Kembali ke Negaranya, 20 Pengungsi Suriah Dibunuh oleh Rezim Asad

Pengungsi Suriah membawa barang-barang mereka di sebuah kamp sementara

SALAM-ONLINE: Setidaknya 20 pengungsi yang telah kembali ke Suriah dari Lebanon telah dibunuh oleh rezim Basyar Asad dan pasukan sekutu mereka, demikian diungkapkan Menteri Urusan Pengungsi Lebanon, Mouin Merehbi, Sabtu (3/11/2018).

Kehidupan pengungsi Suriah yang kembali dari Lebanon ke daerah-daerah yang dikendalikan oleh rezim Suriah kini berada dalam bahaya, Merehbi mengatakan kepada wartawan, dilansir Middle East Monitor (MEMO), Senin (5/11).

Menteri Lebanon itu menyebutkan satu kasus khusus dari tiga warga Suriah. Ketiganya masuk kembali ke negaranya delapan bulan lalu. Tapi mereka dibunuh pada akhir Oktober di pedesaan Homs. Dua dari tiga warga Suriah yang dibunuh oleh rezim Asad itu berusia 13 dan 14 tahun. Satunya lagi adalah ayah mereka (50).

Kantor berita oposisi Suriah, Zaman Al Wasl yang melaporkan bahwa pembunuhan itu dimotivasi oleh sektarianisme, mencatat, setidaknya lima anggota lain dari keluarga yang sama telah ditangkap oleh rezim Suriah sejak 2013.

“Informasi yang diterima … juga menunjukkan mereka dibunuh oleh seorang pejabat senior di tentara rezim Suriah,” kata Merehbi, seraya menambahkan bahwa jumlah korban yang tewas dibunuh bisa lebih banyak.

Sekitar 55.000 warga Suriah diyakini telah kembali ke rumah mereka dari Lebanon. Bahkan menurut seorang pejabat otoritas Keamanan Umum Lebanon, jumlah mereka yang kembali lebih dari 90.000 orang.

Namun Merehbi melanjutkan dengan mengkritik apa yang disebutnya sebagai kurangnya koordinasi antara kementeriannya dengan aparat keamanan. Sementara beberapa warga Suriah telah meninggalkan Lebanon atas kemauan mereka sendiri, program pemerintah Lebanon adalah mengembalikan pengungsi Suriah ke wilayah yang dianggap aman.

Awal tahun ini, milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon yang pro rezim Asad dalam perang melawan kelompok oposisi, juga mengumumkan pembukaan beberapa pusat di seluruh Lebanon untuk membantu mereka yang bersedia secara sukarela kembali ke Suriah.

Namun, tidak ada jaminan yang disiapkan oleh kelompok milisi atau rezim Suriah bahwa mereka (para pengungsi) yang kembali akan dilindungi dari segala bentuk pembalasan, terutama mereka yang mendukung revolusi melawan rezim Asad. Banyak yang cemas apa yang akan terjadi saat mereka kembali ke Suriah.

Sebanyak 92 persen pengungsi di kamp Arsal Lebanon, yang disurvei oleh Zaman Al-Wasl, menyatakan bahwa mereka tidak akan kembali ke kota-kota yang dianggap aman di Qalamoun barat.

Jika rezim Asad benar-benar ingin warga Suriah kembali, mereka harus berhenti membunuhi warga ketika mereka kembali ke rumah, kata Merehbi.

Pada Agustus 2018 lalu, Human Rights Watch (HRW) mengecam pengusiran paksa ratusan pengungsi Suriah dari rumah sementara mereka di Lebanon.

“Setidaknya 13 kota madya di Lebanon telah mengusir paksa 3.664 pengungsi Suriah dari rumah mereka, mengusir mereka dari kota madya. Pengusiran itu dilakukan tampaknya karena kebangsaan atau agama mereka,” kata laporan itu, seraya menambahkan bahwa 42.000 lainnya tetap berisiko akan digusur.

Pejabat HRW yang mewawancarai sekitar 57 warga Suriah yang terpengaruh oleh pengusiran baru-baru ini, serta pejabat kota dan ahli hukum, mencatat bahwa kekerasan sering digunakan untuk memaksa pengungsi hengkang dari tempat tinggal mereka.

Berdasarkan hukum internasional, pengungsi tidak dapat dideportasi ke negara di mana mereka berisiko mengalami pelecehan/kekerasan. Semua pemulangan harus bersifat sukarela, aman dan bermartabat.

Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (HCR) dan pemerintah Barat telah memperingatkan bahwa terlalu dini untuk membahas pengembalian pengungsi dalam skala besar ke Suriah, karena ketidakamanan dapat menyebabkan gelombang pengungsian kedua.

Merehbi mengatakan bahwa dia tidak menentang pengungsi yang kembali. Tetapi, kata dia, prosedurnya harus diawasi oleh PBB untuk memastikan bahwa mereka kembali dengan suka rela. (mus)

Sumber: MEMO

Baca Juga