PM Bangladesh: Tanpa Alasan, Myanmar Tunda Pemulangan Rohingya  

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina

DHAKA (SALAM-ONLINE): Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, pada Ahad (2/9/2018) mengatakan, tanpa alasan khusus, Myanmar menunda proses repatriasi warga Rohingya yang saat ini banyak berada di Bangladesh karena mengungsi dan menghindari kekerasan yang dilakukan pasukan Myanmar.

“Ketika kami berbicara, Myanmar selalu mengatakan siap untuk mengambil kembali warga negaranya. Tetapi kenyataannya adalah apa yang mereka katakan, tidak mereka lakukan,” kata Hasina pada konferensi pers yang diadakan di Dhaka setelah kunjungan dua harinya ke Nepal untuk menghadiri KTT BIMSTEC (Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation), blok ekonomi tujuh negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Hasina seperti dilansir kantor berita Anadolu, Ahad (2/9), mengatakan masalah Rohingya tidak dibahas pada acara KTT, tetapi dia telah bertemu Presiden Myanmar Win Myint di KTT tersebut.

“Dia mengakui perjanjian yang kami tandatangani. Myanmar mengatakan mereka siap untuk mengambil kembali warga negara mereka,” kata Hasina.

Desember 2017 lalu, Bangladesh dan Myanmar menandatangani perjanjian untuk memulangkan warga Rohingya tetapi prosesnya belum dimulai.

Hampir 24.000 Rohingya terbunuh

Dalam laporan badan pengungsi PBB (UNHCR), hampir 170.000 orang Rohingya melarikan diri dari Myanmar pada 2012.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh aparat bersenjata Myanmar.

Dalam laporan baru-baru ini, OIDA meningkatkan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh menjadi 23.962. Jumlah yang lebih besar dari hitungan lembaga kemanusiaan Doctors Without Borders yang melaporkan sebanyak 9.400 orang.

OIDA melaporkan, lebih dari 34.000 orang Rohingya telah dibakar. Sementara lebih dari 114.000 lainnya disiksa. OIDA juga mencatat ada 17.718 wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar.

Sementara, lebih dari 115.000 rumah warga Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 minoritas Muslim Rohingya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh. Hal itu terpaksa dilakukan setelah mereka mendapatkan tindakan kekerasan dari pasukan Myanmar di negara bagian Rakhine, Myanmar. (MNM/Salam-Online)

Sumber: Anadolu Agency

Baca Juga