Masyarakat Pakistan Kampanyekan ‘Beli Lira’ untuk Solidaritas terhadap Turki

ISLAMABAD (SALAM-ONLINE): Para politisi Pakistan, masyarakat sipil dan aktivis media sosial secara resmi telah meluncurkan kampanye “Beli Lira” selama tiga tiga hari di seluruh negeri.

Hal itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas untuk Turki yang menghadapi tekanan keuangan dari Amerika Serikat (AS) karena telah menahan seorang pendeta AS yang disebut Turki disebut sebagai mata-mata dalam kudeta yang gagal tahun lalu.

Banyak orang Pakistan bergegas ke tempat penukaran uang untuk membeli lira Turki di ibu kota Islamabad, Karachi, Lahore dan kota-kota lainnya.

Acara kampanye utama diselenggarakan secara bersama oleh politisi dan aktivis media sosial di Islamabad Press Club.

Dr. Asif Luqman Qazi, putra almarhum mantan pemimpin Jamaat Islami, Qazi Hussein Ahmed, mengatakan bahwa orang pakistan dan orang turki sejatinya adalah satu bangsa.

“Orang Pakistan dan Turki adalah satu bangsa. Turki selalu mendukung Pakistan … sekarang Turki membutuhkan kami,” ungkap Asif seperti dilansir Anadolu Agency, Sabtu (18/8/2018).

Asif mengatakan pengadaan Lira dan produk Turki akan terus berlanjut bahkan setelah puncak kampanye.

Abdul Rasheed Turabi, seorang anggota parlemen dari Azad Kashmir, mengatakan, “Kami telah berkumpul di sini untuk mengekspresikan solidaritas dengan pemerintah dan warga Turki. Setiap negara memiliki hak untuk mengatur urusannya sesuai dengan hukumnya sendiri. Tidak ada negara yang berhak ikut campur dalam urusan negara lain. Turki memiliki hak untuk membela kedaulatannya.”

Di Karachi, pedagang, aktivis media social dan masyarakat sipil, termasuk wartawan, berkumpul di luar Press Club untuk mengekspresikan solidaritas mereka terhadap Turki.

“Orang Turki tidak boleh merasa mereka sendirian dalam perang melawan hegemoni. Rakyat Pakistan bersama mereka,” ungkap Presiden Asosiasi Pedagang Kecil Karachi, Mahmood Hamid.

Pekan lalu, satu Lira dijual seharga 21 rupe Pakistan. Saat ini, satu Lira Turki dijual seharga 25 rupee. Bahkan di pasar gelap, harga Lira lebih tinggi, naik menjadi 28 rupee.

Turki dan AS saat ini mengalami ketegangan setelah Washington memberlakukan sanksi terhadap dua menteri Turki karena tidak melepaskan pendeta Amerika, Andrew Craig Brunson, yang dituduh terkait dengan terorisme di Turki.

Pada 10 Agustus 2018 lalu, Presiden Donald Trump meningkatkan serangan serangannya ke Turki dengan menggandakan tarif impor aluminium dan baja Turki untuk AS.

Rabu (15/8) lalu, sebagai pembalasannya Turki menaikkan tarif pada beberapa produk asal AS, termasuk alkohol, produk tembakau dan mobil. (MNM/Salam-Online)

Sumber: Anadolu Agency

Baca Juga