Catatan untuk ‘Board of Peace’

Oleh: Ust Fathuddin Ja’far

SALAM-ONLINE.COM: Seperti sudah diketahui khalayak sejagat, Donald Trump beberapa waktu lalu meluncurkan gagasan lagi terkait dengan isu Palestina, khususnya Gaza dengan nama “Board of Peace (Dewan Perdamaian)”, atau disingkat dengan BoP, sebagai kelanjutan dari proposal Donald Trump tahun lalu.

Walaupun namanya terkesan indah dan memberikan harapan, namun di balik nama indah tersebut terkandung niat jahat berikut:

1. Hakikatnya, BoP tersebut kelanjutan dari Deklarasi Balfour Menlu Inggris 1917 terkait persetujuan pemerintah Inggris menjadikan Palestina sebagai negara bangsa Yahudi dan kemudian diteruskan dengan penjajahan Inggris sendiri atas Palestina dari tahun 1918 sampai 1948.

2. Sebagai salah seorang tokoh sentral Zonis Yahudi dunia yang mendapat “mandat” membela “Israel” membabi buta, dan dengan segala daya dan upaya, Donald Trump mengalami stres dan frustrasi berat. Ia dipaksa membantu menyelamatkan negara jadah “Israel” yang didirikan di atas bumi Palestina sejak 1948. Sangat logis Donald Trump stres berat, khususnya setelah peristiwa 7 Oktober, Badai Al-Aqsha. Kendati ia telah mengerahkan segala daya dan upaya, faktanya, negara haram “Israel” sedang di ujung tanduk. Sebab itu, tidak heran jika Proposal BoP tersebut terlihat sekali “ngawur besar”, jauh dari hasil pikiran akal sehat. Keluar dari realitas yang ada saat ini dan berkembang pasca Badai Al-Aqsha, baik di Amerika sendiri, Eropa dan bahkan dunia.

3. Penulis meyakini, tingkat stres Donald Trump sekarang ini semakin tinggi dan bisa sampai depresi. Khususnya setelah proposal BoP ditolak dan bahkan dicurigai negara-negara Eropa yang selama ini menjadi sekutu paling dekat seperti Inggris, Prancis, Italia dan Spanyol. Bagaimana tidak depresi? Yang mau ikut hanya beberapa negara yang “tidak memiliki pengaruh besar” secara politik global seperti Indonesia, Arab Saudi, Kuwait dan seterusnya. Paling Donald Trump hanya dapat dana rampokannya yang masing-masing harus menyetor USD 1.00 Milyar. Ada memang Turki. Tapi dunia juga tahu, AS belum pernah berhasil mengendalikan Erdogan, bahkan gagal total mengkudetanya tahun 2016, karena Erdogan dikenal sangat piawai membaca dan menghadapi strategi politik, ekonomi dan militer AS.

4. Donald Trump semakin terjepit antara tekanan Zionis Yahudi yang selalu memikulkan kepadanya berbagai beban berat yakni, keharusan menyelamatkan “negara Israel” yang sedang menghitung hari. Kalau tidak, Mossad akan membocorkan berbagai skandalnya; mulai dari korupsi, mafia perdagangan anak wanita untuk bisnis pelacuran, narkoba dan seterusnya. Bila semua itu dibongkar, dipastikan Donald Trump akan terpelanting dari kursi kekuasaannya dalam sekejap. Apalagi situasi politik dalam negeri AS sedang menyala.

Baca Juga

Sejak beberapa tahun terakhir, gelombang Badai Al-Aqsha sedang menerjang dunia, tanpa terkecuali negeri AS yang menyatu dengan rasa kemuakan masyarakatnya menyaksikan kelakuan sang Presiden zalim dan abnormal alias eudan..  Lebih celakanya lagi, para pemimpin negara Eropa pun sudah mulai berpikir realistis, disebabkan mereka sekarang juga dihadapkan pada salah satu dari dua pilihan, tetap dukung “Israel” penjajah, atau rakyat mereka yang sudah terbuka nalar dan kecerdasannya. Kalau diteruskan mendukung “Israel”, bisa-bisa mereka terjungkal dari kekuasaan.

