Anggota Kongres AS Rashida Tlaib ‘Hapus’ Nama ‘Israel’ dari Peta Kantornya

Anggota Kongres AS perempuan pertama asal Palestina itu mengganti nama “Israel” dari peta di dinding kantornya dengan “Palestina”. Tlaib memulai tugasnya di Kongres AS dengan misi untuk memakzulkan Donald Trump sebagai presiden. Bagaimana reaksi Anggota Kongres, baik dari Demokrat maupun Republik?

Rashida Tlaib, anggota Kongres AS wanita pertama asal Palestina bergembira setelah mendapatkan undian nomor 8 untuk kantor kongres, 30 November 2018 di Washington, DC, AS. (Foto: Win McNamee/Getty Images)

WASHINGTON (SALAM-ONLINE): Anggota Kongres AS perempuan pertama asal Palestina, Rashida Tlaib, membuat perubahan pada peta di kantornya, Washington, DC. Dia “menghapus” kata “Israel” dari peta di dinding kantor kongresnya, lalu “menggantinya” dengan “Palestina”.

Setelah Tlaib—seorang anggota Partai Demokrat dari Michigan—bersumpah di depan Kongres Kamis (3/1/2019) lalu, seorang reporter BuzzFeed yang sedang berkunjung ke kantor anggota baru Kongres itu, melihat “sedikit perubahan” pada peta yang tergantung di dinding.

Salah satu gambar yang diposting oleh reporter itu di Twitter mengungkapkan bahwa seseorang, mungkin bukan Tlaib sendiri, meletakkan stiker, dengan kata “Palestina” di atasnya. Stiker “Palestina” itu diletakkan di dekat “Israel” disertai panah yang diarahkan ke tempat “negara pendudukan” tersebut.

Tlaib yang baru bertugas di Kongres AS berjanji untuk mulai bekerja memproses pemecatan Presiden Donald Trump. Partai Republik murka atas pernyataan Tlaib seperti itu kurang dari sehari setelah inisiasi sesi Kongres AS dengan mayoritas Partai Demokrat.

Dalam sebuah wawancara dengan Anggota Kongres, setelah bersumpah Kamis lalu, Tlaib mengungkapkan, “Dan ketika putra Anda melihat Anda dan berkata, ‘Ibu, lihat, Anda menang. Pengacau tidak menang.’ Dan saya mengatakan, ‘Sayang, mereka tidak menang. Karena, kita akan masuk ke sana dan kita akan memakzulkan ibu itu,’ mengacu pada Trump, yang menjawab, ‘Bagaimana Anda bisa mulai dengan memakzulkan seorang presiden yang mungkin telah memenangkan pemilihan terbesar dalam sejarah AS, tidak membuat kesalahan dan mencetak kinerja terbaik dalam dua tahun pertama dibandingkan dengan semua presiden lainnya’?”

Pernyataan Tlaib itu menuai kritik tajam. Beberapa di antaranya mengatakan bahwa dialog di atas itu menggunakan bahasa racun. Hal itu mungkin yang mendorong beberapa politisi lain untuk menggunakan ekspresi yang sama, merendahkan dialog itu.

Partai Republik pun menyerang pernyataan Tlaib. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS, Nancy Pelosi, menyerukan untuk mengecam pernyataan anggota parlemen dari Demokrat itu.

Beberapa anggota parlemen dari Demokrat berusaha menghindari kata-kata Tlaib. Senator Demokrat, Joseph Manchin, menggambarkan pernyataan Tlaib sebagai “menjijikkan”. Dia menyatakan agar Tlaib meminta maaf kepada semua anggota Kongres AS dan orang-orang Amerika atas bahasa yang digunakan.

Namun Anggota parlemen dari Partai Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez, membela Tlaib. Ia mengkritik Partai Republik. Ketua Parlemen Nancy Pelosi berusaha mendinginkan situasi. Ia mencatat, “Saya tidak suka bahasa yang digunakan anggota kongres Tlaib, tetapi itu tidak lebih buruk dari Trump.” (mus)

Sumber: MEMO

Baca Juga