Palestina, Antara Skenario Allah dan Manusia

Catatan Ust. Fathuddin Ja’far

SALAM-ONLINE.COM: Ide Dua Negara terkait solusi penjajahan dan genosida yang dilakukan bangsa Yahudi terhadap umat Islam Palestina (tidak hanya Gaza) bukan sesuatu yang baru. Tapi sudah ada sejak 78 tahun lalu sebagaimana diusulkan PBB.

Waktu itu, PBB menyiapkan proposal dua negara Palestina melalui sebuah Resolusi Majelis Umum PBB No. 181 tertanggal 29 November 1947. Dalam resolusi tersebut dicantumkan pembentukan dua negara di atas bumi Palestina; satu negara Yahudi dan satu lagi negara Arab (penduduk asli Palestina).

Untuk Yahudi ditetapkan seluas 14,100 km persegi (56,47%) dan untuk penduduk asli Palestina seluas 11,500 km persegi (42,88%). Sisanya, Al-Quds dan sekitarnya menjadi wilayah status quo di bawah kendali PBB.

Saat resolusi tersebut dikeluarkan, kaum Yahudi baru memiliki 7% tanah Palestina yang dibeli dari broker-broker pribumi yang lemah iman atau pengkhianat. Sisanya, 93% murni milik penduduk asli Palestina.

Pada Mei 1948, Inggris diam-diam menyerahkan Palestina kepada kaum Yahudi sesuai Deklarasi Balfour 1917 dan setelah menjajah Palestina selama 30 tahun. Tepat pada 14 Mei 1948, David Ben Gurion, seorang tokoh senior Zionis Yahudi mendeklarasikan berdirinya “Negara Israel” di atas bumi Palestina. Beberapa jam setelah itu, Amerika Serikat dan hampir semua negara Barat gegap gempita mengakuinya. Akhirnya, sampai tahun 1973, Yahudi sudah menguasai semua wilayah Palestina, termasuk Gaza yang luasnya sekitar 1,3% dari total bumi Palestina.

Pada Desember 1987, Syekh Ahmad Yasin dan beberapa sahabatnya mendeklarasikan sebuah pergerakan dakwah dan Jihad di Gaza yang diberi nama “Gerakan Perlawanan Islam” (HAMAS). Melihat perkembangan HAMAS yang sangat cepat dan mendapat dukungan mayoritas rakyat Palestina, baik yang di dalam maupun yang terusir ke luar negeri, penjajah “Israel” mengatur siasat baru bekerja sama dengan Pemimpin PLO, Yaser Arafat untuk menghidupkan kembali ide solusi dua negara yang dikenal dengan Perjanjian Oslo.

Perjanjian Oslo dilakukan secara rahasia antara Yaser Arafat dengan pihak “Israel” sejak tahun 1990 di Oslo, ibu kota Norwegia dan berlanjut selama 3 tahun. Akhirnya pada tanggal 13 September 1993, Perjanjian Oslo ditandatangani di AS di hadapan Presiden Bill Clinton. Di antara isinya, PLO harus mengakui keabsahan “Negara Israel”. Sebaliknya, “Israel” mengakui PLO satu-satunya lembaga Palestina yang sah. Di samping itu, “Israel” akan mendirikan wilayah otonomi dengan wilayahnya mencakup Tepi Barat (21% dari total wilayah Palestina) dan Jalur Gaza (1,3% dari total wilayah Palestina). Kemudian di atas kedua wilayah tersebut didirikan sebuah pemerintahan dengan nama “Pemerintahan Otoritas Palestina”. “Pemerintah Boneka” ini diakui pula oleh PBB dan seluruh negara di dunia, termasuk negara-negara Arab dan Islam lainnya.

Tahun 2006, Pemerintahan Otoritas Palestina mengadakan Pemilu. HAMAS memenangkan pemilu tersebut sehingga Ismail Haniye terpilih menjadi Perdana Menteri Pemerintahan Otoritas Palestina Februari 2006. “Israel”, AS, PBB dan negara-negara pendukung setia Zionis Yahudi lainnya syok berat. Sekitar musim panas 2007, Mahmud Abbas atas dasar perintah penjajah “Israel” mengudeta pemerintahan Ismail Haniye. Beberapa waktu setelah itu, HAMAS menguasai Jalur Gaza dan mengusir semua kekuatan PLO/Fatah dari Gaza.

Akhirnya, skenario dua negara pun berantakan. Pemerintahan Otoritas Palestina besutan “Israel” yang didukung PBB serta dunia Barat lainnya bubar dengan sendirinya, sehingga ‘wujuduha ka’adamiha” (adanya sama dengan tiada). Bahkan hanya menjadi sarang korupsi, pengkhianatan, mata-mata “Isarel” dan lainnya bagi para pejabat dan petingginya.

