Di Kota Kecil Turki Ini Orang Miskin tak Pernah Kelaparan

Sejumlah restoran di sebuah kota kecil di Anatolia timur ini menawarkan makanan gratis bagi mereka yang membutuhkan. Sebuah tradisi yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Sekelompok warga berkumpul untuk minum teh di depan restoran Merkez, di Karakoçan (Zeyneb Varo/MEEl)

KARAKOCAN (SALAM-ONLINE): Di bawah sinar matahari yang menyilaukan pada Sabtu sore di bulan Agustus, sebuah restoran di kota kecil timur Turki menyambut “pelanggan yang paling berharga”.

Ini hanya salah satu dari banyak tempat di kota di mana mereka yang membutuhkan diundang untuk makan gratis. Tradisi yang terawat baik ini telah diturunkan dari generasi ke generasi yang sudah berlangsung dalam beberapa dekade.

Karakocan, sebuah kota yang berjarak 70 menit berkendaraan (darat) ke utara dari pusat provinsi Elazıg, telah menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena tradisi menawarkan makanan gratis kepada mereka yang membutuhkan. Bagi penduduk setempat, tradisi ini adalah cara memenuhi tanggung jawab mereka untuk membantu mereka yang kurang beruntung.

Mehmet Ozturk (55), pemilik dan pengelola salah satu restoran tersibuk di Karakocan, restoran Merkez, selama hampir 35 tahun, mengatakan ia selalu menyediakan setidaknya tiga meja bagi mereka yang membutuhkan, bahkan saat jam sibuk ketika restorannya penuh sesak. Kata Ozturk, “Orang miskin tidak pernah tak datang”.

Pada hari tertentu, Ozturk mengatakan, setidaknya 15 orang datang ke restorannya untuk mendapatkan makanan gratis. Menurut penduduk setempat, sekitar 100 orang makan gratis setiap hari di seluruh kota yang dihuni sekitar 28.000 orang itu, menurut statistik resmi.

Galip adalah salah satu wajah yang akrab memperoleh makanan gratis. Ia sudah makan gratis di sana setiap hari selama 10 tahun terakhir. “Dia ada di sini untuk sarapan dan dia mungkin akan datang lagi untuk makan malam juga,” kata seorang pelayan muda yang dilansir Middle East Eye, Jumat (19/10/2018).

Galip menderita sedikit penyakit mental. Oleh karenanya dia tidak banyak dapat berbagi.

“Merkez adalah tempat (restoran) favorit saya di kota ini, karena makanannya luar biasa,” kata Galip.

Galip biasa makan di Merkez Restaurant. Dia datang ke Merkez Restaurant, di Karakocan, Turki ini, setidaknya dua kali sehari untuk mendapatkan makan gratis.(Foto: Zeyneb Varo/Middle East Eye)

Restoran memberikan Galip dan lainnya makanan gratis yang mereka pilih dari berbagai menu yang tercantum, termasuk kebab, ayam, sup, nasi dan salad.

Ozturk mengatakan, tradisi itu selalu ada di sini, lebih dari 70 tahun yang lalu. “Bagi kami itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan, sesuatu yang kami pelajari dari para orang tua (pendahulu) kami,” ungkapnya.

Menurut warga, tradisi ini pertama kali dimulai pada 1940 di restoran Merkez, salah satu restoran pertama di kota itu. Ketika para pemilik restoran mulai menawarkan makanan gratis kepada mereka yang membutuhkan setiap hari, kebiasaan itu dengan cepat diikuti oleh restoran lain di kota tersebut.

“Saya ingat Hacı Huseyin, mantan pemilik restoran. Saya menyaksikan antusiasmenya Huseyin, ketika saya menunggu makanan di meja di usia saya yang masih sangat muda. Dia biasa ke jalanan untuk mencari orang yang membutuhkan makan,  membawa mereka dalam satu kelompok ke restoran. Kadang-kadang tiga, kadang lima kali sehari,” ungkap Ozturk.

Pada 1982, saudara-saudara tertua Ozturk kembali dari Jerman, tempat mereka bekerja, dan hidup layak. Mereka membeli restoran Merkez dari pemilik sebelumnya untuk memulai bisnis keluarga. Ozturk akhirnya menjadi pemilik tunggal restoran tersebut.

Altı boluk

Ada sekitar lima restoran besar di pusat kota yang masing-masing menghormati tradisi filantropi (suka membantu) ini. Orang-orang yang mendapatkan makanan gratis cenderung menjadi pelanggan tetap. Wajah-wajah mereka yang akrab terlihat mengunjungi restoran untuk makan setidaknya dua kali sehari.

Ozturk mengatakan bahwa sebagian besar pengunjung rutin restorannya menderita cacat, seperti menderita penyakit mental. Tetapi bagi pemilik restoran, para tamu wajah-wajah baru, termasuk mereka yang mengunjungi kota dari tetangga Bingol dan Tunceli, adalah bagian yang memuaskan dari pengalaman (filantropi) tersebut.

Restoran Karakocan bahkan telah menciptakan nama khusus untuk pelanggan yang makan gratis. Hal ini untuk menghindari penggunaan kata “miskin”. Setiap pelanggan yang mengatakan bahwa mereka berada di antara boluk altar (enam divisi), sub-divisi resimen tentara, dapat makan gratis di restoran Karakocan.

Menurut penduduk, nama alti boluk memiliki kaitan dengan Ottoman (Kekhalifahan Utsmani), mengacu pada Kapıkulu Suvarileri (juga dikenal sebagai enam divisi), yang merupakan kavaleri keluarga Sultan, yang menjalankan bisnis atau membangun ikatan emosional kepada siapa pun, selain Sultan sendiri.

