Qatar Bayar Gaji Pegawai Negeri Sipil di Gaza

Qatar membayar gaji pegawai negeri sipil di Gaza, Palestina. Tapi otoritas Paestina yang berkedudukan di Ramallah, Tepi Barat, meradang. Alasannya, mereka menolak intervensi kekuatan asing.

Warga Palestina memegang bendera Qatar dan Palestina dalam konferensi pers Duta Besar Mohamed Al-Emadi di Gaza, 19 Februari 2018  lalu. (Foto: Mohammed Asad/MEMO)

SALAM-ONLINE: Qatar membayar gaji hampir 30.000 pegawai negeri sipil (PNS) Gaza pada Jumat (7/1/2018). Hal ini memuaskan para pegawai yang miskin, tetapi membuat marah beberapa pemimpin Palestina yang menolak intervensi kekuatan asing, lapor Reuters yang dikutip Middle East Monitor (MEMO).

Ribuan orang di musim dingin ini antre untuk mendapatkan uang (gaji) mereka di kantor pos. Kantor pos ini dihiasi mural besar dari Emir Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad Al Thani, dengan ucapan “Terima kasih Qatar”.

“Jika donasi Qatar berhenti, kita akan hancur,” kata Ammar Fayyad, pegawai negeri berusia 45 tahun.

Sumber-sumber Palestina mengatakan pembayaran pada Jumat yang diperkirakan bernilai sekitar 15 juta dolar AS, adalah bagian dari donasi Qatar senilai $ 90 juta yang dimulai pada November dan akan dibayarkan ke Gaza dalam enam bulan.

Para PNS telah menjadi simbol pergulatan kekuasaan yang sengit dan berlarut-larut antara dua faksi Palestina yang paling kuat, gerakan Hamas yang mengontrol Gaza, dan Otoritas Palestina di Tepi Barat yang didukung Presiden Mahmoud Abbas.

Setelah kemenangan Hamas itu, Zionis dan Mesir memblokade Gaza sampai sekarang.

Para PNS dipekerjakan oleh Hamas setelah secara tak terduga memenangkan pemilihan umum pada 2006 dan merebut kendali militer di daerah kantong pesisir itu.

Meski menang, Hamas harus berjibaku mengurus Gaza karena ditinggalkan warisan masalah segunung oleh Otoritas Palestina. Ditambah lagi, setelah kemenangan Hamas itu, penjajah Zionis dan Mesir memblokade Gaza sampai sekarang.

Setelah bertahun-tahun diblokade yang dipimpin Zionis, ditambah perang berturut-turut dan kegagalan terus menerus upaya rekonsiliasi internal, Hamas ditinggalkan hanya dengan sedikit uang oleh Otoritas Palestina yang berkedudukan di Ramallah, Tepi Barat.

Beruntung ada Qatar. Qatarlah yang membantu Gaza, termasuk membayar gaji PNS. Ketika Hamas hampir tidak mampu membayar PNSnya sendiri, sementara Abbas menolak membayar gaji yang menjadi hak PNS itu.

Strategi Abbas menekan Hamas kembali ke meja perundingan dengan memotong gaji dan mengarahkan ribuan pekerja pemerintah ke pensiun dini, makin memperburuk kondisi ekonomi di Gaza.

Wasel Abu Youssef, seorang pejabat pro-Abbas, mengatakan pada Jumat bahwa dengan mengenyampingkan Abbas dan mengirim uang ke Gaza, Qatar akan “memberi harapan kepada mereka yang bersedia memperpanjang perpecahan.”

Qatar—yang telah bekerja untuk meningkatkan kedudukan internasionalnya di tengah perselisihan diplomatik dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya—mengatakan pihaknya melakukan intervensi untuk meringankan kondisi di Jalur Gaza yang miskin dan memulihkan stabilitas.

Perdana Menteri penjajah Zionis Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya setuju untuk mengizinkan uang Qatar ke Gaza. Netanyahu mengatakan kepada diplomat asing Kamis bahwa sistem “sidik jari, foto dan tanda tangan” yang dipantau secara ketat akan memastikan uang itu sampai ke penerima yang dituju, bukan Hamas.

Sementara itu untuk mengurangi tekanan domestik terhadap Hamas, ini juga meringankan kesulitan ekonomi yang dapat memicu kerusuhan dan ketidakstabilan di Gaza.

“Ini memberi Hamas beberapa bantuan dari tekanan domestik karyawan mereka. Dan itu sedikit merangsang pasar lokal,” kata Mohammad Abu Jayyab, seorang ekonom Gaza, kepada Reuters. (mus)

Sumber: MEMO

Baca Juga