Mudzakarah Ulama di Tasikmalaya Kukuhkan Ijtima Ulama di Jakarta

Sebagian peserta Mudazakarah Ulama dan Kongres Mujahidin V di Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: Ali/INA)

TASIKMALAYA (SALAM-ONLINE): Mudzakarah Ulama dan Kongres Mujahidin V yang digelar selama tiga hari dari Ahad hingga Selasa, 5-7 Juli 2018 di Tasikmalaya, Jawa Barat, menghasilkan Manifesto Ulama dan Umat.

INA News Agency melansir, manifesto tersebut berisi tiga poin. Pertama, menetapkan Resolusi Konstitusional Pemerintah RI untuk kembali kepada Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sesuai dengan penetapan Keppres Nomor 150 tahun 1959, LNRI Tahun 1959 Nomor 75 dan Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959.

Kedua, mengundangkan Syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi umat Islam bangsa Indonesia, dan

Ketiga, Mudzakarah Ulama di Tasikmalaya mengukuhkan keputusan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta tentang pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Namun jika terjadi deadlock politik, maka harus ada calon alternatif yang sesuai dengan Syariat Islam secara utuh.

Di antara ketiga poin tersebut, poin nomor tiga merupakan yang paling disoroti peserta.

Para perwakilan dari daerah diberi kesempatan oleh pemimpin sidang untuk mengungkapkan pandangan, usulan atau informasi berkaitan dengan rencana pengusungan Presiden dan Wakil Presiden yang didukung umat.

Dari pengamatan Salam-Online di lokasi acara, Ahad (5/8) mayoritas peserta sepakat mendukung rekomendasi Ijtima Ulama untuk mengusung Prabowo Subianto dan Dr Habib Salim Segaf Al-Jufri atau Ustadz Abdul Somad (UAS) sebagai calon presiden dan wakil presiden.

Namun, ada pula yang memberi alternatif pilihan sehingga muncul nama-nama seperti Anies Baswedan, Anis Matta, Yusril Ihza Mahendra, Gatot Nurmantyo, hingga Ustadz Bachtiar Nasir.

Sidang yang dimulai sejak ba’da shalat Ashar itu pun berlangsung dinamis. Tim perumus membutuhkan waktu beberapa jam untuk mangakomodir berbagai usulan peserta.

Sekitar pukul 21.00 WIB kurang, skors sidang dicabut dan pimpinan sidang telah memegang hasil rumusan. Ketika dibacakan, peserta kembali diberi kesempatan untuk menanggapi hasil rumusan.

Dinamika persidangan kembali hidup meski hari semakin larut. Namun, peserta yang mulai kelelahan karena mengikuti serangkaian acara sejak Subuh nampaknya tak ingin lagi diberi alternatif lain selain capres dan cawapres rekomendasi Ijtima Ulama yang digelar di Jakarta belum lama ini.

Bahkan, kalau bisa, sebagian besar peserta menginginkan dua nama cawapres yang direkomendasikan Ijtima Ulama kembali dikerucutkan menjadi satu saja, yakni UAS.

Dengan demikian, dalam manifesto tersebut, dukungan utama peserta mudzakarah tetap ditujukan pada capres-cawapres hasil rekomendasi ijtima ulama, baik itu Prabowo-Habib Salim atau Prabowo-UAS.

Namun, berhubung keputusan penentuan calon pasangan masih menunggu deal-deal di tingkat partai, maka alternatif pun dimunculkan jika capres-cawapres rekomendasi ijtima pada akhirnya disingkirkan oleh partai-partai pengusung. (SF/Salam-Online/INA)

Baca Juga