Kemurahan hati juga melampaui makan gratis untuk enam divisi, karena restoran pun menggratiskan makanan di seluruh kota pada hari libur Islam, termasuk Idul Fitri, Idul Adha dan sepanjang bulan suci Ramadhan.

Berkah

Hasan Gulbasan, yang keluarganya memiliki akar yang dalam di kota ini sejak beberapa generasi, mulai bekerja sebagai pencuci piring ketika dia berusia 14 tahun. Sejak itu ia mengelola lima restoran yang berbeda di Karakocan. Dan sekarang Gulbasan menjadi pemilik restoran Saray Lokantasi.

Hasan Gulbasan di restorannya, Saray Lokantası, di Karakoçan, Turki ( Foto: Zeyneb Varol/MEE)

Gulbasan mengatakan dia mulai menerima ucapan terima kasih dari orang-orang asing di seluruh Turki setelah mengetahui tradisi tersebut. “Saya memberi tahu mereka apa yang kami lakukan tidaklah unik. Mengundang orang miskin tidak berdampak sedikit pun (mengurangi) penghasilan saya, jika sesuatu itu membawa berkah,” kata Gulbasan.

Penduduk setempat mengatakan, kota mayoritas Muslim itu memupuk keyakinan bahwa membantu mereka yang membutuhkan akan membawa barakah. Prinsip timbal balik Islam menunjukkan semakin banyak berkah yang Anda berikan, semakin banyak Anda akan menerima (rezeki).

Veteran berusia 65 tahun itu mengatakan bahwa kebiasaan itu hanyalah satu contoh dari sejarah panjang berbagi di kota tersebut. Dia mengatakan dengan bangga tentang bagaimana Kota Karakocan meluncurkan kampanye berskala besar untuk mengirim bantuan kemanusiaan ke Aleppo, Suriah, tahun lalu, serta korban gempa Van di Turki tenggara pada 2011 yang menyebabkan lebih dari 500 orang meninggal dan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

“Tidak peduli siapa yang Anda tanya di Provinsi Elazig ini, mereka akan memberi tahu Anda tentang kemurahan hati (warga) Karakocan,” kata Gulbasan.

Orang kaya merasa bertanggung jawab

Sebuah kota yang jauh lebih makmur telah menjadi rumah bagi orang-orang (pengusaha) kaya. Sebagian besar dari mereka mendanai pekerjaan mereka dengan pengiriman uang dari kerabat ekspatriat yang tinggal di Jerman, Belanda, Prancis dan Austria.

“Orang-orang di sini semua memiliki setidaknya satu kerabat di Eropa yang mengirim uang secara teratur. Anda dapat dengan mudah mengenali kemakmuran di kota ini setelah mengunjungi distrik pusat (Provinsi) Elazıg untuk perbandingan,” kata Celal Kaya, seorang pejabat distrik dan kepala Persatuan Penyediaan Layanan ke Desa-desa.

Kaya, yang pekerjaannya membutuhkan kunjungan ke-89 daerah permukiman Karakocan untuk memastikan bahwa layanan penting sedang disampaikan, mengatakan orang kaya merasa bertanggung jawab untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Dikatakan, kota itu telah membentuk sistem sosial kesejahteraan sendiri.

“Kami baru-baru ini meminta sebuah restoran untuk menyediakan makanan bagi keluarga miskin dan membayarnya melalui rekening gubernur. Mereka menolak (dibayar dari rekening gubernur), tetapi menyatakan menanggung semua pengeluaran (makanan) untuk keluarga miskin itu,” kata Kaya.

Mengubah dinamika

Karakocan terus mempertahankan keramahtamahan dan kedermawanannya yang terkenal berkat aliran mata uang asing yang berasal dari kerabat migran. Penduduk setempat bahkan bercanda dengan mengklaim mereka adalah satu-satunya yang tidak terpengaruh oleh krisis keuangan Turki pada 2001.

Namun, penduduk setempat yang khawatir mengatakan dinamika kota sedang mengalami perubahan. Generasi kedua dan ketiga dari mereka yang meninggalkan Karakocan untuk masa depan yang lebih baik di Eropa pada 1970-an dan 80-an tidak mengunjungi kota itu seperti orang tua mereka dahulu. Sebaliknya, mereka memilih untuk menghabiskan liburan musim panas di kota-kota resor Turki di Antalya dan İzmir.

“Ketika hubungan yang kuat ini perlahan menghilang, pengiriman uang para pekerja akan berakhir pada akhirnya,” Kaya mengungkapkan kekhawatirannya itu.

“Sisi cerita itu sedikit memprihatinkan,” Kaya menegaskan. “Tidak ada satu keluarga pun di sini yang tidak menerima kiriman uang dari Eropa dan mereka sangat bergantung pada keluarga mereka (sebagai migran).”

Hasan Gulbasan (tengah) dan pelanggan restoran Saray di Karakoçan, Turki (Foto: Zeyneb Varol/MEE)

Kaya menjelaskan bahwa banyak kerabat yang tinggal di Eropa telah menjadi mitra dalam bisnis di Karakocan. Tetapi mereka juga mengirim banyak uang untuk membantu keluarga mereka, serta untuk tujuan investasi.

Sumber daya ekonomi yang menjamin tingkat kemakmuran di Karakocan mungkin bisa saja genting, tetapi budaya mengulurkan tangan membantu memiliki akar yang kuat dan dalam di masyarakat kota ini. Sampai-sampai penduduk setempat menolak memberi label untuk membantu orang lain sebagai amal, tetapi mereka menyebutnya sebagai “kewajiban agama dan manusia”. (mus)

Sumber: Middle East Eye

Baca Juga