Pengunjuk Rasa Protes Netanyahu tak Ditangkap Saat ke PBB, Polisi Malah Tangkap Demonstran

SALAM-ONLINE.COM: Ribuan orang berunjuk rasa dalam aksi protes terhadap Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu yang digelar di berbagai penjuru kota New York, termasuk sebuah aksi yang diselenggarakan oleh Jewish Voice for Peace dan Palestinian Youth Movement di depan markas besar PBB.
Nsmun puluhan orang di antaranya ditangkap saat melakukan protes menentang kehadiran Netanyahu dalam Sidang Majelis Umum PBB pada Kamis lalu.
Aktris Susan Sarandon dan Hannah Einbinder, serta aktivis sekaligus *whistleblower* Chelsea Manning, termasuk di antara para pengunjuk rasa yang ditangkap saat aksi duduk yang memblokir jalan utama menuju PBB.
Dalam kondisi diborgol dan dikawal oleh petugas Kepolisian New York (NYPD), Einbinder terekam dalam video yang dibagikan di media sosial saat mengatakan, “Netanyahu keluar dari New York, jangan ada bom di Lebanon, hentikan genosida.”
Polisi juga menangkap sejumlah politisi dan kandidat politik, termasuk anggota Dewan Kota New York Alexa Avilés, Linda Sarsour, Jennifer Gutiérrez, Chi Ossé, Darializa Avila-Chevalier, dan Aber Kawas.
Jewish Voice for Peace dan Democratic Socialists of America memblokir lalu lintas di dekat PBB sambil mengenakan kaus bertuliskan “Danai rakyat, bukan bom,” serta mengecam genosida “Israel” di Gaza dan perang AS-“Israel” terhadap Iran.
“Saya yakin semua orang harus turun ke jalan,” ujar Kawas, calon anggota Senat Negara Bagian New York beberapa jam setelah penangkapannya.
“Menurut saya, lebih banyak pejabat terpilih perlu angkat bicara mengenai kehadiran Benjamin Netanyahu—seorang penjahat perang—di Negara Bagian New York dan Kota New York,” ujarnya.
“Saya bangga bisa turun melakukan protes, bahkan menghadapi risiko penangkapan… karena menurut saya, kami sedang menyampaikan pesan bahwa kita membutuhkan lebih banyak orang untuk berani membela apa yang secara moral benar pada saat ini.”
Mahkamah Pidana Internasional (ICC), yang bermarkas di Den Haag, Belanda, mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu pada November 2024. Tuduhan yang diajukan mencakup penggunaan kelaparan sebagai senjata perang, pembunuhan, penganiayaan, dan pengarahan serangan terhadap warga sipil, yang terjadi sejak “setidaknya tanggal 8 Oktober 2023”.
Bersama Kawas, turut ditangkap pula Ibtehal, seorang aktivis penggerak terkemuka di New York City yang tergabung dalam gerakan Pemuda Palestina.
“Kami memprotes fakta bahwa seorang penjahat perang, Benjamin Netanyahu, belum dimintai pertanggungjawaban; bahwa komunitas internasional belum menangkap penjahat perang ini serta belum menjatuhkan sanksi maupun embargo senjata atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya,” kata Ibtehal.
‘Omong Kosong yang Bersifat Performatif’ ala Mamdani
Sebagian kritik publik juga ditujukan kepada Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, yang semasa kampanye berjanji bahwa pemerintahannya akan mengerahkan polisi kota untuk menangkap Netanyahu.
Namun pada Juli lalu—sekitar delapan bulan setelah terpilih—ia mengumumkan bahwa pemerintah kota tidak memiliki wewenang hukum untuk melaksanakan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh ICC.
Di tengah berlangsungnya aksi protes, Mamdani mengunggah video yang memperlihatkan dirinya sedang menanam pohon zaitun bersama keluarga-keluarga Palestina dari Gaza di Gracie Mansion, kediaman resmi wali kota.
Nerdeen Kiswani, pendiri Within Our Lifetime—sebuah organisasi komunitas yang dipimpin oleh warga Palestina—mengkritik video Mamdani tersebut. Ia menyebut tindakan itu “sangat jauh berbeda dari janji kampanye untuk menangkap Netanyahu’.
