Pascaserangan Zionis, ACT Masifkan Bantuan di Gaza

SALAM-ONLINE: Merespons gempuran Zionis terhadap warga Gaza yang berlangsung sejak dua hari lalu, lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) meningkatkan distribusi bantuan di wilayah tersebut.

Dengan berjatuhannya korban jiwa sebanyak 34 orang, ditambah korban luka-luka berat yang diperkirakan angkanya terus bertambah, kebutuhan akan pertolongan dan respons darurat pun meningkat.

Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin mengatakan, serangan ini menjadi salah satu serangan terburuk Zionis karena dilancarkan di saat warga Gaza akan menghadapi musim dingin yang mencekam.

“Ini bukan lagi masalah yang ringan karena sudah berlangsung setiap tahun dengan eskalasi yang semakin meningkat. Kami sudah instruksikan kepada relawan-relawan dan mitra di Gaza untuk memasifkan pendistribusian bantuan medis, kesediaan paket pangan, dan bantuan lainnya,” ujar Ahyudin dalam rilis yang diterima redaksi, pada Kamis (14/11/2019), di Jakarta.

Berdasarkan rilis yang diterima dari Kementerian Kesehatan di Gaza, saat ini korban jiwa telah mencapai 34 orang. Sementara 111 orang lainnya menderita luka-luka.

Di antara korban jiwa yang berjatuhan adalah keluarga Abu Malhus. Delapan sanak famili beserta dirinya meregang nyawa ketika serangan udara jet tempur Zionis meluluh-lantakkan bangunan tempat tinggalnya. Abu Malhus dan keluarganya ketika itu sedang dalam keadaan terlelap.

Direktur Eksekutif Global Humanity Response ACT Bambang Triyono menyatakan, ACT mendirikan posko First Response di beberapa wilayah kegubernuran di Jalur Gaza. Khususnya yang terletak berdekatan dengan perbatasan.

Nantinya, posko itu akan berperan melayani dan menangani kasus gawat darurat untuk para korban.

Apabila tim relawan mendapati korban membutuhkan penanganan lebih serius, bantuan operasi, donor darah, hingga penyediaan alat bantu prostetik (artificial limbs) pun akan disiapkan guna merespons situasi darurat di Gaza.

“ACT membuka posko kesehatan di perbatasan, termasuk layanan kesehatan mobile kepada warga Gaza ke beberapa klinik kecil, sekolah-sekolah atau pusat-pusat komunitas warga di Gaza,” terang Bambang.

Berdasarkan laporan di lapangan, lanjutnya, serangan Zionis tersebar ke sejumlah titik. Oleh karenanya distribusi bantuan pun perlu diperluas dari beberapa titik di Gaza hingga perbatasan Rafah.

“Kalau melihat besarnya dampak (serangan), kami memberikan first response di beberapa titik, terutama sekitar perbatasan. Rupanya serangan ini rata, dari utara di Rafah, bom juga dijatuhkan di sana,” jelasnya dalam konferensi pers yang digelar di Gedung 165, di Jakarta hari ini, Kamis (14/11).

Selain itu, salah satu kendala operasional yang dihadapi tim medis di Gaza adalah suplai bahan bakar di setiap rumah sakit.

Sebagaimana diketahui, blokade dan pembatasan aliran listrik oleh pihak penjajah Zionis membuat fasilitas medis dan rumah-rumah sakit di Gaza terpaksa menggunakan mesin diesel untuk menjalankan aktivitas.Salah satu kebutuhan yang didistribusikan ACT adalah bahan bakar untuk rumah sakit.

“(Distribusi) bahan bakar kami lanjutkan dengan lebih masif. Suplai bahan bakar di RS Gaza lebih dari 100 ribu liter,” papar Bambang.

ACT juga memberikan santunan kepada keluarga yang menjadi korban serangan Zionis. Saat ini, sudah ada 25 keluarga yang mendapatkan santunan senilai sekitar 50 juta rupiah. 

Relawan ACT nampak di lokasi bangunan yang jadi salah satu target serangan jet tempur Zionis. FOTO: Dok. ACT

Tempat Tinggal untuk Warga

Presiden ACT Ibnu Khajar juga menyampaikan, saat ini warga Gaza sangat membutuhkan tempat tinggal disebabkan rumah-rumah yang biasa menjadi tempat mereka berteduh diratakan oleh rudal-rudal yang diluncurkan jet tempur Zionis dari langit Gaza.

Merespons kebutuhan itu, ACT menginisiasi pembangunan flat yang bisa dijadikan sebagai tempat tinggal mereka.

Dia mengatakan, satu bangunan flat bisa membutuhkan biaya sekitar 5 miliar. Sementara menurutnya, jumlah flat yang dibutuhkan lebih banyak dari itu.

“Dana yang dibutuhkan cukup besar untuk pembangunan kembali rumah flat. Untuk satu flat lima lantai yang berisi 20 keluarga dibutuhkan sekitar lima miliar rupiah. Itu untuk satu (flat). Tapi mereka sampaikan, bisa tidak (dibangun) 20 sampai 30 flat. Kalau begitu (dibutuhkan) sekitar 150 sampai 250 miliar,” jelas Ibnu.

“Yang membuat sedih, ini sudah mulai memasuki musim dingin. Anak-anak tanpa alas kaki, pakaian hangat, makanan, bahan bakar, bayangin! Jangan sampai mendapatkan berita bahwa kematian semakin banyak, baru memberikan bantuan,” tutup Ibnu. (/SF/Salam) 

Baca Juga
%d bloggers like this: