Garuda Menangis

Catatan M Rizal Fadillah*

SALAM-ONLINE: Ini bukan kecelakaan pesawat, akan tetapi peristiwa menarik, namun menyesakkan hati dari pesawat Garuda. Keluhan merugi saja. BUMN ini belum mampu “menerbangkan” keuntungan dengan baik. Masyarakat kadang bingung, rasanya Garuda adalah pesawat yang sangat diminati dan menjadi pilihan prioritas, tapi anehnya merugi terus.

Menurut KPK, salah satu sebab kerugian adalah mark up dalam pembelian pesawat. Sorotan keuangan berkaitan dengan rekayasa laporan tahunan 2018 dan kuartal 1 tahun 2019. OJK dan BEI menjatuhkan hukuman kepada maskapai denda 1,25 Miliar.

Yang kini disorot dan dipermasalahkan adalah soal pengangkutan haji oleh pesawat Garuda ini.

Pertama, soal ritual “pecah kendi” oleh pimpinan GIA di saat pemberangkatan pertama jamaah haji embarkasi SOC. Ini dianggap tradisi yang di luar syariat. Apalagi dengan ucapan agar jamaah selamat dan mabrur. Tidak ada relevansi antara doa atau harapan dengan “pecah kendi” oleh sang Dirut I Gusti Ngurah Askhara tersebut. Ditambah di Boyolali roda pesawat pakai melati dan disiram air kendi segala. Dikhawatirkan ibadah haji menjadi terganggu dan tercemar oleh ritual berbau syirik seperti ini. Hal yang semestinya tak perlu dilakukan oleh pimpinan Garuda Indonesia Airways.

Kedua, ucapan terimakasih pada Jokowi yang tertulis di badan pesawat. Lengkapnya adalah “Terimakasih bapak Jokowi. Doakan kami menjadi Haji yang mabrur. One family, one nation, one Garuda Indonesia”.

Tentu tulisan seperti ini dinilai “menjilat” atau “kultus”, apalagi baru usai Pilpres dengan hasil yang kontroversial. Jokowi menang dengan masalah. Karenanya tulisan seperti itu tentu menjadi masalah. Nuansa politik masuk dalam pemberangkatan haji. “One” itu nomor urut Pak Jokowi dalam pilpres.

Tidak ada alasan jamaah haji harus berterimakasih kepada Pak Jokowi. Mereka berangkat dengan biaya sendiri. Malah seperti komentar netizen di medsos, Pak Jokowi yang semestinya berterimakasih karena telah menggunakan dana haji untuk keperluan tak jelas, infrastruktur kah? Bagaimana pertanggungjawabannya?

Lalu tulisan minta doa mabrur kepada Pak Jokowi juga berlebihan karena jamaah haji bisa saja jauh lebih sholih dan jujur daripada Pak Jokowi. Lebih maqbul doanya. Semestinya Pak Jokowi yang minta didoakan oleh jamaah haji agar diampuni dosa atau selamat jika menjabat sebagai Presiden.

Garuda dipimpin oleh I Gusti Ngurah bukan makin baik, malah membuat masalah. Masalahnya terlalu sensitif yakni menyangkut aspek akidah. Ada komentar pula, “Wah orang Hindu coba menyisipkan tradisi dan ajarannya pada orang yang mau beribadah haji.”

Apakah ini wujud dari toleransi atau pelecehan? Yang jelas Negara ini semakin kacau dengan berkembangnya paham sinkretisme, yaitu beragama secara campur aduk. Toleransi terasa semakin salah kaprah dan amburadul.

*) Pemerhati Politik

Bandung, 9 Juli 2019

Baca Juga
awefawef94881
%d bloggers like this: