Fahira: Ikut Sertakan Anak-anak, Bom Surabaya Hentakkan Nurani Kita

Fahira Idris

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Serangan bom kembali terjadi dan menjadi ujian berat bagi keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Ledakan bom beruntun yang terjadi di tiga titik lokasi di Surabaya pada Ahad (13/5/2018) pagi, kemudian malamnya di Sidoarjo dan Senin (14/5) pagi di Mapolrestabes Surabaya kali ini benar-benar menghentakkan nurani kita. Pasalnya, serangan bom itu di antaranya menyerang tiga gereja dan umat yang sedang beribadah serta mengakibatkan korban meninggal 25 orang dan lebih 40 lainnya luka-luka.

Demikian  diungkapkan oleh Ketua Komite III DPD, Fahira Idris. Menurut Fahira, bahkan yang mengguncang kita semua, di antara korban tersebut terdapat anak-anak. Pelaku pengeboman diduga sebuah keluarga yang mengikutksertakan anak-anak mereka dalam aksi tersebut.

“Ini luar biasa biadabnya. Menghancurkan hati kita semua. ‘Bom besar’ dari semua aksi ini menjadikan kita semua antarwarga negara saling benci sehingga mudah terprovokasi,” tutur Fahira kepada Salam-Online, Selasa (15/5/2018).

Percakapan di media sosial, Fahira mengungkapkan, nampak mulai timbul rasa saling curiga, saling tuduh, saling benci dan saling hujat. Secara tidak sadar, kata Fahira, kita sudah masuk dalam skenario mereka, yaitu melemahkan kita sebagai sebuah bangsa.

“Aksi bom yang menyasar rumah ibadah dan umat yang sedang beribadah adalah cara yang paling ‘ampuh’ untuk merusak sendi-sendi akal sehat warga negara sebuah bangsa. Setelah teror ini, sutradara dari semua aksi terkutuk ini berharap sebuah ‘bom besar kebencian’ akan meledak di berbagai daerah di Indonesia,” terangnya.

Ia berharap, jangan sampai bangsa ini menjadi pion-pion atau alat untuk memuluskan tujuan jahat dalang dan pelaku bom.

“Bangsa ini merdeka dan bersatu dari hasil keringat, darah dan air mata. Tidak semudah itu diporakporandakan. Bangsa ini terlalu besar untuk takut apalagi takluk dengan aksi-aksi teror seperti ini,” tegasnya.

Namun, ujar Fahira, aksi tersebut akan menjadi bencana besar jika negara tidak punya narasi yang kuat dan aksi yang tepat untuk mengakhiri aksi-aksi (serangan bom) di negeri ini. (EZ/Salam-Online)

Baca Juga