Sebut Rezim Mesir Komplotan Kudeta, Erdogan Tolak Bertemu Al-Sisi, Kecuali…

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tidak mau bertemu Al-Sisi sampai tahanan (politik) di Mesir semuanya dibebaskan. Erdogan pun menyerukan pembebasan semua tahanan politik di Mesir beberapa hari setelah 9 orang dieksekusi mati baru-baru ini.

Presiden Erdogan dalam wawancara televisi, Sabtu (23/2/2019) malam

ISTANBUL (SALAM-ONLINE): Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa dia tidak akan pernah bertemu rezim komplotan kudeta Mesir yang dipimpin Abdel Fattah Al-Sisi, kecuali jika perampas pemerintahan Presiden Mohammad Mursi itu membebaskan semua tahanan (politik).

“Saya tidak akan pernah bertemu dengan orang seperti itu. Pertama-tama, dia (Al-Sisi) harus membebaskan semua tahanan. Selama dia tidak membebaskan (semua tahanan) itu, kami tidak bisa bertemu dengan Al-Sisi,” kata Erdogan dalam wawancara televisi pada Sabtu (23/2/2019) malam yang dikutip kantor berita Anadolu, Ahad (24/2).

Erdogan mengatakan bahwa ada rezim “otoriter, totaliter” di Mesir. “Saya menjawab mereka yang bertanya mengapa saya tidak bertemu dengan Al-Sisi,” terangnya.

Erdogan bertanya, “Mengapa hubungan kita dengan Mesir terputus? Atau mengapa kami, sebagai pemimpin tingkat tinggi, tidak bicara (dengan Mesir)?”

“Ini harus dicek,” katanya.

Erdogan mengatakan bahwa orang-orang yang mengklaim mereka menentang komplotan kudeta, tapi menyambut Abdel Fattah Al-Sisi, yang menggulingkan Presiden Mohammad Mursi, di karpet merah dan tidak mengambil posisi menentang pemimpin komplotan kudeta itu.

“Mursi memperoleh 52 persen suara, dan dia digulingkan,” sesalnya.

“Mereka yang berhubungan dengan Al-Sisi harus mengetahui hal ini bahwa mereka akan dievaluasi dalam sejarah dengan cara yang berbeda,” tambahnya.

Erdogan menggambarkan orang-orang Mesir sebagai “sahabat kami” dan menggarisbawahi bahwa Al-Sisi tidak akan pernah ada.

“Saat ini, Mursi masih dipenjara bersama teman-temannya. Selama bertahun-tahun, saya selalu mengatakan bahwa Al-Sisi adalah (rezim) komplotan kudeta. Sayangnya, negara-negara Barat masih bertekad untuk mendukung (rezim) komplotan kudeta itu,” katanya.

“Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan,” ujar Erdogan. Dia menyatakan kejengkelannya, karena setidaknya 42 orang dieksekusi mati sejak Al-Sisi merampas kekuasaan dari Mursi yang terpilih secara sah dan demokratis. “Dan belakangan (terbaru) sembilan orang muda dieksekusi.”

Erdogan mengatakan bahwa apa yang dilakukan rezim komplotan kudeta itu “tidak dapat ditolerir” oleh negaranya. “Amnesty International menyerukan untuk menghentikan eksekusi. Tetapi apakah mereka (Amnesty) berhasil (mencegah eksekusi itu)?”

“(Terakhir), sembilan orang muda dieksekusi. Di mana Barat? Apakah Anda mendengar suara Barat?” Erdogan bertanya.

Pernyataan Erdogan muncul setelah aparat rezim kudeta Mesir mengeksekusi sembilan orang pada Rabu (20/2) lalu karena dituduh terlibat dalam pembunuhan Jaksa Agung Hisham Barakat pada 2015.

Mesir bergolak karena kekacauan ketika militer menggulingkan Mohammad Mursi, presiden pertama yang dipilih secara bebas, sah dan demokratis di negara itu, dalam kudeta yang dipimpin Panglima/Kepala Angkatan Bersenjata Mesir Abdel Fattah Al-Sisi pada 2013.

Sejak itulah, aktivis Ikhwanul Muslimin dan pendukung Mursi ditangkapi dengan tuduhan yang dibuat-buat. Mursi sendiri dan para pemimpin serta aktivis Ikhwan ditangkap. Bahkan di antaranya sudah puluhan orang yang dieksekusi mati. (mus)

Sumber: Anadolu

Baca Juga