Data Sementara: dari 16 Ribuan Warga Zionis yang Kena Corona, 277 Tewas

SALAM-ONLINE: Zionis penjajah mengonfirmasi lagi dua kematian akibat Virus Corona pada Sabtu (2/5/20), sehingga jumlah yang meninggal sementara 277 orang.

Kementerian Kesehatan penjajah mengatakan 51 kasus baru dilaporkan dalam 24 jam terakhir, sehingga totalnya menjadi 16.152 orang yang terinfeksi.

Dikatakan, 107 pasien dalam kondisi kritis. Sementara 9.400 orang dinyatakan sembuh dan telah dikeluarkan dari rumah sakit.

Zionis mulai mengambil langkah-langkah untuk membendung penyebaran Virus Corona pada akhir Februari lalu. Awalnya menolak mereka yang bukan warga penjajah yang datang dari titik tempat virus masuk ke wilayah jajahannya. Kemudian secara bertahap hampir menyeluruh memberlakukan larangan perjalanan udara.

Penjajah itu juga menutup semua lembaga pendidikan dan melarang warganya meninggalkan rumah mereka, kecuali untuk membeli persediaan makanan dan obat-obatan atau ke rumah sakit.

Perlambatan dalam kasus-kasus baru (yang terinfeksi) dalam beberapa hari terakhir telah mendorong pihak penjajah untuk mulai mengurangi pembatasan pergerakan.

Berita Terkait

Penjajah Zionis pekan lalu menyetujui langkah-langkah yang akan dilakukan, termasuk pembukaan kembali beberapa bisnis dan sekolah untuk anak-anak dengan kebutuhan pendidikan khusus. Kemudian, dibolehkannya kembali “beribadah” di tempat yang diikuti dengan peserta berskala kecil (terbatas).

Namun, aturan social distancing dan penggunaan masker wajah di muka umum masih wajib.

Secara global, lebih dari 3,35 juta kasus telah dilaporkan di lebih 187 negara dan wilayah sejak virus itu muncul di Cina Desember 2019 lalu. Meskipun berawal dari Wuhan, Cina, namun dalam skala dunia, AS dan Eropa merupakan negara yang paling terpukul dengan virus ini.

Dari total sekitar 3,35 juta di dunia yang terinfeksi, sejumlah besar pasien Covid-19 (lebih dari 1,05 juta) telah dinyatakan sembuh. Tetapi penyakit ini juga telah merenggut hampir 240.000 nyawa warga dunia, demikian data yang dihimpun oleh Universitas Johns Hopkins di AS. (mus)

Anadolu Agency

awefawef98425
%d bloggers like this: