Mendadak Menjadi Kadrun? Budaya Munafik

M Rizal Fadillah, SH

Catatan M Rizal Fadillah*

SALAM-ONLINE.COM: Dulu PKI menyebut santri atau aktivis Islam sebagai Kadal Gurun (Kadrun). Mengarah pada sisi ke-Arab-araban, baik dari sisi pakaian maupun identitas lainnya. Memang musuh PKI adalah kekuatan agama karena bagi mereka paham dan gerakan agama itu adalah candu. Sebagai gerakan tanpa moral, PKI menghalalkan segala cara.

Sebutan Kadrun ternyata melembaga juga saat ini. Ejekan dari para pendukung Joko Widodo kepada elemen aktivis Islam. Nong Darol, Eko Kunthadi, Denny Siregar paling suka melempar perkadrunan ini. Begitu juga dengan Arief Poyuono dan Ade Armando. Meski balasan predikat juga bisa dikenakan untuk doking, kodok Peking.

Profil ke-Muslim-an bahkan ke-Arab-araban untuk sebutan Kadrun lucunya juga ternyata ditampilkan oleh Joko Widodo dan keluarganya dalam upaya mencari dukungan suara umat Islam. Umat Islam ini kadang-kadang tidak disukai tetapi sangat diperlukan. Maka para pencari suara itu “mendadak Kadrun”.

Saat Pilpres 2019 Joko Widodo sering tampil mengimami shalat di berbagai daerah, lalu pemotretan fokus pada sudut penampilan. Bahkan di antaranya ada yang bersorban segala. Ada juga saat mengimami pemimpin negara asing di Kabul Afghanistan dengan sorban unik.

Sekarang ini jarang sekali muncul foto atau video Pak Joko Widodo mengimami lagi. Memang “Kadrun” kadang dibutuhkan sesaat.

Begitu juga sang putra “milenial” Gibran yang berubah berpeci sarung bak seorang ustadz dalam tampilan Pilkada Solo. Cawalkot “sembilan puluh dua persen” ini pun “mendadak Kadrun”. Diikuti mantu Bobby Nasution yang maju dalam Pilkada Medan viral bersorban putih dan berpenampilan seperti “Pangeran Sentot Alibasyah”.

Baca Juga

Tentu tidak salah; untuk berpakaian Muslim, Ustadz, atau ke-Araban. Namun mendadak berpenampilan “sholeh” dalam rangka berburu suara dalam pilihan politik pasti menuai cibiran. Celaan Jokower bahwa aktivis Muslim adalah “Kadrun” harus membentur diri Joko Widodo dan keluarganya yang “mendadak Kadrun” pula.

Relasi Pemerintahan Joko Widodo dengan umat Islam dinilai bermasalah. Bukan saja dirasakan oleh sebagian umat Islam Indonesia, namun juga tak luput dari pengamatan cendekiawan asing. Greg Fealy di antaranya.

Profesor Australian National University (ANU) itu menyebut Pemerintahan Joko Widodo represif terhadap umat Islam. Lewat tulisan di East Asia Forum 27 September 2020 Fealy menyatakan Pemerintahan PDIP di bawah Joko Widodo itu menindas umat Islam. Penangkapan aktivis dan isu radikalisme diarahkan kepada umat Islam. Isu yang sengaja diangkat untuk tujuan memberangus.

Jadi menggelikan dan menjengkelkan jika ulama dan aktivis Islam diteriaki sebagai Kadrun, akan tetapi dalam praktik politiknya mereka itu juga “mendadak Kadrun”. Inilah krisis personalitas dalam proses politik. Split personality atau ambivalensi politik. Hancur moral bangsa akibat memberhalakan budaya munafik.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 5 Rabi’ul Awwal 1442 H/22 Oktober 2020 M

awefawef101421