Apakah Doa Anak Berlaku untuk Orang Tuanya yang Non-Musliim?


DIASUH OLEH TIM KONSULTASI SYARIAH SALAM-ONLINE

Saya seorang Muslimah,  sudah 14 tahun memeluk Islam. Orangtua saya adalah Kristen fanatik.Tapi beliau tidak pernah mempersulit saya dalam menjalankan perintah Allah. Orang tua saya selalu memperhatikan kekurangan saya. Pernah, dulu karena tak punya ongkos untuk menyunatkan anak, merekalah yang membiayainya. Terutama mama yang selalu menasihati saya untuk shalat. Sekarang papa saya sakit parah karena faktor usia. Saya sedih karena orang tua saya salah dalam beriman. Pertanyaan saya:

Pertama, bolehkah saya berdoa untuk mereka seperti doa Nabi Ibrahim (QS Ibrahim: 41).

Kedua,  apakah doa anak shalih kepada orangtuanya berlaku untuk saya yang orangtua non-Islam?

Mohon dijelaskan dasar dan dalil yang kuat.

M di Kota S

Ukhti M yang dimuliakan Allah,

Mendoakan  orang tua yang Muslim adalah salah satu ibadah yang dianjurkan, sekaligus merupakan bagian dari amal orang tuanya. Rasul saw bersabda, “Jika seseorang mati, maka amalnya terputus, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendoakannya,” (HR Muslim, No. 3084). Namun, jika orang tua non-Muslim, maka kita tidak boleh mendoakan mereka,  berkaitan dengan permohonan ampun, permintaan rahmat, dan yang sejenisnya. Hal itu berlaku selama mereka berada dalam kekafiran.  Allah berfirman:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam,” (QS at-Taubah: 113). Ayat ini melarang kaum Muslimin untuk menshalatkan dan mendoakan orang kafir.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu sekali-kali men-shalat-kan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik,” (QS at-Taubah: 84).

Adapun doa yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim, sebagaimana tertera diceritakan oleh Allah dalam al-Qur’an:

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat),” (QS Ibrahim: 41).

Maka doa Nabi Ibrahim ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini, diucapkan sebelum beliau berlepas diri dari ayahnya ketika telah jelas permusuhannya terhadap dakwah Islam. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah:

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya,” (QS at-Taubah: 114).

Namun kita boleh mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan memeluk Islam. Dalilnya adalah doa Rasulullah saw agar suku Daus memeluk Islam. “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada (kabilah) Daus,” (HR Bukhari). Setelah doa ini, banyak dari mereka yang memeluk Islam.

Doa Anda sebagai anak yang shalih, agar Allah mengampunkan dosanya atau menerima amalnya, tidak diperkenankan. Karena keimanan merupakan syarat diterimanya amal. Allah berfirman:

“Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat,” (QS al-Kahfi: 105).

Lantas bagaimana dengan mendoakan orang tua non-Muslim yang berkaitan dengan urusan keduniaan, misalnya kesembuhan, kekayaan, kesuksesan, dan lainnya? Kami sarankan, hendaknya jika Anda mendoakan orang tua Anda untuk terkait dengan keduniaan, hendaknya disertai doa agar mendapatkan hidayah dari Allah. Inilah yang disarankan oleh para ulama. Sebab, urusan yang berkenaan dengan akhirat, dalam hal ini keimanan, hendaknya jauh lebih didahulukan daripada urusan keduniaan. Wallahu a’lam.