Tiga Pembantaian Rezim Asad di Idlib, 10 Anak Meregang Nyawa, 32 Terluka

SALAM-ONLINE: Pesawat-pesawat tempur dan helikopter rezim Basyar Asad mengintensifkan serangan dan pembantaian di zona demiliterisasi (DMZ) pedesaan Idlib, Sabtu (11/1/20).

Serangan itu membunuh 20 warga sipil, termasuk 10 anak-anak dan melukai 97 lainnya—di antaranya 32 anak-anak dan 25 wanita. Serangan keji itu jelas melanggar gencatan senjata yang diumumkan oleh Rusia pada 9 Januari lalu, lapor koresponden Orient, Ahad (12/1).

Pesawat-pesawat tempur dan helikopter militer rezim Asad melancarkan beberapa serangan udara ke rumah-rumah warga sipil dan sebuah jalan di pusat kota Idlib. Serangan itu membunuh 8 warga sipil, termasuk dua anak, dua wanita dan melukai 39 lainnya, antara lain wanita dan anak-anak.

Sementara itu, pesawat tempur membombardir pasar terkenal di kota Binnish. Enam anak dan seorang wanita meregang nyawa, melukai 25 lainnya, termasuk 13 anak-anak dan dua wanita.

Pesawat-pesawat tempur rezim juga membombardir desa Nayrab. Serangan di desa ini membunuh lima warga sipil, termasuk dua anak, dan melukai 12 lainnya, di antaranya empat wanita dan empat anak-anak.

Serangan biadab rezim Asad juga menargetkan beberapa desa dan kota lain di pedesaan Idlib, antara lain Sarmin dan Maar Dibsah. Serangan di beberapa wilayah ini melukai warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.

Para sukarelawan ‘White Helmets’ telah bekerja keras untuk menyelamatkan warga sipil dari bawah puing-puing bangunan yang hancur setelah serangan udara.

Kementerian Pertahanan Rusia pada Kamis (9/1) lalu mengumumkan gencatan senjata.

Pada Jumat (10/1), Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan bahwa Turki dan Rusia telah menyetujui gencatan senjata di Idlib yang akan dimulai pada 12 Januari tengah malam (dini hari).

Baca Juga

Namun peluru artileri dan roket rezim Asad kembali menggempur kota Maarat al-Nuaman pada Ahad, 12 Januari. Itu artinya rezim Asad yang didukung Rusia telah melanggar gencatan senjata yang diumumkan oleh Kementerian Pertahanan Turki. Sebelumnya diumumkan Rusia pada Kamis (9/1) yang kemudian mereka langgar sendiri dengan mendukung serangan dan pembantaian yang dilakukan rezim Suriah tersebut.

Minggu lalu, pesawat-pesawat tempur rezim Asad membombardir sebuah sekolah, masjid dan taman kanak-kanak di kota Ariha di provinsi Idlib. Serangan itu membunuh 12 warga sipil, termasuk tiga anak-anak dan seorang wanita dan melukai 25 lainnya, di antaranya tiga wanita dan enam anak-anak.

Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR) mendokumentasikan laporannya yang dirilis pada 1 Januari 2020 lalu. Laporan itu menyebut bahwa pada 2019, 43 pembantaian telah dilakukan oleh milisi rezim Asad dan 22 pembantaian lainnya dilakukan oleh pasukan Rusia.

Laporan tersebut mendokumentasikan kematian 3.364 warga sipil sepanjang 2019, di antaranya 842 anak-anak dan 486 wanita, termasuk 234 orang pada Desember 2019 lalu.

Pembantaian oleh milisi rezim Asad yang didukung Rusia telah mengungsikan lebih dari 379.000 warga Suriah sejak November 2019 lalu.

Lebih dari 1 juta pengungsi Suriah tinggal pada 1.395 kamp di Suriah Utara. Sebanyak 121.832 pengungsi tinggal di 242 kamp acak, kata Mohammad Hallaj dari SNHR kepada Orient awal pekan ini. (mus)

Sumber: Orient-News

awefawef97048