Ajip Rosidi, Sastrawan Tenar tanpa Ijazah Itu Telah ‘Menghadap’ Allah

Ajip Rosidi Rahimahullah, 1938-2020 M (Foto: Twitter)

Catatan Artawijaya*

SALAM-ONLINE: Satu lagi, tokoh penuh inspiratif meninggalkan kita. Ajip Rosidi, salah seorang sastrawan ternama. Meski hidup tanpa ijazah dari bangku kuliah, nama Ajip Rosidi di kalangan penulis-penulis besar bidang kesusastraan, sangat terkenal.

Sejak usia belasan tahun, Ajip Rosidi yang tak tamat sekolah, tulisan-tulisannya dimuat di majalah-majalah terkemuka di Indonesia. Ia membuat takjub para penulis dan sastrawan-sastrawan besar ketika itu. Bagaimana mungkin, seorang bocah yang masih mengenakan celana pendek, namun tulisan-tulisannya sangat baik dan diminati pembaca.

Ajip lahir pada 1938. Lebih dari seratus karya buku sudah ia lahirkan. Meski tak pernah mengenyam bangku kuliah, ia justru diminta menjadi dosen luar biasa di Jepang. Selama belasan tahun, Ajip mengajar di Negeri Sakura itu.

Kedekatannya dengan tokoh-tokoh Islam, terutama tokoh-tokoh Masjumi, bermula dari pertemuannya dengan Endang Saefuddin Anshari (ESA), anak salah seorang tokoh besar Masjumi, KH Isa Anshari, di salah satu toko buku di kota Bandung.

Dari pertemuannya dengan ESA, Ajip kemudian sering diajak untuk kumpul-kumpul dengan para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Atas jasa Endang Saefuddin Anshari pula, Ajip bisa bertemu lebih dekat dengan para tokoh Partai Masjumi seperti Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito, dan lainnya.

Karena kedekatannya dengan Endang Saefuddin Anshari pula, banyak yang menduga Ajip banyak belajar Islam dan dekat dengan para tokoh dan aktivis Islam karena ‘bimbingan’ dan kedekatan dengan ESA tersebut.

Tak heran jika Ajip kemudian menulis biografi Mohammad Natsir, salah satu biografi terbaik tentang Natsir yang ditulis oleh seorang sastrawan yang hebat. Ajip juga pernah mengumpulkan tulisan-tulisan Natsir yang kemudian dibukukan lewat penerbit yang ia kelola.

Suatu ketika, Ajip yang sudah sangat dekat dengan ESA kemudian berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren. Lalu Ajip pun diantar ESA ke Pesantren Persatuan Islam (Persis) Bangil, Jawa Timur. Di pesantren itu, ia bertemu dengan Ustadz Abdul Qadir Hassan, putra Tuan A. Hassan (pendiri Persis), yang mengelola pesantren tersebut.

ESA sudah sangat kenal dengan Ustadz Qadir, karena ayahnya, KH Isa Anshari, adalah sahabat karib ustadz tersebut. Ajip sendiri mengenal Tuan Hassan, lewat buku-buku karyanya yang ia baca.

“Aku sendiri banyak membaca buku-buku A. Hassan yang sangat keras dalam menghadapi pihak-pihak yang dianggap keluar dari Al-Qur’an dan hadits,” kenang Ajip.

Dari Bangil, Ajip dan ESA lalu pergi ke Pesantren Gontor, masih dalam rangka mencari pesantren yang pas untuk anaknya. Di Gontor, ia disambut oleh Kiai Zarkasyi dan Kiai Sahal, yang juga sudah kenal baik dengan ESA.

Takdir Allah berkata lain. Setelah dari Bangil dan Gontor, Ajip akhirnya memasukkan anaknya di Pesantren Pabelan, Jawa Tengah. Bahkan di usia senjanya saat ini, ia juga tinggal dan menghabiskan waktu di Pebelan.