Ironisnya, dunia menuduh HAMAS bersama gerakan perlawanan lainnya seperti gerakan Jihad Islam sebagai gerakan “teroris”. Padahal mereka hanya melawan pendudukan penjajah Yahudi atas tanah dan negeri mereka. Tidak sampai di situ. Tokoh-tokohnya dibunuh di mana saja mereka dapatkan, asetnya dibekukan di mana saja mereka temukan, dan Gaza pun diboikot hampir seluruh dunia dan diciptakan penjara terbesar sedunia, yakni sekitar 365 km persegi.

Dari sisi darat berbatasan dengan wilayah Palestina yang dijajah “Israel”, Gaza dipagar dengan tembok tebal, tinggi, dan super kokoh sepanjang 40 km. Dari sisi perbatasan dengan Mesir, penguasa Mesir membangun tembok tinggi dan super kuat sepanjang 10 km. Di sisi laut dan udara juga diblokade.

Sejak 18 tahun silam, Gaza benar-benar menjadi penjara terluas di dunia. Semua itu terjadi di hadapan mata dan persetujuan PBB, negara-negara Barat yang fasih berbicara hak asasi manusia, juga negeri Muslim yang fasih bicara persaudaraan. Sebagai balasannya, Allah anugerahkan kepada HAMAS kemampuan membangun kota di bawah tanah (Underground City) dengan panjang terowongan ratusan km. Di bawah tanah itulah mereka membangun dan mempersiapkan berbagai keperluan logistik, khususnya senjata dan perlengkapan pertahanan lainnya.

Karunia Allah kepada mereka luar biasa besarnya. Uniknya, di tengah blokade tersebut HAMAS dan berbagai gerakan Jihad lainnya, mampu meningkatkan kemampuan perang dan jihad mereka melebihi kemampuan prajurit penjajah “Israel” yang selama ini digembar-gemborkan sebagai pasukan terkuat di kawasan Timur Tengah. Kemampuan memproduksi berbagai peralatan perang Hamas pun semakin canggih, khususnya roket jarak jauh dan lainnya.

Akhirnya, HAMAS melalui sayap milternya : ”Izzuddin Al-Qassam” mampu berperang dalam waktu jangka panjang. Namun yang lebih menakutkan “Israel” ialah menyebarnya pengaruh HAMAS ke seluruh penjuru dunia, tanpa kecuali, setelah melancarkan serangan udara, darat, dan laut secara serentak ke wilayah jajahan Zionis Yahudi pada 7 Oktober 2023 lalu dengan sandi Thufanul Aqsha. Sejak 7 Oktober 2023, dukungan masyarakat dunia kepada perjuangan kemerdekaan Mujahidin HAMAS dan lainnya semakin tak terbendung.

Sejak Thufanul Aqsha, muncul berbagai fenomena ajaib di seluruh dunia dan di berbagai komunitas dari berbagai level dan status masyarakat, baik secara online maupun ofline, dan tak seorang pun sebelumnya memperkirakannya terjadi. Di antaranya, tidak ada bendera negara mana pun di dunia saat ini yang paling banyak dikibarkan selain bendera Palestina. Tidak ada kata yang lebih banyak diucapkan manusia saat ini selain Gaza dan “Free free Palestine’. Tidak ada perhatian ratusan juta umat manusia saat ini tercurah melebihi genosida “Israel” atas Gaza. Tak ada kecaman dan caci maki yang dilontarkan manusia saat ini melebihi kecaman mereka terhadap “Israel” dan berbagai kejahatannya di Gaza. Tiada demonstrasi dengan jumlah besar dan berbagai ekspresi dukungan saat ini di dunia dan tanpa henti melebihi dukungan kemerdekaan untuk Palestina. Tidak ada doa yang paling banyak dilantunkan umat Islam setiap saat sekarang ini melebihi doa untuk kehancuran Yahudi dan kemerdekaan Palestina.

Bahkan sejak Eropa menjadi negara maju secara ekonomi, teknologi, dan militer, dan juga sejak Amerika Serikat menjadi negara Adidaya, pemerintahnya belum pernah diprotes jutaan rakyatnya dari berbagai kalangan dan status sosial dan dikecam sebagai pemerintahan yang terlibat genosida atas Palestina. Artinya, ideologi dan gerakan zionisme yang sejak 1897 mendominasi Eropa, Amerika, dan bahkan negeri-negeri Muslim lainnya, sudah mulai sempoyongan dan sedang menuju ambruk, dan tinggal hanya di kepala sebagian kalangan politisi, penguasa, dan oligarkinya.

