Pak Idham Azis Sebaiknya Jangan ’Su’ul Khotimah’

Catatan M Rizal Fadillah*

SALAM-ONLINE.COM: Jenderal Polisi Idham Aziz akan memasuki masa pensiun akhir Januari 2021. Artinya sebentar lagi dan tinggal menghitung hari. Hitungan mundur terakhir (the final countdown).

Biasanya orang selalu berdoa atau mendoakan semoga “husnul khotimah”. Artinya akhir yang baik sebagaimana baiknya saat mengawali.

Teringat sewaktu awal menjabat Kapolri betapa besar harapan ada perubahan kinerja Kepolisian di bawah kepemimpinannya.

Ustad Das’ad Latif seusai Rapim Polri 29 Januari 2020 berpesan kepada Kapolri baru bahwa dalam menangani unjuk rasa “jangan memukul kepala”, karena siapa tahu di kepalanya ada hafalan Qur’an dan Hadits.

Sementara Kapolri Idham pun titip pesan agar isi ceramah mengarahkan polisi dalam menangani aksi dilakukan dengan pendekatan yang humanis. Tidak menggunakan senjata api. Perkapolri No 7 tahun 2012 melarang tindakan aparat yang bersifat spontanitas dan emosional, mengejar secara perorangan, melakukan kekerasan dan penganiayaan, pelecehan dan melanggar HAM.

Harapan perubahan di masa jabatannya itu  nampak sirna. Dalam menangani unjuk rasa Omnibus Law contohnya, kekerasan terjadi terutama oleh satuan Brimob. Penangkapan aktivis oleh Polri terjadi di mana-mana. Lalu dalam menangani HRS dan FPI telah jatuh korban penembakan dengan tanda penganiayaan 6 anggota Laskar, yang dikenal dengan peristiwa KM 50.

Baca Juga

Diakui, pelaku penembakan adalah aparat Kepolisian yang nampaknya masih dilindungi hingga kini. Belum diumumkan pelakunya, padahal dugaannya adalah pelanggaran HAM berat.

Di saat wacana panas soal calon pengganti Kapolri, justru Kepolisian mengalami gonjang-ganjing tindakan yang tidak humanis. Bukan lagi sekadar “tidak memukul kepala”, tetapi menembak dengan brutal dan sadis. Melibatkan Polda Metro jaya. Mabes Polri dan Komnas HAM masih menyelidiki.

Pasca pembubaran dan pelarangan FPI, Kapolri membuat maklumat yang dinilai berlebihan hingga mendapatkan protes aliansi Jurnalis. Dikritisi sebagai melanggar HAM dan perundang-undangan. FPI nampaknya oleh Kepolisian dijadikan target dengan langkah dan kebijakan yang tidak adil. Terkesan aktivis Muslim diperlakukan sebagai “musuh negara”.

Jenderal Polisi Idham Azis sedang diuji konsistensi akan tekad dan semangat untuk membangun kinerja Kepolisian yang lebih baik dan humanis. “Husnul khotimah”  atau “su’ul khotimah”-kah? Masyarakat terus pemantau dalam hitungan mundur.

We’re leavin together
But still It’s farewell—it’s the final countdown…(Europe)
.

*) Pemerhati Politik dan kebangsaan

awefawef102455