Selain dengan ESA, Ajip juga dikenal dekat dengan sastrawan dan budayawan Taufiq Ismail. Ketika sastrawan dan dramawan WS Rendra bersyahadat memeluk Islam, yang membimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat itu adalah KH Abdul Gaffar Ismail Rahimahullah, ayah dari Taufiq Ismail. Dalam surat keterangan saksi masuk Islamnya Rendra, tertera tanda tangan Ajip Rosidi dan Taufiq Ismail.

Baca Juga

Buku “Hidup tanpa Ijazah” adalah otobiografi yang sangat inspiratif. Dari Ajip kita belajar, bahwa dengan ketekunan, rajin membaca dan belajar, Anda yang tak memiliki gelar, bisa menjadi orang besar. Ini bukan berarti gelar akademik itu tidak penting. Tetapi yang lebih penting dari gelar yang melekat itu adalah kontribusinya bagi masyarakat luas, sehingga gelar yang didapat bisa melahirkan manfaat.

Dikutip dari Wikipedia, Ajip Rosidi (ejaan baru: Ayip Rosidi), lahir di Jatiwangi, Jawa Barat, 31 Januari 1938. Dia adalah sastrawan Indonesia, penulis, budayawan, dosen, pendiri dan redaktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rabcage. Ajip juga pernah menjadi Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta.

Meski tidak tamat sekolah menengah, namun dia dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia. Bahkan sejak 1967, Ajip juga mengajar di Jepang. Pada 31 Januari 2011, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (UNPAD).

Ajip banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastra Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik.

Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastra-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan Hadiah Sastera Rancage yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda. Pada tahun 2008, beberapa sastrawan mengapresiasi karyanya yang dituangkan dalam buku berjudul Jejak Langkah Urang Sunda 70 Tahun Ajip Rosidi.

Ajip Rosidi, yang sudah didahului istrinya, Fatimah Wirjadibrata, pada 2014, menikah dengan aktris kawakan Nani Wijaya pada Ahad, 16 April 2017. Nani Wijaya sendiri juga telah lebih dulu ditinggal sang suami, Misbach Yusa Biran, juga sama seperti Ajip Rosidi, yaitu seorang sastrawan, sutradara film, penulis skenario film dan kolumnis. Misbach Yusa Biran wafat pada 11 April 2012, dalam usia 78 tahun.

Ajip Rosidi usai melangsungkan akad nikah dengan Nani Wijaya, 3 tahun lebih yang lalu

Akad nikah Ajip Rosidi dan Nani Wijaya, pasangan yang sama-sama sudah sepuh ini, berlangsung di Masjid Agung Keraton Kasepuhan Cirebon. Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat dan permaisuri turut menghadiri resepsi pernikahan pasangan pengantin baru yang sepuh ini di komplek keraton.

“Sebetulnya kenal dia (Nani) sudah lama, dia menikah dengan kawan saya kan, Pak Misbach yang meninggal tahun 2012. Pas 2014 istri saya meninggal,” kata Ajip kepada wartawan, dua pekan sebelum melangsungkan akad nikahnya dengan Nani Wijaya.

Rabu malam, 9 Dzulhijjah 1441 H atau 29 Juli 2020 M, sekitar pukul 22.30 WIB Ajip Rosidi meninggal dunia di RSUD Tidar, Kota Magelang, Jawa Tengah, dalam usia 82 tahun. Ia meninggal setelah mendapat perawatan intensif pasca operasi.

Ajip Rosidi mewariskan berbagai keteladanan, di antaranya bahwa meski tanpa ijazah, hidup harus terus terasah; dengan kerja keras dan semangat untuk terus belajar.

Innaa lillaahi wa Innaa ilaihi Raaji’uun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihii wa’fu ‘Anhu. Aamiin Yaa Robb.

*) Artawijaya, adalah Penulis Buku, Jurnalis dan Editor di sebuah penerbitan di Jakarta

awefawef99942