Debat Membuka Borok

-CATATAN M RIZAL FADHILLAH, SH-

Perdebatan lebih hangat atau panas sebenarnya pasca debat itu sendiri. Hal ini sekurangnya berkembang dari tiga aspek utama, yaitu serangan kepemilikan (lahan) Prabowo, data tak akurat Jokowi, serta alat dengar, earpeace, yang dicurigai.SALAM-ONLINE: Debat (Capres) kedua usai. Namun buntut perdebatan makin ramai. Medsos diisi dengan berbagai komentar: data, kilas balik, hasil polling, bantahan, peta dukungan, tanggapan KPU, hingga berita pengaduan ke Bawaslu.

Perdebatan lebih hangat atau panas pasca debat itu sendiri. Hal ini sekurangnya berkembang dari tiga aspek utama, yaitu serangan kepemilikan (lahan) Prabowo, data tak akurat Jokowi, serta alat dengar, earpeace, yang dicurigai.

Waktu pendek sesi dalam debat berlanjut dengan waktu panjang setelahnya. Bongkar-bongkar terjadi, termasuk bongkar borok-borok. Sebagai petahana tentu wajar jika menjadi pihak yang tersasar banyak borok-borok itu. Sekurangnya ada empat hal sebagai contoh.

Pertama, serangan pada penguasaan tanah Prabowo yang ingin dicitrakan “wah” ternyata malah membeberkan betapa besarnya taipan-taipan menguasai tanah-tanah di Indonesia. HGU yang dikelola Prabowo tak seberapa. Hanya ratus ribu. Sementara yang dikelola para taipan itu jutaan hektar. Rakyat sadar ada borok negara dalam pengelolaan hutan oleh para taipan. Kini muncul tuntutan agar Jokowi membongkar semua pemain hutan.

Kedua, serangan tentang “yunikon”—yang dimaksud sebenarnya “unicorn”—untuk menguji pemihakan Prabowo. Nyatanya membongkar aib sendiri bahwa “unicorn-unicorn” yang ada justru dominan dikuasai pemodal asing. Akibatnya terjadi transfer besar devisa ke negara asing. Terbongkarlah borok Jokowi dalam memenej bisnis “unicorn” yang tak menguntungkan rakyat.

Ketiga, jalan tol yang dibanggakan, konon tanpa konflik. Malah ganti untung. Tapi faktanya hampir di semua pembebasan lahan selalui ditandai konflik, baik sengketa pemilikan maupun besaran ganti rugi. Protes terjadi di sana sini. Jika pembebasan lahan itu menguntungkan, maka keuntungan besar itu sebenarnya ada pada para spekulan. Termasuk pejabat.

Keempat, soal impor sebagai borok nyata. Dengan argumen ini-itu, fakta angka impor di segala bidang sungguh mengerikan. Yang perlu diteliti adalah sejauh mana impor berdampak pada “komisi” yang bisa ditarik. Maklum ruang bisnis impor cukup menawan bagi pengisian pundi-pundi pribadi and party di lingkup pemerintahan yang sarat komisi.

Debat dengan pengungkapan data “asal-asalan” itu sebenarnya sama dengan meninju diri sendiri. Inilah borok utama yang mesti disembuhkan.

Segera masuk IGD pastikan borok itu berbahaya atau tidak. Cukup diberi antibiotik atau memang harus tindakan amputasi. Jika mesti amputasi, pastikan kadar anestesi pas. Kalau tidak, gawat! Nanti bisa-bisa tidak bangun lagi. Datang dengan ambulans, pulang dengan kereta jenazah. Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Bandung , 21 Februari 2019

-Penulis adalah Ketua Masyarakat Unggul (MAUNG) Bandung Institute

Baca Juga