Buddha Bersenjata-Tentara Myanmar Bentrok, Ribuan Rohingya Mengungsi

Petempuran sengit antara ekstremis bersenjata Buddha dengan pasukan Myanmar, telah mengusir ribuan orang Muslim Rohingya dari rumah mereka di negara bagian Rakhine barat negara itu…

Foto Dokumentasi: Polisi perbatasan Myanmar berjaga di Buthidaung, bagian utara negara bagian Rakhine, Myanmar pada 13 Juli 2017.

SALAM-ONLINE: Pertempuran sengit antara kelompok bersenjata Buddha dengan pasukan keamanan Myanmar telah mengusir ribuan orang Muslim Rohingya dari rumah mereka di negara bagian Rakhine barat negara itu dalam sebulan terakhir. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di daerah di mana krisis Rohingya pecah pada 2017.

Juru bicara PBB Sekjen PBB, Farhan Haq, mengatakan pada Rabu bahwa sekitar 2.500 Muslim Rohingya telah mengungsi sejak awal Desember 2018 ketika bentrokan antara pasukan Myanmar dengan Tentara Arakan—salah satu dari beberapa kelompok yang memerangi militer Myanmar—pecah. Tentara Arakan adalah salah satu kelompok di Myanmar yang menginginkan lebih banyak otonomi bagi kelompok ekstremis Buddha di Rakhine.

Militer Myanmar bulan lalu mengumumkan penghentian pertempuran di utara dan timur laut negara itu selama empat bulan. Penghentian pertempuran itu sebagai upaya langkah perdamaian yang jarang dilakukan untuk memulai perundingan dengan kelompok-kelompok bersenjata di negara tersebut.

Para pengamat mengatakan militer meninggalkan Rakhine karena tidak ingin Tentara Arakan—yang mengklaim mewakili Rakhine, kelompok etnis Budha yang menjadi mayoritas di negara bagian tersebut—untuk mendapatkan otonomi lebih di daerah itu.

Bentrokan Rakhine

Surat kabar Global New Light of Myanmar yang dikelola pemerintah pada hari Rabu mengatakan bahwa seorang perwira polisi terluka parah ketika polisi penjaga perbatasan diserang oleh sekitar 30 orang yang membawa senjata ringan dan berat sehari sebelumnya di dekat Saytaung, sebuah desa di daerah Buthidaung.

Ratusan polisi penjaga perbatasan telah dikerahkan di daerah-daerah yang jauh dari perbatasan dengan Bangladesh sebagai bagian dari serangan militer yang lebih luas terhadap kelompok itu, kata Khine Thu Kha kepada Reuters, Rabu.

Tidak ada komentar dari militer Myanmar.

Negara bagian Rakhine adalah tempat pasukan keamanan Myanmar melancarkan serangan brutal pada Agustus 2018 yang menyebabkan lebih dari 730.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh.

Sebuah laporan dari penyelidik PBB pada Agustus 2018 lalu mendapatkan fakta bahwa militer Myanmar melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan terhadap Rohingya dengan “niat genosida”. Laporan itu juga menyebut komandan dan lima jenderal harus dituntut berdasarkan hukum internasional.

Namun pihak Myanmar membantah sebagian besar tuduhan dalam laporan penyelidik PBB itu.

Desember 2018 lalu, sebuah kelompok hukum hak asasi manusia Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyelidiki tindakan kekerasan militer Myanmar terhadap Rohingya.

Kelompok ini mengatakan mereka telah menemukan bukti genosida. Mereka juga menyerukan masyarakat internasional untuk mengadakan penyelidikan kriminal terhadap kekejaman militer Myanmar dan memastikan keadilan Rohingya di negara tersebut. (mus)

Sumber: Aljazeera

Baca Juga