Syuting di Wilayah Ditindasnya Muslim Uighur, Film Disney ‘Mulan’ Diboikot

SALAM-ONLINE.COM: Protes dan seruan untuk memboikot film baru Disney berjudul “Mulan”, menyebar di Twitter setelah terungkap adegan-adegan dari film itu mengambil gambar di beberapa bagian wilayah jajahan Cina di Xinjiang. Xinjiang adalah sebuah wilayah yang menjadi tempat pelanggaran hak asasi manusia (HAM) massal, termasuk genosida (pembersihan etnis) dan penghancuran budaya minoritas Muslim Uighur.

Aktivis hak asasi manusia, organisasi non-pemerintah dan jurnalis, dengan menggunakan kombinasi citra satelit dan laporan saksi mata, berhasil mengidentifikasi sebanyak 500 lokasi kamp konsentrasi dan pusat penahanan (sekaligus penyiksaan) terhadap Muslim Uighur yang ditindas di Xinjiang.

Seruan boikot mulai merebak awal pekan ini. Seruan boikot atas film itu mengemuka setelah beberapa pengguna media sosial memperhatikan kredit (foto-foto) film “Mulan” yang mengucapkan terima kasih kepada badan keamanan rezim Cina di provinsi Xinjiang karena memberikan fasilitas syuting di wilayah tempat ditahan dan disiksanya lebih dari satu juta Muslim Uyghur itu.

“Pihak Disney yang memproduksi ‘Mulan’ secara khusus berterima kasih kepada departemen publikasi komite daerah otonom Xinjiang (Uighur). Anda tahu, tempat terjadinya genosida budaya di wilayah ini,” cuit Novelis Jeanette Ng, seperti dikutip Middle East Monitor (MEMO), Rabu (9/9/20).

“Mereka syuting secara ekstensif di Xinjiang, yang subtitelnya disebut ‘China Barat Laut’,” ujarnya.

Etnis minoritas berbahasa Turki yang mayoritas penduduknya Muslim itu telah hidup selama bertahun-tahun di bawah pengawasan dan penindasan yang semakin meluas di wilayah tersebut.

Film drama-action ini awalnya dijadwalkan rilis pada Maret 2020. Tetapi ditunda karena wabah global Covid-19.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan Architectural Digest, desainer produksi film tersebut, Grant Major, mengungkapkan bahwa timnya menghabiskan waktu berbulan-bulan “di dalam dan sekitar provinsi barat laut Xinjiang”.

Pada Selasa (8/9/20), anggota parlemen Inggris dari Partai Konservatif, Iain Duncan Smith, mengutuk kerja sama Disney dengan badan keamanan Xinjiang tersebut. Smith menyebut proyek Disney di Xinjiang itu sebagai “mengerikan”.

“Sangat memalukan bahwa mereka menutup mata. Sangat memalukan bahwa mereka bertindak sebagai pembela bagi rezim yang sekarang membungkam kritik dan pendapat,” kata Smith tentang perusahaan-perusahaan Barat yang bekerja sama dengan rezim komunis Cina itu.

Biro keamanan publik Turpan dimasukkan dalam daftar hitam perdagangan departemen perdagangan AS tahun lalu karena keterlibatannya dalam penindasan yang dilakukan rezim komunis Cina itu terhadap Muslim Uyghur.

Film ini sebenarnya telah mendapat kecaman beberapa bulan lalu. Disney juga menghadapi seruan boikot dari para pendukung pengunjuk rasa anti-rezim Hong Kong setelah pemeran utama film “Mulan” itu, Liu Yi Fei, secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap tindakan keras polisi di Hong Kong.

Liu dilaporkan membagikan postingan media sosial pada Agustus 2019 di tengah protes yang meluas di bekas wilayah Inggris itu. Postingan Liu yang setengah menantang itu bertuliskan, “Saya mendukung polisi Hong Kong. Anda semua bisa menyerang saya sekarang.”

Sementara itu, Hollywood Reporter mencatat bahwa Liu menambahkan tagar #IAlsoSupportTheHongKongPolice dan emoji hati ke postingannya yang dia bagikan kepada lebih dari 65 juta pengikutnya.

Baca Juga

Aktivis pro-demokrasi di Hong Kong menyerukan boikot publik terhadap film tersebut. #BoycottMulan menjadi tagar paling populer di Twitter Hong Kong pada 5 September lalu.

“Karena Disney ‘bersujud’ ke Beijing, dan karena Liu Yifei secara terbuka dan bangga mendukung kebrutalan polisi di Hong Kong, saya mendorong semua orang yang percaya pada hak asasi manusia untuk #BoycottMulan,” demikian tweet aktivis Hong Kong, Joshua Wong.

“Sekarang, ketika Anda menonton #Mulan, Anda tidak hanya menutup mata terhadap kebrutalan polisi dan ketidakadilan rasial, tapi Anda juga berpotensi terlibat dalam penahanan dan penyiksaan massal (yang dilakukan) kepada Muslim Uighur,” tulisnya.

Sebelumnya diberitakan, Disney mendapat kecaman karena menggelar syuting film “Mulan” di beberapa wilayah Cina yang merupakan lokasi kasus pelanggaran hak asasi manusia serius.

Kritik juga merujuk ucapan terima kasih tertulis di penghujung film baru itu kepada badan keamanan rezim di Provinsi Xinjiang. Di wilayah itu diperkirakan lebih dari satu juta orang ditahan. Mayoritas mereka yang ditahan merupakan Muslim Uighur.

Selain itu, film “Mulan” juga diboikot karena pemeran utamanya mendukung tindakan keras pemerintah China terhadap para pengunjuk rasa di Hong Kong.

“Mulan” yang bergenre laga merupakan salah satu film terbesar yang dirilis tahun 2020 di tengah pandemi Virus Corona. Ini merupakan film yang dibuat ulang dari film animasi tahun 1998.

Kisah “Mulan” berfokus pada seorang gadis muda yang menggantikan tugas kemiliteran ayahnya.

Senin (7/9) lalu, warganet ramai membicarakan kredit film yang memuat ucapan terima kasih kepada sejumlah entitas rezim komunis Cina di Xinjiang.

Biro keamanan publik di kota Turpan dan Departemen Publisitas Komite Wilayah Otonomi Uighur BPK Xinjiang termasuk yang disebut dalam kredit itu.

Menurut akademisi yang meneliti Cina, Adrian Zenz, biro keamanan publik di Turpan bertugas menjalankan kamp-kamp penahanan. Kamp itu diyakini sebagai tempat penahanan dan penyiksaan warga Muslim Uighur.

“Sementara “Departemen publisitas” yang disebut oleh Disney, bertanggung jawab untuk memproduksi propaganda negara di wilayah tersebut,” kata Zenz. (mus)

Sumber: Middle East Monitor, BBC

awefawef100537