Lebih dari itu semua, belum pernah ada gelombang pembelaan masyarakat Eropa modern terhadap sebuah negeri jajahannya seperti pembelaan mereka terhadap Palestina. Selama ini mereka bersikap bagaikan kerbau ditusuk hidung, tak peduli atas penjajahan yang dilakukan negara mereka atas negara lain.

Yang lebih ajaib lagi, gelombang masyarakat Eropa modern masuk Islam tak terbendung setelah peristiwa Thufanul Aqsha 7 Oktober 2023. Semua itu akibat mereka dilanda Thufan susulan yang yang bernama Thufan Kekuatan Islam yang mampu membuka kesadaran dan kepahaman masyarakat Eropa terhadap kebenaran Islam yang mengungguli semua agama lainnya di dunia seperti yang Allah jelaskan. (At-Taubah: 33).

Baca Juga

Lalu bagaimana kita membaca apa yang sedang terjadi di Palestina dan bagaimana endingnya?

Yang terjadi di Palestina adalah penjajahan dan genosida yang dilakukan sekitar 6,8 juta bangsa Yahudi yang berada di Palestina saat ini, baik militer maupun sipil. Karena mereka adalah pendatang haram yang saling berkolaborasi dan saling punya kepentingan. Mereka dirancang, didukung, dan dilindungi mati-matian oleh negara-negara Eropa, khususnya Inggris, Prancis, Jerman, Amerika Serikat, dan juga PBB.

Sedangkan endingnya, cepat atau lambat adalah kemerdekaan total rakyat dan seluruh bumi Palestina dari berbagai bentuk penjajahan dan kezaliman, bukan sebagai salah satu dari dua negara seperti yang sudah dirancang PBB sejak 78 tahun lalu. Konsekuensi logisnya ialah “Israel” akan lenyap dari peta dunia. Ada empat alasan yang menguatkan statemen di atas:

Secara Sunnatullah, tidak ada penjajahan itu yang abadi. Karena penjajahan itu kezaliman dan Allah tidak akan membiarkan kezaliman itu abadi, siapa pun dan bangsa mana pun pelakunya. Maka, tidak ada setelah penjajahan kecuali kemerdekaan. Silakan baca sepanjang sejarah manusia di seluruh dunia ini, tidak ada penjajah yang bertahan melebihi yang dilakukan kerajaan Fir’aun di Mesir dan Belanda di Indonesia.

Karena setelah penjajahan itu adalah kemerdekaan, maka tidak akan pernah terjadi solusi dua negara. Karena jika dua negara berhasil didirikan di Palestina, berarti Palestina masih terjajah. Perlawanan dan Jihad akan tetap hidup sampai meraih kemerdekaan total. Apalagi konsep negaranya seperti Pemerintahan “Boneka” Otoritas Palestina yang dibangun PLO/Fatah dan “Israel”, maka akan lebih lemah dari sarang laba-laba.

Palestina, termasuk Gaza, Tepi Barat, dan seterusnya adalah bumi yang Allah berkahi. Kepemilikannya bukan berdasarkan etnis tertentu seperti Yahudi, Arab, Eropa, dan seterusnya, melainkan berdasarkan nilai kebenaran yang mereka anut, yaitu Islam. Allah sudah tetapkan sejak ditaklukkan umat Islam di zaman Umar Ibnul Khattab sampai akhir zaman bahwa Palestina dan juga negeri Syam lainnya (Suriah, Yordania, dan Lebanon) adalah pusat kekuatan kemenangan kaum Muslimin sedunia. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dijelaskan, bahwa Syam Itu bumi Allah yang terbaik dan Dia meggiring kepadanya hamba-hamba-Nya yang terbaik pula. (H.R. Abu Daud dan lainnya)

Di Palestina itu ada Masjid Aqsha, terletak di kawasan timur Baitul Maqdis, dibangun Nabi Adam 40 tahun setelah membangun Masjid Haram di Makkah. Antara Masjid Haram dan Masjid Aqsha tidak dapat dipisahkan. Terbukti, Allah tetapkan peristiwa Isro’ (perjalanan malam) Rasulullah dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Palestina juga bagian dari negeri Syam yang didoakan keberkahannya oleh Rasulullah. Banyak hadits Rasulullah yang menjelaskan keutamaan Palestina dan negeri Syam. Di antaranya:

“Tidak dibolehkan bersusah payah bepergian kecuali kepada tiga masjid; Masjidku (Masjid Nabawi), Masjid Haram dan Masjid Aqsha” (H.R. Muslim).

