Kelompok Kristen Prancis Disebut Dukung Milisi Rezim Suriah

Sekutu Kementerian Pertahanan Prancis, SOS Chretiens d’Orient, dituduh mendukung tersangka milisi penjahat perang di Suriah.

SALAM-ONLINE.COM: Sebuah kelompok Kristen yang berbasis di Prancis disebut mendukung milisi di Suriah yang setia kepada rezim Basyar Asad dan dituduh melakukan kejahatan perang di Provinsi Hama barat, media lokal melaporkan.

Meskipun mengaku telah membantu komunitas Kristen di Suriah tanpa campur tangan dalam konflik, SOS Chretiens d’Orient (Komunitas Kristen di Timur Tengah) diketahui mendukung milisi yang dikenal oleh rezim Asad sebagai Pasukan Pertahanan Nasional Mhardeh (MNDF) sejak 2013, demikian menurut situs berita Prancis, Mediapart, yang dikutip Anadolu News Agency, Jumat (18/9/20).

Kelompok ini oleh Kementerian Pertahanan Prancis dianggap sebagai “organisasi mitra dalam pertahanan nasional”.

Pengusaha lokal Simon al-Wakeel, yang mengepalai MNDF, disebut melakukan berbagai kejahatan perang dalam konflik Suriah. Al-Wakeel nampak dalam sebuah video di YouTube mengenakan seragam rezim Asad seraya mengucapkan terima kasih kepada SOS.

MNDF memulai aksinya sebagai “gerakan rakyat”, tetapi menjelma menjadi milisi dan mendaulat al-Wakeel sebagai pijakan. Milisi ini telah mengambil bagian dalam serangan rezim di Hama dan Idlib pada 2019.

Menurut Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah (SNHR), mereka menjual barang-barang yang mereka rampas dari desa-desa yang mereka masuki di desa Kristen Skelbiye, dekat Mhardeh.

SOS, yang menyebut al-Wakeel sebagai “Monsieur Simon”, telah mendirikan pusat bantuan kemanusiaan di Mhardeh sebagai “simbol perlawanan Suriah melawan terorisme internasional”.

Baca Juga

Video lain yang direkam pada tahun 2016 oleh kelompok tersebut bertujuan untuk memproyeksikan bahwa mereka hanya memiliki niat kemanusiaan di Suriah. Mereka memperlihatkan Alexandre Goodarzy, salah satu tokoh utamanya, membagikan selimut dan makanan kepada milisi rezim. Goodarzy juga dikenal karena posenya mengacungkan senapan Kalashnikov di negara yang dilanda perang itu.

Pembantaian

Menurut sebuah laporan dari kelompok hak asasi Suriah Pro-Justice, 25 warga sipil meregang nyawa dalam pengeboman tahun 2012 yang menyasar rumah mereka di Halfaya—hanya satu kilometer (0,6 mil) dari Mhardeh—atas perintah al-Wakeel.

SOS juga dituduh menyembunyikan informasi tentang bagaimana mereka menghabiskan sumbangan yang dikumpulkannya untuk perang di Suriah.

Antara 2016 dan 2019, diperkirakan sumbangan yang dikumpulkan untuk Monsieur Simon dan Mhardeh berjumlah € 48.900 ($ 58.000). Sementara dokumen milik organisasi tersebut menyatakan bahwa para milisi diberi kopi teh, dan rokok untuk membuat hidup mereka lebih mudah.

Sejak meletusnya perang di Suriah pada Maret 2011, ribuan orang terbunuh dan jutaan lainnya meninggalkan negara itu atau mengungsi dari kampung halaman mereka.

Kelompok teroris seperti YPG/PKK dan Daesh (ISIS) memanfaatkan ketidakstabilan dan kekacauan yang terjadi sejak konflik meletus untuk merealisasikan kegiatan teror mereka. Hal inilah yang menyebabkan lahirnya salah satu krisis pengungsi terbesar dalam sejarah. (mus)

awefawef100793