Warga Suriah Berharap Turki Lindungi Idlib dari Serangan Rezim Asad

IDLIB (SALAM-ONLINE): Hari ini, Jumat (7/9/2018), Turki, Iran dan Rusia, menggelar pertemuan untuk menentukan bagaimana provinsi Idlib, yang dikuasai oposisi Suriah, ke depannya. Warga Suriah yang tinggal di provinsi Idlib, merasa khawatir akan kemungkinan serangan rezim Basyar Asad dan sekutu-sekutunya setelah pertemuan tiga negara tersebut.

Warga Idlib berharap Turki dapat memastikan keamanan di kawasan tersebut. Penduduk Idlib mendesak Turki untuk meningkatkan jumlah titik pengamatannya di Idlib agar dapat melindungi warga sipil dari serangan yang diyakini sudah dekat.

Oleh karenanya warga Idlib juga diminta selepas shalat Jum’at hari ini untuk turun ke jalan menyatakan dukungan kepada revolusi.

Kepada Anadolu Agency, warga Idlib, Abdurrahman—yang menolak memberikan nama belakangnya karena alasan keamanan—mengatakan serangan besar-besaran oleh rezim kemungkinan akan mendorong munculnya pengungsi baru.

“Tapi saya pikir oposisi di Idlib, yang menolak untuk berdamai dengan rezim, akan mampu mengusir serangan seperti itu,” kata Abdurrahman.

“Saya berharap Turki memberi mereka dukungan yang memadai dalam hal ini,” tambahnya.

Ahmad Allush, warga sipil lainnya di Idlib, mengatakan serangan besar oleh rezim dan sekutunya akan mendorong sejumlah pengungsi melarikan diri ke Turki.

“Situasinya serius. Ada orang-orang di kawasan itu (Idlib) yang menolak untuk berdamai dengan rezim,” ujar Ahmad.

“Saya berharap Turki akan membantu Idlib menjadi kota damai dan aman tanpa konflik bersenjata,” tambahnya.

Saed Saed, penduduk lokal lainnya, mengatakan oposisi akan terpaksa membalas jika pasukan rezim menyerang Idlib.

“Saya tidak berpikir rezim akan menyerang wilayah itu karena 1.000 pejuang sedang menunggu mereka,” terang Saed.

Terletak di dekat perbatasan Turki, Idlib yang menjadi wilayah kekuasaan oposisi, adalah rumah bagi lebih dari tiga juta warga Suriah. Banyak di antara mereka adalah warga luar Idlib yang melarikan diri dari serangan rezim.

Pada Mei lalu, Idlib ditetapkan sebagai “zona de-eskalasi”, di mana tindakan agresi secara tegas dilarang. Penetapan tersebut sebagai bagian dari pembicaraan perdamaian yang berlangsung di ibu kota Kazakhstan, Astana. (MNM/Salam-Online)

Sumber: Anadolu Agency

Baca Juga