“Jadi, omong kosong yang bersifat performatif ini dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari fakta bahwa ratusan kendaraan NYPD mengawal Netanyahu ke PBB hari ini, memberikan sambutan yang lebih megah baginya dibandingkan sambutan bagi sebagian besar—atau bahkan seluruh—kepala negara,” tulisnya.
Alih-alih menangkap Netanyahu, NYPD justru menangkap para pengunjuk rasa.
“Ini benar-benar bertolak belakang dengan apa yang diusung Mamdani saat mencalonkan diri,” tulisnya.
‘Usir Israel dari Perserikatan Bangsa-Bangsa’
Para demonstran yang turut serta dalam unjuk rasa tersebut mengatakan, PBB seharusnya tidak memberikan panggung bagi Netanyahu untuk berbicara. Sebaliknya, ia seharusnya berada di Den Haag untuk menjalani persidangan.
Thaer Ahmed, seorang dokter yang menjadi sukarelawan di Gaza, mengatakan bahwa warga Gaza hanya “berusaha tidur di malam hari, namun bom-bom Amerika seberat 2.000 pon dijatuhkan ke rumah-rumah mereka.”
“Kami tidak mendapatkan pasokan yang kami butuhkan untuk merawat mereka, dan kami hanya bisa menyaksikan satu demi satu korban dibawa dalam keadaan tewas akibat ulah militer ‘Israel’,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa PBB telah kehilangan otoritas moralnya.
“Menurut saya, kita tidak perlu mendengarkan apa pun yang disampaikan oleh siapa pun di Majelis Umum PBB, apalagi mendengarkan seorang pembunuh anak-anak bernama Benjamin Netanyahu.”
Carol Choke, seorang perempuan Yahudi yang memiliki kerabat korban Holocaust, mengatakan bahwa ada perbedaan antara Yudaisme dan Zionisme. Ia menegaskan, tindakan yang dilakukan atas nama Yudaisme tidak mencerminkan agamanya.
“Kami peduli terhadap sesama dan memberikan sumbangan amal. Kami menyisakan hasil panen di tepi ladang agar bisa diambil oleh mereka yang kekurangan; kami tidak menghancurkan suatu budaya secara keseluruhan,” ujarnya.
Selain unjuk rasa di jalanan, aksi protes juga terjadi di dalam gedung PBB pada saat Netanyahu melangkah menuju podium untuk menyampaikan pidatonya. Sebagian besar delegasi bangkit dari kursi mereka dan berjalan keluar ruangan sebagai bentuk boikot terhadap pidato Netanyahu, sembari melontarkan cemoohan dan sorakan ketidaksetujuan ke arahnya.
Namun, Medea Benjamin—salah satu pendiri Code Pink, sebuah organisasi akar rumput feminis yang menentang perang—mengatakan bahwa aksi keluar ruangan yang dilakukan para delegasi saat pidato Netanyahu itu saja tidaklah cukup.
“Yang harus mereka lakukan adalah menyatakan bahwa kita akan menjatuhkan sanksi terhadap ‘Israel’ terlebih dahulu, lalu mengusir ‘Israel’ dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. ‘Israel’ tidak boleh diizinkan untuk berpartisipasi,” ujarnya.
Menanggapi pernyataan Netanyahu dalam pidatonya bahwa “Israel” tidak memiliki mitra yang lebih baik daripada Presiden Trump, Medea Benjamin mengatakan dirinya sangat marah atas penjualan senjata AS ke “Israel”.
“Menurut saya, pemerintahan negara mana pun yang masih menjual senjata ke ‘Israel’ seharusnya digulingkan oleh rakyatnya sendiri,” kata Medea Benjamin.
“Hal itu menunjukkan bahwa negara ini bukanlah sebuah negara demokrasi; karena jika ya, kita tidak akan menjual senjata-senjata tersebut ke ‘Israel’, dan kita tidak akan mencantumkan ketentuan dalam Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) saat ini yang menyatakan bahwa kita akan semakin mengintegrasikan militer AS dan ‘Israel’ melampaui kondisi saat ini.
“Hal itu bertentangan dengan segala sesuatu yang diinginkan oleh mayoritas rakyat Amerika.” (is)
Sumber: Middle East Eye (MEE)