Mesir Mengancam, Pemerintah Sah Libya Sebut El-Sisi ‘Tabuh Genderang Perang’

Petinggi GNA, Libya, Abdurrahman Shater yang diakui PBB, memperingatkan rezim berdarah Mesir untuk menghentikan intervensi dan dukungannya kepada pasukan pemberontak pimpinan Khalifa Haftar.

Seorang anggota pasukan keamanan yang setia kepada pemerintah Libya yang diakui secara internasional memegang senjatanya saat pengerahan keamanan di kota Tarhuna, Libya. (Foto: Ismail Zitouny/ Reuters)

SALAM-ONLINE: Pemerintah Libya yang diakui secara internasional pada Ahad (21/6/20) mengecam ancaman intervensi militer dari pemimpin rezim kudeta Mesir Abdel Fattah El-Sisi. Pemerintah Libya yang sah menyebut El-Sisi “menabuh gendering perang”.

El-Sisi pada Sabtu (20/6) memperingatkan pasukan yang setia kepada Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang berbasis di Tripoli untuk tidak melewati garis depan antara mereka (GNA) dengan pasukan yang setia kepada komandan pemberontak Khalifa Haftar, yang didukung Kairo.

El-Sisi yang mengunjungi pangkalan udara di Matrouh dekat perbatasan Libya, menyinggung kemungkinan pohaknya mengirim “misi militer jika diperlukan”. Sisi mengklaim, “setiap intervensi langsung di Libya telah menjadi sah secara internasional”.

Abdurrahman Shater, anggota Dewan Tinggi Libya yang bergabung dengan GNA, mengatakan keamanan dan demokrasi negaranya berada dalam bahaya sejak El-Sisi bersikeras mengirim pasukan militer yang ditolak oleh Libya.

“Lepaskan tanganmu dari kami, jangan ulangi tragedi di Yaman,” kata Abdurrahman Shater dalam tweetnya yang dikutip Al Jazeera, Ahad (21/6).

Shater juga mengatakan Mesir telah melakukan intervensi dalam urusan internal Libya selama empat tahun.

El-Sisi mengatakan kepada pasukannya untuk “bersiap melaksanakan misi apa pun di dalam perbatasan, atau jika perlu di luar perbatasan”.

“Sirte dan Jufra adalah garis merah,” kata pemimpin rezim berdarah dukungan Zionis yang mengkudeta Presiden sah Mesir, Dr Mohammad Mursi.

Pasukan yang setia kepada GNA, yang dikepalai oleh Perdana Menteri Fayez al-Sarraj, telah mengusir Tentara Nasional Libya (LNA) Haftar dari basis-basis di wilayah bagian barat negara itu, termasuk di kota-kota strategis dekat ibu kota, Tripoli.

Pasukan pemerintah sah Libya, GNA, kini telah meluncurkan kampanye, bergerak ke arah timur, untuk merebut kota Sirte di Mediterania dari pasukan yang setia kepada Haftar. Haftar terpaksa menawarkan gencatan senjata setelah menghadapi serangkaian kekalahan dalam beberapa pekan terakhir.

Gencatan senjata, yang didukung oleh Kairo, telah ditolak oleh GNA dan pendukungnya Ankara (Turki), yang pada hari Sabtu (20/6) menuntut agar LNA menarik diri dari Sirte.

Baca Juga

Pemimpin rezim kudeta berdarah Mesir, El-Sisi, mengklaim bahwa “campur tangan langsung dari Mesir di Libya kini telah memperoleh legitimasi internasional, baik dengan hak untuk membela diri atau atas permintaan satu-satunya otoritas terpilih yang sah di Libya, yang merupakan Dewan Perwakilan (Tobruk)”.

Al Jazeera melaporkan dari kota Misrata, Libya, bahwa pernyataan El-Sisi pada Sabtu lalu itu sebagian besar diabaikan oleh GNA dan pasukannya.

“Seorang komandan militer GNA yang kami ajak bicara sebelumnya mengatakan pasukan mereka bersikeras bahwa mereka akan memasuki wilayah Sirte. Penting untuk dicatat bahwa ini adalah pasukan yang mengetahui wilayah itu dengan baik,” lapor Malik Traina dari Al Jazeera.

“Pada 2011, pasukan, terutama dari Misrata bertanggung jawab untuk memasuki Sirte dan membunuh penguasa lama Muammar Gaddafi.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry pada Ahad (21/6) mengatakan kepada Al Arabiya TV yang berbasis di Saudi bahwa negaranya memprioritaskan solusi politik untuk konflik tersebut. Dia mengklaim GNA salah menafsirkan komentar El-Sisi.

Dengan dukungan Turki, GNA telah membalikkan serangan 14 bulan di ibu kota Tripoli atas pasukan yang setia kepada Haftar dukungan Rusia, Uni Emirat Arab (UEA) dan rezim berdarah Mesir.

Baik Arab Saudi maupun Uni Emirat Arab telah menyatakan dukungan mereka kepada rezim berdarah Mesir yang juga didukung Zionis, Abdel Fattah El-Sisi.

“Arab Saudi berdiri dan mendukung Mesir di sebelah kanan untuk melindungi perbatasan dan warganya,” kata kantor berita resmi Arab Saudi.

Selain itu, kementerian luar negeri UEA mengatakan mendukung semua tindakan yang dilakukan Mesir untuk memastikan stabilitas dan keamanannya.

Sementara LNA masih mengendalikan Libya timur dan selatan, termasuk kota Sirte dan sebagian besar fasilitas minyak negara itu. (mus) 

Sumber: Al Jazeera

awefawef99288