Renungan Jum’at: Sering Disakiti? Jangan Ada Niat Membalas, Maafkanlah…

SALAM-ONLINE: Seikhlas apapun Anda. Sebesar apapun pengorbanan yang telah dilakukan, tetap akan selalu ada orang yang menyakiti, mencela, mencaci, mempermalukan (di publik), menuduh ini-itu, berburuk sangka, keliru dalam menilai maksud kita, disalahtafsirkan, dan sebagainya.

Begitulah realitas hidup ini. Selama kita bernafas di dunia ini tak kan pernah lepas dari menyakiti atau disakiti. Namun yang paling penting, kita jangan pernah ada niat sedikit pun untuk menyakiti orang lain atau membalas rasa sakit hati tersebut.

Sesering apa pun kita disakiti, dicaci maki, dipermalukan, dikhianati, dituduh macam-macam dan disalahpahami niat baik baik kita, jangan pernah ada keinginan untuk membalasnya walaupun kita sangat mampu dan menginginkannya. Memang rasanya sangat menyakitkan, tapi bersabarlah. Berusahalah untuk menahan diri.

Semakin sering disakiti, seharusnya itu menjadikan kita lebih kuat lagi. Kita akan paham kalau disakiti itu sangat menyakitkan. Karena itu, kita jangan pernah sekalipun menyakiti orang lain. Sebab, kita sendiri tahu bagaimana rasanya disakiti.

Menyakiti itu sangat berat konsekuensinya. Ketika kita menyakiti orang lain, rasa sakitnya bisa membekas sampai seumur hidup. Berbeda dengan luka fisik yang bisa sembuh dengan cepat, luka di hati sangat sulit disembuhkan.

Bagaimana jadinya jika orang yang disakiti mengadu kepada Allah atas semua perbuatan kita? Pada akhirnya hidup ini bisa berubah menjadi kelam jika terlalu banyak menyakiti orang lain.

Meskipun kita memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dosa kita tetap tidak akan dimaafkan sampai kita sendiri meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Sementara orang yang kita sakiti pun tidak pernah membalas atau melakukan perlawanan karena menahan diri dan bersabar atas perlakuan yang diterimanya.

Kelak di akhirat, orang yang telah kita sakiti akan berbaris mengadu kepada Allah. “Ya Allah, sesungguhnya si fulan ini waktu di dunia telah menyakitiku.”

Alhasil, semua amal shalih akan terkuras habis hanya karena waktu hidup di dunia banyak menyakiti perasaan orang lain. Dari yang awalnya bisa masuk surge, akhirnya harus masuk neraka.

Maka dari itu, jagalah ucapan, kata-kata dan perbuatan kita. Apalagi di era medsos saat ini. Sering, entah disadari atau tidak, jari jemari kita meluapkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Sementara yang orang yang merasa disakiti, tak pernah mau membalas. Bukan tak bisa membalas, tetapi menahan diri, bersabar dan tak ingin sakit menyakiti.

Dalam hidup ini tentu kita tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Ada saja kejadian yang membuat kita kecewa dan berujung sakit hati. Ketika sakit hati, kita dapat merasa sangat merana.

Apalagi jika yang menyakiti hati kita adalah keluarga sendiri atau orang terdekat, mungkin semakin tidak karuan rasanya. Alih-alih berusaha menyembuhkan, kita malah cenderung menyimpan rasa dendam. Namun ingat, kita harus berteguh diri untuk tidak menjadi seseorang yang memberikan orang lain kesulitan. Balas dendam bukan solusi yang tepat.

Baca Juga

Selain itu kita juga bisa mengingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai tiga golongan manusia yang doanya cepat diijabah.

“Ada tiga golongan manusia yang doa mereka tidak akan ditolak: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil dan doanya orang yang dizalimi (disakiti). Allah akan mengangkat doanya sampai di atas awan dan dibukakan pintu-pintu langit untuknya, dan Allah berfirman: Demi keagungan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu meskipun tidak serta merta,” (HR Tirmidzi dan yang lainnya, hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Jadi bila kita sedang disakiti, memintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberikan kekuatan dan bisa memaafkan. Mendapatkan hikmah agar kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Serta limpahan pahala atas kesabaran menghadapi rasa sakit hati, tanpa membalasnya.

اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

Allaahumma’jurnii Fii Mushiibatii Wa-akh-liflii Khairan Minhaa

“Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya.”

Bagaimanapun, dalam Islam tidak disarankan untuk membalas dendam. Memaafkan adalah sifat mulia. Menghapus rasa sakit hati dengan ikhlas.

Berat mengobati sakit hati. Tapi kita harus melaluinya dengan cara yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini semua dilakukan agar hati kita menjadi lapang, memiliki keselamatan di dunia dan akhirat.

Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang memaafkan kezaliman (terhadap dirinya) kecuali Allah akan menambah kemuliaannya,” (HR Ahmad, Muslim dan Tirmidzi).

Jadi, meskipun kita sering disakiti, jangan dibalas, tapi maafkanlah…

Sumber: Kumparanwowmenariknya.com

awefawef99731