5. Di sisi lain dan perlu diketahui dunia, bahwa mayoritas masyarakat Palestina, termasuk yang di luar negeri dan di Jalur Gaza, mereka tidak butuh rekonstruksi kota Gaza, kendati bangunan dan infrastrukturnya sudah hancur lebih 80%. Rekonstruksi bukan prioritas utama mereka dan mereka tidak perlu diajari untuk itu. Prioritas utama mereka adalah merdeka dari penjajahan Inggris 1918 yang dilanjutkan Yahudi Zionis sejak Mei 1948. Untuk kemerdekaan itulah mereka berjuang dan berjihad terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya tanpa sedikit pun takut dan bersedih. Bahkan bahagia dan bangga mati syahid. Sejak invasi Inggris 1918, sejak Syekh Izzuddin Al-Qassam yang syahid di tangan tentara Inggris tahun 1936, sampai Abu Ubaidah 30 Agustus 2025 yang lalu dan akan berlanjut sampai tujuan kemerdekaan mereka capai. Mereka sudah bersumpah atas nama Allah, tidak akan melepaskan senjata seperti tertuang dalam proposal Donald Trump, kendati mereka harus mati berkeping-keping. Karena seperti dikatakan Khalid Misy’al, salah seorang pemimpin HAMAS, melepas senjata adalah kematian.

6. Sebab itu, apa pun proposal yang tidak menghasilkan kemerdekaan Palestina dan sebuah negara berdaulat, akan selalu gagal total. Perjuangan kemerdekaan masyarakat Palestina tanpa henti sejak 1918 dan sampai saat ini sudah berusia 108 tahun, cukup sebagai bukti kekuatan dan ketangguhan mereka dalam berjihad melawan kaum penjajah global. Kalau bukan pertolongan Allah, mustahil mereka bertahan, apalagi sampai ke tingkat kekuatan yang menggetarkan dunia. Hari ini diyakini kuat isyarat kemerdekaan itu sudah dekat, in syaa Allah.

7. Dunia ini perlu mengetahui bahwa Palestina itu bagian dari negeri Syam yang Allah berkahi. Sebelum Inggris dan Prancis menjajahnya, negeri Syam adalah satu. Kemudian mereka pecah belah menjadi 4 wilayah jajahan/koloni; Suriah, Lebanon, Yordania dan Palestina. Lalu tahun 1948, mereka serahkan ke kelompok mafia Zionis Yahudi. Setelah mereka dukung mati-matian sampai saat ini.

8. Lebih dari 20 hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan keutamaan negeri Syam. Di antaranya negeri yang diberkahi, bumi Allah yang terbaik, di akhir zaman Allah akan giring hamba pilihan-Nya ke sana, Yahudi akan dibantai dan dikalahkan di Palestina dan sekitarnya sebagaimana yang dialami pasukan Salibis Eropa 10 abad Silam, atau pasukan Romawi 14,5 abad lalu, menjadi pusat kemenangan umat Islam akhir zaman dalam menghadapi kekuatan 80 negara/kelompok yang berhaluan Kristen global dengan masing-masing mengirim 12,000 pasukan dalam sebuah pertempuran besar bernama Al-Malhamah yang akan terjadi di wilayah Dabiq/A’maq, terletak antara Aleppo, wilayah Suriah dengan wilayah Turki.

9. Berdasarkan 8 poin di atas, kami mengimbau para kepala negara dari negeri-negeri Muslim yang ikut bergabung dalam proyek BoP Donald Trump, termasuk Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, agar mundur/keluar segera sebelum terlambat, karena BoP itu hanya tipu daya muslihat dan penghamburan uang rakyat yang sedang ditimpa berbagai musibah. BoP tersebut hanya bertujuan melindungi penjajahan Yahudi atas Palestina yang sedang sekarat. Cepat atau lambat, penjajahan Yahudi atas Palestina pasti akan berakhir. Karena baik secara historis, realitas geopolitik saat ini dan terlebih lagi berdasarkan beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah, kehancuran Yahudi di Palestina, kekalahan kaum Nasrani global dan kemenangan umat Islam akhir zaman adalah sebuah kepastian dan tinggal menunggu waktu. Bagi Allah mudah saja. []

Baca Juga