“Akan ada selalu sekelompok umatku memperjuangkan agama ini (Islam), menguasai musuh mereka, orang yang menyelisihi mereka tidak akan mampu mencederai (perjuangan) mereka, kecuali sebatas ditimpa kesulitan (kehidupan) sehingga datang keputusan (kemenangan) dari Allah sedangkan mereka tetap seperti itu (istiqamah). Mereka (Sahabat) berkata: Di mana mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Di Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis”. (H.R. Ath-Thabrani, menurut Imam Al-Haitsami para perawinya dipercaya).

“Dunia ini tidak akan kiamat sampai kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi, maka kaum Muslimin membunuh mereka sehingga ada dari Yahudi yang bersembunyi di balik batu atau pohon. Batu atau pohon berkata: Wahai Muslim, wahai Hamba Allah! Ini ada seorang Yahudi di belakangku, ayo ke sini bunuh dia. Kecuali pohon gharqad (tidak mau bicara) karena pohon tersebut adalah pohon orang-orang Yahudi”. (H.R. Imam Muslim).

“Pada Al-Malhamah Al-Kubra (Perang Besar akhir zaman antara umat Islam dengan bangsa Romawi/Yahudi dan Nasrani yang akan terjadi di Dabiq/A’maq, sebuah wilayah antara Suriah dan Turki), maka kekuatan umat Islam di sebuah wilayah disebut Al-Ghuthah, di dalamnya ada sebuah kota disebut Damaskus. Ia adalah sebaik-baik tempat tinggal kaum Muslimin saat itu”. (H.R. Al-Hakim, Abu Daud dan Ahmad).

Penutup
Palestina dan juga negeri Syam lainnya adalah sebuah negeri yang Allah berkahi. Di antara keberkahan tersebut ialah, Allah jadikan pusat kemenangan umat Islam akhir zaman. Dimulai dari kemenangan umat Islam atas kaum Zionis Yahudi yang menjajah Palestina sejak 1948. Artinya, negara yang diberi nama “Israel” akan terhapus dari sejarah umat manusia selama-lamanya. Sementara proposal PBB dan para pemimpin dunia untuk mendirikan dua negara berdampingan tidak akan pernah terwujud.

Setelah kehancuran Yahudi dan negara hasil jajahan mereka bernama “Israel” akan disusul perang besar akhir zaman antara kaum Muslimin VS bangsa Romawi (Eropa) yang berkulit putih, bermata biru, dan berambut pirang. Mereka akan bergabung sebanyak 80 bendera/kelompok, dan masing-masing kelompok terdiri dari 12.000 prajurit (960.000).

Seperti dijelaskan Rasulullah di atas, bahwa Damaskus dan sekitarnya akan menjadi pusat kekuatan umat Islam dalam menghadapi dan memenangkan perang besar (Al-Malhamah) akhir zaman yang akan terjadi di sebuah wilayah yang sangat luas dan datar bernama Dabiq/A’maq dan terletak sekitar 35 km dari kota Halb/Aleppo ke arah perbatasan dengan Turki.

Masalah Palestina, Syam dan bahkan kemenangan umat Islam akhir zaman sepenuhnya berdasarkan kehendak dan skenario Allah. Tak satu pun manusia, negara, atau lembaga yang mampu melawan kehendak-Nya. Faktanya, selama satu abad lebih, sejak 1897, rencana Yahudi Zionis mendirikan “Israel Raya” (semua wilayah Arab dan sebagian Turki) kandas sudah, kendati didukung oleh semua kekuatan dunia. Gaza yang hanya seluas kota Depok, tidak berhasil mereka taklukkan sejak tahun 2007 sampai saat ini. Bangunannya boleh mereka hancurkan, tapi kendali kotanya masih di tangan para Mujahidin. Bukti konkretnya, tak satu pun tawanan dari pihak “Israel” yang mampu mereka bebaskan kecuali atas persetujuan HAMAS dan Mujahidin lainnya.

Pertanyaan terakhir ialah: Siapa yang akan Allah pilih menjadi para pembebas Masjid Aqsha, Baitul Maqdis, Palestina dari penjajahan bangsa Yahudi Zionis dan setelah itu yang akan memenangkan Perang Besar Akhir Zaman yang bernama Al-Malhamatul Kubra? Yang pasti mereka adalah kaum Mukmin dari berbagai penjuru bumi Allah yang meyakini kekuasaan Allah, kebenaran janji Allah, takut hanya kepada Allah, dan hidup sesuai petunjuk Kitabullah dan ajaran Rasulullah, bukan mereka yang mengikuti kehendak dan jalan pikiran manusia, apalagi kaum kafir, siapapun dan dari bangsa manapun mereka. Allah menjelaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Ma’idah (5): 54).

Semoga Allah gabungkan kita dan anak cucu kita ke dalam hamba-hamba pilihan Allah di atas. Aamiin. []

Baca Juga