Latihan Bersama US Army-TNI AD: Cina Gerah, Istana Gelisah?

Catatan M Rizal Fadillah*

Tim dari US Army saat melakukan peninjauan terkait persiapan latihan bersama Garuda Shield 15/2021 pada Agustus ini. (Foto: Dokumentasi HO/Kodam VI Mulawarman)

SALAM-ONLINE.COM: Latihan Bersama “Garuda Shield” adalah latihan rutin tahunan antara US Army dengan TNI AD. Bahkan tahun ini adalah Latihan Bersama kelima belas.

Adanya ketegangan Laut Cina Selatan sebagai wujud perlawanan negara kawasan atas klaim kepemilikan Cina, membuat Latihan Bersama ini menjadi istimewa.

Meski secara resmi bisa dibantah, akan tetapi realitas politik berbicara sendiri bahwa Latihan Bersama yang melibatkan 2.282 personel AS ini adalah tekanan kepada negara Cina dan sahabatnya. Indonesia sendiri yang sedang berakrab-akrab dengan RRC akan terdampak oleh agresivitas Amerika Serikat. Sederhananya Cina gerah, Istana gelisah.

Gerah

Pada  saat Menlu AS Mike Pompeo datang ke Indonesia Oktober 2020 lalu, Duta Besar Cina untuk Indonesia Ciao Qian “ngamuk”. Dia mengecam kedatangan Pompeo dengan menyatakan, “Pompeo melakukan serangan dan provokasi hubungan Tiongkok-Indonesia serta telah mengganggu  perdamaian dan stabilitas kawasan. Tiongkok menentang keras hal ini.”

Lebih lanjut Qian menegaskan, “AS adalah provokator ‘Perang Dingin Baru’ yang meningkatkan ‘revolusi berwarna’ di berbagai belahan dunia. AS juga secara brutal mengintervensi urusan negara lain, bahkan tidak segan menggunakan perang dan mendatangkan malapetaka dunia.” Demikian gerahnya Cina atas kedatangan Menlu AS.

Kini bukan lagi seorang Menlu yang datang, tetapi dua ribu lebih pasukan Angkatan Darat Amerika datang untuk latihan perang bersama AS-Indonesia. Terbesar dalam sejarah dan berlokasi di tiga pulau yaitu Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Ditambah dengan  Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin yang berkeliling ke negara Filipina, Vietnam dan Thailand serta armada laut Inggris, Jepang dan Australia yang telah bergerak di Laut Cina Selatan, maka semua itu membuat  Cina semakin gerah lagi.

Gelisah

Baca Juga

Istana diduga kuat gelisah atas Latihan Bersama “Garuda Shield” 2021 ini. Lho bukankah perhatian AS yang besar hingga mengirim pasukan terbesar dalam sejarah ini membanggakan TNI AD dan Pemerintah Indonesia? Iya bagi TNI AD, tetapi tidak untuk Pemerintah.

Masalahnya adalah Istana Joko Widodo sudah “diduduki” oleh Cina dengan persahabatan yang luar biasa erat. Bahkan Luhut Panjaitan “sang penentu” telah diangkat Cina sebagai Koordinator Cina-Indonesia.  Ketum PDIP juga secara khusus mengucapkan selamat ulang tahun kepada Partai Komunis Cina (PKC).

Garuda Shield sangat mengganggu kenyamanan Istana. Joko Widodo akan kena damprat Cina atas ketidakmampuan mengendalikan Angkatan Darat. Indonesia dianggap bermain dua kaki. Walaupun sebenarnya Joko Widodo memang “tidak punya kaki”. Tidak berwibawa dan tidak mendapat dukungan rakyat secara signifikan. Oligarkhinya diisi oleh orang yang hanya  gemar memburu rente dan penjilat murahan. Pengaju proposal untuk proyek berkelas receh.

Istana gelisah karena dihimpit multi masalah. Dikejar-kejar bayar utang tiap kuartal, ekonomi macet total, penanganan pandemi yang serba salah, pelanggaran HAM yang terus menuntut penuntasan, perlawanan kekuatan umat Islam yang merasa terzalimi, serta kini kekuatan global yang tidak memihak pada Joko Widodo dan oligarkhinya. Cina dipastikan akan mengecam dan mengancam karena merasa dikhianati.

Terbayang marahnya Cina kepada janji dan jaminan sukses kerja sama. Investasi sudah besar, utang sudah banyak, agenda OBOR menjanjikan, apalagi pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan yang dapat menjadi proyek besar Cina. Praktis “kerja sama super erat” untuk membangun blok atau poros menjadi berantakan. Kehadiran Amerika Serikat yang diterima dan menguat tentu akan sangat mengganggu dan bisa saja mengacaukan. Cina tersakiti.

Cina akan mempersulit dan mungkin dengan bengis menagih. Investor kabur atau  ditarik kembali. Sembilan naga disuruh menyemburkan api dari mulutnya untuk memperkeruh ekonomi. Ujungnya kepercayaan kepada Joko Widodo rontok karena merasa dikibuli. Joko Widodo hilang kekuatan, sempoyongan dan jatuh.

Di tengah maraknya seruan agar Joko Widodo mengundurkan diri, memang mempertimbangkan adalah langkah bijaksana. Meskipun masih akan meninggalkan masalah yang berat, akan tetapi mundur adalah  lebih baik daripada maju tak gentar menabrak etika, norma dan realita. Istana bertumpuk dosa.

Selamat berlatih “Garuda Shield-2021”. Biarlah jika Cina gerah atau Istana gelisah. Yang penting Garuda harus terlindungi dan dapat tetap tegak berdiri, lalu terbang bebas merdeka di udara dengan mengepakkan sayapnya.

*) Penulis adalah Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Baca Juga