar kedua melanda Lombok.

“Kami sempat shalat Jumat di sawah,” katanya. Tepatnya di tengah sawah yang dibabat menjadi lapangan. Warga Jorong, Sembalun Bumbung, Lombok Timur, tidak berani kembali ke masjid-masjid mereka, yang retak dan separuh doyong.

“Alhamdulillah, berkisar dua minggu setelah mereka mengungsi karena gempa (pertama), datang kawan-kawan lembaga Sinergi Foundation bersama warga mendirikan masjid,” kata Oza.

Masjid darurat Jorong Sembalun, warga menyebutnya. Bangunan sederhana beratap terpal berwarna jingga itu sekilas nampak seperti tenda-tenda pengungsian lainnya. Tiang penyangganya berbahan bambu, diikat dengan bambu pula.

Siapa sangka, di bawah terpal itu, kalam suci mengalun merdu. Di kaki gunung Rinjani itu suara adzan menggema. Di bangunan sederhana itu, para pengungsi berdiri, ruku’ dan sujud. Bangunan sederhana ini lebih dari cukup bagi mereka untuk shalat berjamaah dengan nyaman.

Musyawarah warga. (Foto: Aghniya/INA)

Masjid ini berdiri tegak; tanpa menara; tanpa pelantang; tanpa beton bertulang yang justru luluh lantak dihantam gempa. Dari bawah bungkusan terpal ini, warga memupuk harapan.

Adalah relawan Sinergi Foundation saat itu, Ustadz Maftuh Supriadi yang disebut Oza menginspirasi warga agar optimis dan bangkit.

“Gerakan berbagi ini diinisiasi bersama dari Masjid sederhana ramah gempa ini,” tutur Oza.

Ia mengatakan bahwa masjid ini dibuat bersama-sama dan ‘dikebut’ hanya setengah hari, sehingga shalat Jumat kini bisa digelar di masjid.

Pada shalat Jumat pertama—setelah ada masjid—ini pula, Ustadz Maftuh didaulat warga menjadi khatib. Kesempatan ini dimanfaatkan sang ustadz untuk terus menguatkan tauhid bahwa semua yang terjadi merupakan rencana Allah, Sang Maha Pengasih.

“Saya ingin warga Sembalun Lombok Timur, bangkit dan tidak terus menerus berkabung dengan musibah gempa,” harap Ustadz Maftuh.

Ustadz Maftuh. (Foto: Aghniya/INA)

“Makanya saat ceramah, beberapa kali saya sampaikan kisah Abdurrahman bin Auf yang saat hijrah dalam keadaan miskin dan kelaparan. Kendati demikian, ia tetap bersemangat kerja dan bersedekah meski dalam kondisi sulit,” terangnya.

Ceramah Ustadz Maftuh ini, kata Oza, justru tak disangka membuat warga begitu terharu. Esok harinya, warga berdatangan ke masjid darurat membawa hasil bumi: sayur; bawang; tomat; selada; strawberi; dan sebagainya.

“Mereka semangat memberikan bantuan untuk saudara kita di Lombok Utara, yang terdampak gempa lebih parah. Mereka mendermakan 45 ton sayuran hasil tani mereka,” kenang Oza.

Tak ada yang menyangka, dari bawah masjid sederhana berlapis terpal ini, ruang solidaritas terus mengalir. Satu per satu warga kembali tersenyum ceria.

“Bahwa memang kami sedang susah, tapi masih banyak warga yang rupanya lebih membutuhkan bantuan kita,” kata Aji Wira.Di Sembalun Bumbung sendiri, hingga hari ini, Sabtu (18/8/2018), lebih dari 50 ton sayuran hasil bumi disumbangkan untuk korban gempa di Lombok Utara, termasuk oleh sahabat kita tadi, Pak Aji Wira.

Koordinator Lapangan relawan Sinergi Foundation, Eggie Ginanjar mengatakan bahwa dia bersama warga Sembalun kini akan membangun masjid yang lebih layak sebagai pusat aktivitas warga: belajar, musyawarah, trauma healing, taushiyah, dan lainnya.

“Insya Allah dari masjid, Lombok bangkit, Sembalun telah mengajarkan kita,” ujar Eggie. (Rizki Lesus/INA)

Baca Juga
awefawef88449
%d bloggers like this: