Banser, Khilafah dan Kalimat Tauhid

KH Athian Ali M Da’i, Lc, MA

Catatan KH Athian Ali, Lc, MA*

SALAM-ONLINE: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mentamsilkan umat Islam Ka al-jasad al-wahid (bak satu tubuh). Banser merupakan salah satu bagian kecil dari tubuh umat Islam di Indonesia.

Sayangnya, bagian tubuh yang satu ini acap kali membuat bingung bagian terbesar dari tubuh umat ini.

Sepak terjangnya, terutama akhir-akhir ini semakin sulit dipahami, bukan hanya oleh kalangan di luar Nahdliyyin (NU). Bahkan juga oleh para tokoh dan Ulama dari kalangan Nahdliyyin sendiri.

Boleh jadi akan panjang tulisan ini jika harus menyebutkan satu persatu langkah kontroversial yang pernah mereka lakukan.

Bagian tubuh dari umat Islam yang satu ini sering kali dirasakan berlebihan, bahkan terkesan bersikap antipati dan membenci saudara-saudara seiman yang seharusnya mereka cintai seperti mereka mencintai diri mereka sendiri (Al-Hadits).

Ironisnya sikap tersebut terjadi (wallahu a’lam jika ada niat lain yang  terselubung), bukan oleh perbedaan di wilayah Ushul (Prinsip) yang mendasar dalam Akidah dan Syariah, tapi hanya di masalah Furu’ (Ranting), yang ada di wilayah Ijtihad. Perbedaan ini memang dimungkinkan. Masing-masing Mujtahid berbeda.

Perbedaan di antara para Mujtahid bisa disebabkan karena memang tidak ada nash yang menjelaskan masalah yang diperdebatkan, atau ada nash yang qath’i (pasti), namun multi tafsir. Atau ada hadits, namun dzhonni wurud atau tsubuutnya. Dalam  wilayah Ijtihad seperti ini, selayaknyalah masing-masing pihak saling menghormati, sebagaimana yang selalu ditunjukkan oleh para Mujtahid, terutama tokoh empat mazhab.

Jika terhadap sesama Muslim yang berbeda mazhab, Banser terkesan antipati, anehnya terhadap komunis dan aliran-aliran sesat seperti Syiah, yang tidak hanya mengancam akidah tapi juga keutuhan NKRI, mereka justru nampak welcome.

Padahal aliran sesat tertua ini sejak dahulu kala telah difatwakan sesat oleh para Ulama terkemuka. Termasuk juga pernah difatwakan menyimpang dan disebut sebagai ahli bid’ah oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ary.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di samping  mengeluarkan fatwa haramnya nikah mut’ah, juga telah menetapkan fatwa kafir dan sesatnya tiga prinsip utama ajaran Syiah, yakni yang terkait dengan keyakinan Syiah tentang telah terjadinya Tahriif (Perubahan) dalam Al-Qur’an, maksumnya para Imam Syiah dan kafirnya para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, khususnya Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab dan Usman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhum.

Tidak cukup sebatas fatwa, demi agar umat Islam tidak terkecoh oleh Taqiyyah (tipu daya Syiah), maka MUI pun menerbitkan buku Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia.

Baca Juga

Sikap lembut dan bersahabat juga acap kali ditunjukkan Banser terhadap mereka yang secara terbuka melakukan  penodaan dan pelecehan terhadap kitab suci Al-Qur’an, penghinaan dan penistaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Suara Banser pun nyaris tidak terdengar, ketika umat Islam sedang dibuat gerah oleh berita kebangkitan kembali komunisme di negeri ini. Juga tidak nampak sikapnya yang tegas ketika umat Islam berjuang menggagalkan keinginan sekelompok orang yang sedang berupaya mengubah Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila. Padahal Banser termasuk di antara mereka yang selama ini sering nyaring menyuarakan diri paling “Pancasialis”, “NKRI harga mati” dan slogan-slogan patriotis lainnya.

Bagian tubuh umat Islam yang satu ini juga terkesan begitu sangat bencinya terhadap khilafah. Khilafah, merupakan sistem hidup yang harus dijalankan manusia sebagai Khalifah-Nya di muka bumi (QS Al-Baqarah: 30). Termasuk sistem pemerintahan dalam Islam yang pernah dilaksanakan oleh keempat khulafaa-ur raasyidiin yang sudah dijamin Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ahli surga.

Kebencian terhadap khilafah, belum lama ini dipertontonkan oknum-oknum Banser kepada publik lewat akhlak yang sangat tidak Islami, ketika dengan arogannya menginterogasi, mengintimidasi, mengecam dan memaki-maki seorang ulama sepuh yang seharusnya mereka hormati dengan adab dan akhlak yang terpuji.

Yang jauh terasa lebih aneh lagi sikap mereka terhadap kalimat tauhid dan atau syahaadatain. Kalimat yang tentu saja sangat sakral bagi setiap Muslim. Kalimat yang memisahkan secara tajam antara Muslim dan kafir. Antara yang haq dengan yang bathil. Kalimat yang bak tiket bagi seseorang untuk bisa kelak masuk surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apakah karena mereka tidak memiliki cukup ilmu untuk membedakan mana bendera sebuah organisasi dan mana yang bukan, yang pasti mereka akan langsung murka setiap kali melihat kalimat suci itu berkibar dan atau dikibarkan oleh seseorang.

Seperti yang pernah terjadi kurang lebih setahun lalu. Seorang oknum Banser bak kerasukan setan merebut bendera tauhid dari tangan seorang Muslim, lalu membakarnya.

Untuk yang terakhir ini, terus terang darah saya juga ikut mendidih menyaksikan kalimat tauhid atau syahaadatain diperlakukan seperti itu.

Ingin rasanya jika suatu saat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi saya peluang berhadapan  dengan siapa pun yang membenci kalimat tauhid itu dikibarkan, insya Allah saya akan angkat bendera tauhid tersebut setinggi-tingginya. Kemudian saya siapkan diri untuk  mempertahankannya jika ada yang bermaksud menurunkannya dari tangan saya. Meskipun, katakanlah, untuk itu saya harus menebusnya dengan nyawa saya sendiri!

Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasuulullaah.
Allahu Akbar!

*Penulis Ketua Umum ANNAS Indonesia

awefawef100247